FILE PHOTO: U.S. President Donald Trump speaks in the Oval Office as he signs an executive order, at the White House in Washington, D.C., U.S., December 18, 2025. REUTERS/Evelyn Hockstein/File Photo
Donald Trump akhirnya mengakui apa yang tidak pernah ia katakan saat kampanye, Amerika tidak lagi aman.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Selasa (20/5), ia meluncurkan proyek pertahanan rudal “Golden Dome”,perisai total seharga US$175 miliar (Rp2.870 triliun) yang diklaim mampu melindungi seluruh wilayah AS dari rudal antar benua.
“Membangun sistem pertahanan rudal tercanggih,” janjinya, seperti dikutip AFP.
Tapi di balik nada besar itu, tersirat ketakutan. Ancaman nyata kini datang dari Iran, Korea Utara, Rusia, dan mungkin China. Rudal hipersonik Moskow, ICBM (Rudal antar Benua) Pyongyang yang berbahan bakar padat, serta kemajuan iran,semuanya membuat Pentagon gelisah.Rudal antar benua (ICBM) Bisa diberi Hulu Ledak Nuklir.
Yang menarik, proyek ini ditargetkan beroperasi dalam tiga tahun. Sebuah tenggat yang oleh para fisikawan disebut “hampir mustahil” mengingat teknologi pencegat berbasis luar angkasa belum matang.
Kritikus memperingatkan bahwa “Kubah Emas” bukan solusi, melainkan ilusi. Ia bisa memicu perlombaan senjata baru, bukan mengakhirinya.
Yang jelas, dengan harga Rp2.870 triliun, kubah ini bukan terbuat dari emas. Tapi dari rasa takut seorang presiden yang sadar, langit Amerika kini tak lagi sepenuhnya miliknya.