Editorial: dulwahab (jurnalis sejarah).
Pada awal abad ke-16, peta pelayaran dunia berubah drastis setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511. Didorong oleh ambisi Gold, Glory, and Gospel, para pelaut Portugis memperluas penjelajahan mereka ke arah timur Nusantara demi memonopoli jalur rempah-rempah.

Meskipun perhatian utama mahkota Portugis tertuju pada kepulauan Maluku, wilayah Semenanjung Utara Sulawesi tidak luput dari jalur navigasi mereka. Di sinilah terjalin kontak historis awal antara bangsa Portugis dan peradaban kuno di tanah Gorontalo,sebuah episode sejarah yang terekam secara samar namun berharga dalam arsip maritim Eropa dan memori kolektif masyarakat lokal.
Kehadiran Portugis di Gorontalo diperkirakan bermula pada dekade 1510-an hingga 1520-an. Dalam dokumen maritim Eropa abad ke-16, semenanjung utara Sulawesi sering digambarkan sebagai wilayah geopolitik penting yang berbatasan langsung dengan perairan strategis: Laut Sulawesi di utara dan Teluk Tomini (juga dikenal sebagai Teluk Gorontalo) di selatan. Salah satu catatan awal yang relevan dapat ditelusuri dari laporan Tomé Pires dalam karyanya Suma Oriental (1512–1515).
Pires mencatat wilayah barat dan utara Celebes (Sulawesi) sebagai wilayah yang kaya akan komoditas pangan, hasil hutan, dan memiliki pelabuhan alami yang aman bagi kapal-kapal besar yang sedang berlayar menuju Maluku atau menghindari badai muson.
Bagi para kartografer dan navigator Portugis, penyebutan “Gorontalo” mengalami distorsi fonetis. Masyarakat lokal menyebut tanah mereka Hulontalo atau Holontalo. Namun, keterbatasan lidah Eropa dalam melafalkan dialek lokal memunculkan variasi ejaan seperti Galaitalo, Garantalo, hingga akhirnya dibakukan dalam laporan-laporan kolonial abad berikutnya menjadi Gorontalo. Catatan perubahan linguistik ini secara tidak langsung membuktikan bahwa wilayah ini telah masuk ke dalam peta navigasi dunia sejak masa ekspedisi awal Portugis.
Hubungan antara Portugis dan Gorontalo tidak hanya meninggalkan jejak di atas kertas perkamen tertulis di Lisabon, melainkan juga terpahat secara fisik pada lanskap topografi Gorontalo. Bukti arkeologis paling monumental dari interaksi ini adalah Kompleks Benteng Otanaha yang berdiri kokoh di atas Bukit Dembe. Menurut struktur penulisan sejarah lisan (tula-tula) yang diwariskan turun-temurun, sebuah kapal Portugis terdampar di Teluk Tomini akibat cuaca buruk dan serangan bajak laut Mindanao (filipina selatan). Mereka meminta suaka dan izin tinggal kepada Raja Ilato, penguasa Gorontalo kala itu.
Dalam dokumen kepemimpinan tradisional, Portugis menawarkan sebuah pakta pertahanan militer, mereka bersedia membangun benteng perlindungan di perbukitan strategis untuk melindungi pelabuhan Gorontalo dari ancaman luar, khususnya bajak laut dari Mindanao. Sekitar tahun 1522 hingga 1525, selesailah pembangunan tiga struktur benteng berbahan batu kapur dan putih telur, yang kini dikenal sebagai Benteng Otanaha, Otahiya, dan Ulupahu.
Namun, sejarah mencatat bahwa kerja sama ini berujung pada konflik. Taktik perdagangan Portugis yang cenderung memonopoli dan adanya indikasi pengkhianatan politik memicu perlawanan sengit dari pihak kerajaan. Dipimpin oleh putra Raja Ilato yang bernama Naha, kerajaan Gorontalo melancarkan perang pembebasan. Portugis berhasil diusir dari semenanjung tersebut, dan kompleks benteng itu dikuasai sepenuhnya oleh kerajaan lokal, yang kemudian dinamai Otanaha,berarti “Benteng dari Naha”.
