Menteri Ketenagakerjaan Bersama Rachmat Gobel Hadiri Apel Besar PT Panasonic
Cikarang, 19 Mei 2026 — Pagi itu, langit di kawasan industri Cikarang tampak cerah. Di halaman PT Panasonic Manufacturing Indonesia, puluhan barisan karyawan berdiri tegak dalam balutan seragam rapi. Wajah-wajah mereka menunjukkan kesungguhan, bukan sekadar mengikuti rutinitas, melainkan merasakan sesuatu yang lebih, kehadiran dua tokoh nasional penting yang berdiri berdampingan.
Rachmat Gobel, tokoh industri nasional yang juga putra terbaik bangsa, dengan rendah hati mendampingi Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Prof. Yassierli, memasuki area apel. Keduanya berjalan perlahan, disambut hormat para pekerja. Momen itu bukan sekadar seremoni. Ia adalah simbol nyata bahwa hubungan industrial yang ideal antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja bisa dirawat dengan hangat, tanpa kehilangan ketegasan prinsip.
Apel Besar yang digelar 19 Mei 2026 itu memang istimewa. Bertepatan dengan Bulan Hubungan Industrial dan rangkaian 7 Dekade Gobel Membangun Negeri, kegiatan ini menjadi lebih dari sekadar upacara bulanan. Ia menjelma menjadi ruang dialog kebangsaan yang hidup.
Inspektur upacara, Djoko Wahyudi, Presiden FSPPG, memimpin jalannya apel dengan tegas. Bendera Merah Putih berkibar, Pancasila dikumandangkan, dan hening cipta mengiringi doa bagi para pahlawan. Suasana haru sekaligus semangat menyelimuti ribuan pasang mata yang menatap tiang bendera.
Namun, yang paling menyentuh adalah ketika Rachmat Gobel yang dikenal sebagai pemikir industri kerakyatan berdiri di sisi Menteri Yassierli. Bukan sebagai bangsawan industri yang jauh dari pekerja, melainkan sebagai saudara tua yang peduli. Dalam beberapa kesempatan, ia terlihat menyampaikan sesuatu dengan tenang kepada sang menteri. Bahasa tubuh mereka merekam dialog yang hangat, seorang tokoh industri yang menyuarakan hati para pekerja, dan seorang menteri yang mendengar dengan saksama.
Dalam sambutannya, Rachmat Gobel mengucapkan terima kasih kepada pemerintah atas dukungan menjaga stabilitas industri. Namun ia juga menyampaikan masukan strategis, perlunya proteksi terhadap industri dalam negeri, termasuk tindakan tegas terhadap produk ilegal yang merusak ekosistem dan membahayakan masyarakat.
“Kami tidak minta dilindungi secara berlebihan. Kami minta keadilan,” begitu kira-kira pesan moral yang mengalir dari pernyataan Rachmat Gobel.

Menaker Yassierli: Inovasi dan Perbaikan Berkelanjutan
Di sisi lain, Prof. Yassierli tidak hanya hadir sebagai pejabat. Ia turun langsung meninjau berbagai fasilitas, didampingi Daniel Suhardiman (Vice President PT Panasonic Manufacturing Indonesia). Ia mengunjungi Perpustakaan EBE.Edu yang menjadi pusat pengembangan pengetahuan, melihat pameran hubungan industrial, hingga menanam pohon sebagai simbol keberlanjutan lingkungan.
“Hubungan industrial yang harmonis harus mendorong produktivitas, bukan hanya melalui kebijakan, tetapi melalui peningkatan kompetensi SDM, adaptasi teknologi, dan budaya kerja yang responsif terhadap perubahan zaman,” tegas Yassierli di hadapan para pekerja.
Ia menyadari bahwa kehadirannya didampingi Rachmat Gobel bukan sekadar formalitas. Itu adalah pesan bahwa pemerintah dan dunia usaha bisa berjalan beriringan, dengan pekerja sebagai pusat dari semua kebijakan.
Apel besar setiap bulan yang rutin dilakukan Panasonic Gobel bukanlah sekadar tradisi. Ia adalah upaya sistematis menanamkan rasa cinta Tanah Air, disiplin, dan penghormatan terhadap pahlawan. Ditambah kehadiran Menteri Ketenagakerjaan yang didampingi Rachmat Gobel, apel itu menjelma menjadi panggung akbar harmonisasi hubungan industrial.
Di tengah zaman yang sering memisahkan antara buruh dan pemilik modal, antara pemerintah dan pengusaha, momen seperti ini membuktikan bahwa dialog dan kebersamaan masih mungkin. Bahwa membangun negeri tidak selalu harus dengan retorika keras, tetapi juga dengan keteladanan dan kebersamaan dalam mengibarkan bendera.
Kegiatan simbolis penanaman pohon yang dilakukan Menaker bersama manajemen Panasonic mungkin menjadi metafora paling tepat. Hubungan industrial yang sehat, seperti pohon, perlu ditanam dengan niat baik, disiram dengan komunikasi, dan dijaga dengan kebijakan yang adil. Rachmat Gobel, dengan pengalaman tujuh dekade keluarganya membangun negeri, memahami itu. Menteri Yassierli, dengan latar belakang akademisi dan birokrat, pun menyadari itu.
“Kita tidak sedang membangun pabrik. Kita sedang membangun peradaban kerja yang bermartabat.”