Secara historiografi, merekonstruksi catatan Portugis tentang Gorontalo menyisakan tantangan tersendiri bagi para sejarawan kontemporer.
Berbeda dengan wilayah Ternate, Tidore, atau Ambon yang laporan harian Portugisnya dipublikasikan secara ekstensif oleh misionaris Jesuit dan pejabat kolonial seperti António Galvão, catatan tentang Gorontalo cenderung bersifat sekunder dan fragmentaris. Kehadiran mereka di Teluk Tomini lebih banyak tercatat sebagai persinggahan logistik, pemetaan garis pantai, dan pos pantau militer darurat (seperti yang terindikasi pada situs runtuhan Benteng Maas) daripada sebuah kolonisasi administratif yang masif.
catatan Portugis tentang Gorontalo memberikan perspektif penting mengenai posisi strategis wilayah ini dalam konstelasi perdagangan global abad ke-16. Meskipun sumber-sumber tertulis dari arsip maritim Lisabon perlu terus digali dan diteliti lebih dalam, integrasi antara dokumen kolonial Eropa dan sejarah lisan lokal telah berhasil membentuk narasi yang utuh. Episode ini menegaskan bahwa jauh sebelum bangsa Eropa mencoba menancapkan kuku kekuasaannya, peradaban kuno Gorontalo telah memiliki kedaulatan politik dan kekuatan militer yang mampu berinteraksi sekaligus mempertahankan diri dari ambisi ekspansi bangsa Barat.
Garis Waktu & Sejarah Kerajaan-Kerajaan Kuno Gorontalo.
Sistem pemerintahan kuno di Gorontalo tergolong sangat maju dengan sistem konfederasi kekeluargaan. Berikut adalah linimasa penting pembentukan silsilah kerajaan di Gorontalo:
Tahun / Abad Peristiwa Sejarah Kuno Detail & Pengaruh
1385 Berdirinya Kerajaan Gorontalo Awal mula terbentuknya sistem persekutuan persaudaraan kerajaan yang dikenal dengan nama Pohala’a, catatan ini bisa kita lihat di beberapa kalangan adat di Suwawa.
Abad ke-15 s.d 16 Masa Lima Pohala’a (U Limo lo Pohala’a) Lima kerajaan utama di Gorontalo sepakat membentuk persekutuan untuk menjaga perdamaian dan pertahanan, yaitu: Gorontalo, Limboto, Bone Suwawa, Boalemo, dan Atinggola.
1525 Peralihan ke Kesultanan Islam Raja Amai (Raja Gorontalo) resmi memeluk Islam dan menjadikannya agama resmi kerajaan. Beliau mendapat gelar Ta Olongia Lopo Isilamu (Raja yang Mengislamkan Negeri). Sejak saat itu, corak budaya Gorontalo melekat kuat dengan hukum Islam (Adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan Kitabullah).
Akhir Abad ke-16 Era Raja Ilato & Pengusiran Portugis Pemerintahan Raja Ilato. Di era inilah terjadi gesekan taktik pertahanan pertengahan abad ke-16 dengan kedatangan kapal Portugis. Setelah Portugis diusir karena pengkhianatan dagang, putranya yang bernama Naha menemukan kembali kompleks benteng di atas perbukitan Dembe yang kemudian dinamai Otanaha (artinya: Benteng dari Naha).
1677 – 1681 Masuknya Pengaruh VOC (Belanda) Hak tata kelola perdagangan dialihkan dari Sultan Ternate ke kongsi dagang Belanda (VOC). Kontrol VOC semakin ketat setelah mereka mengincar potensi tambang emas di pegunungan Gorontalo pada tahun 1720.
Bagi Anda yang ingin melihat langsung visualisasi udara terkini serta struktur arsitektur bulat dari Benteng Otanaha yang legendaris,