Oleh : dulwahab.
Pada awal abad ke-16, ketika bangsa Eropa mulai mengarungi samudra, Nusantara telah memiliki teknologi perkapalan yang mengagumkan. Salah satu bukti kejayaan itu adalah armada raksasa yang dibangun atas perintah Pati Unus, panglima perang Kesultanan Demak yang kelak menjadi sultan kedua. Armada ini tidak hanya menjadi simbol kekuatan maritim Nusantara, tetapi juga membuat kagum sekaligus ngeri bangsa Portugis yang saat itu menjadi penguasa Malaka.
Lokasi Pembuatan : Pusat Galangan di Pesisir Utara Jawa
Pembuatan kapal-kapal Pati Unus tidak terpusat di satu tempat, melainkan tersebar di beberapa galangan strategis. Kawasan Selat Muria,selat yang memisahkan Gunung Muria dengan Pulau Jawa dan masih ada hingga abad ke-17 merupakan pusat produksi utama kapal Jung Jawa. Di sekitar selat ini terdapat kota-kota dagang seperti Demak, Jepara, Pati, dan Juwana yang menjadi pusat galangan kapal. Kapal-kapal Jung Jawa tercatat hanya diproduksi di dua tempat di Pulau Jawa, salah satunya adalah wilayah Rembang-Demak di sekitar Selat Muria.
Selain Selat Muria, galangan kapal Semarang juga menjadi lokasi penting. Sultan Fattah memerintahkan Pati Unus untuk mendampingi Raden Husen membuat kapal di galangan ini. Semarang disebut-sebut sebagai gerbang masuk Demak dan pusat produksi kapal dengan bantuan orang-orang Tionghoa lokal.
Pati Unus juga memanfaatkan jaringan antarwilayah. Ia memerintahkan pembuatan kapal dari kayu Aceh dan memperbaiki kapal tiruan dari kapal Ja’far Shodiq yang singgah di galangan Semarang. Untuk ekspedisi keduanya pada 1521, ia bahkan membangun 375 kapal perang yang langsung diambil dari Tanah Gowa, Sulawesi.
Jenis Kayu: Jati sebagai Tulang Punggung Armada
Kayu Jati menjadi bahan baku utama kapal-kapal Pati Unus. Kayu ini banyak ditemukan di Pegunungan Kendeng dan berasal dari wilayah setempat seperti Rembang, Bojonegoro, Tuban, dan Blora. Keunggulan kayu jati terletak pada kekuatan dan ketahanannya terhadap air laut, menjadikannya pilihan ideal untuk kapal perang berukuran besar.
Selain jati, Pati Unus juga menggunakan kayu Aceh untuk jenis kapal tertentu. Kayu dari Aceh kemungkinan memiliki karakteristik khusus yang sesuai untuk model kapal tertentu, mengingat Aceh juga dikenal sebagai wilayah pembuatan kapal.
Konstruksi, Ukuran, dan Keunggulan: “Benteng Apung” yang Tak Tertembus
Keunggulan utama armada Pati Unus terletak pada konstruksinya yang luar biasa. Kapal jung milik Pati Unus dibangun dengan tujuh lapis papan yang disebut lapis dalam bahasa Jawa dan Melayu. Di antara tiap papan diberi lapisan dari campuran aspal, kapur, dan minyak sebagai perekat dan anti-air.
Yang paling mencengangkan adalah tiga lapisan terluar terbuat dari logam, yang masing-masing ketebalannya lebih dari satu cruzado (koin Portugis). Akibatnya, kapal ini nyaris kebal terhadap tembakan meriam. Kapten armada Portugis, Fernão Pires de Andrade, dalam suratnya tahun 1513 mengakui: “Kami menyerangnya dengan bombardir, tetapi bahkan tembakan yang terbesar tidak menembusnya di bawah garis air… kapal itu memiliki tiga lapisan logam, yang semuanya lebih dari satu cruzado tebalnya”. Bahkan dari empat lapis papan kayu jati, hanya dua yang bisa ditembus meriam terbesar.
Ukuran kapal ini juga luar biasa. Jung milik Pati Unus adalah yang terbesar yang pernah dilihat oleh orang-orang dari daerah itu. Kapal ini mampu mengangkut 1.000 orang tentara. Dalam ekspedisi pertama tahun 1513, Pati Unus membawa sekitar 30 jung besar berbobot 350-600 ton serta kapal jenis lancaran, penjajap, dan kelulus. Total armada mencapai 100 kapal dengan sekitar 12.000 personel.
Kapal Induk Pati Unus Dari Sulawesi,Ada Kayu Ulin Kalimantan.
Kapal-kapal Pati Unus dari Sulawesi adalah bagian penting dari armada besar yang dibangun untuk ekspedisi keduanya melawan Portugis di Malaka pada tahun 1521.
Berbeda dengan ekspedisi pertama yang menggunakan kapal dari Jawa, untuk serangan kedua ini Pati Unus memesan 375 kapal perang dari Tanah Gowa, Sulawesi Selatan, dengan lokasi spesifik di Wajo, Sulawesi.
Mengapa Memilih Gowa?
Keputusan ini didorong oleh beberapa alasan kuat:
· Reputasi Kemahiran: Masyarakat Gowa dan Sulawesi Selatan telah terkenal sebagai ahli dalam pembuatan kapal perang.
· Belajar dari Kegagalan: Setelah armada pertamanya hancur pada 1513, Pati Unus melakukan evaluasi total. Membangun kapal di Gowa adalah bagian dari strategi baru untuk mendapatkan armada yang lebih besar dan lebih tangguh.
· Jaringan Nusantara: Ini menunjukkan kekuatan politik dan jaringan maritim Demak yang luas, yang mampu memobilisasi sumber daya dari berbagai wilayah Nusantara.
Kapasitas dan Jenis Kapal
Armada ini luar biasa besar dan canggih. Kapal-kapal ini dirancang untuk mengangkut pasukan dalam jumlah besar,Terbuat dari Kayu Ulin,Kayu besi. Kapal andalan Pati Unus sendiri adalah jung raksasa, disebut sebagai yang terbesar yang pernah dilihat orang pada zamannya. Kapal ini dilapisi tujuh lapis papan kayu Ulin dan mampu memuat hampir seribu orang.
Warisan yang Tak Terlupakan
Meskipun armada Pati Unus gagal menaklukkan Malaka, teknologi dan konstruksinya meninggalkan kesan mendalam. Albuquerque, gubernur Portugis di India, bahkan mempekerjakan 60 tukang kayu dan arsitek kapal Jawa dan Sulawesi dari galangan Malaka dan mengirim mereka ke India. Tomé Pires pada 1515 mencatat bahwa orang Cina percaya satu jung Jawa atau Melayu Sulawesi bisa mengalahkan 20 jung Cina.
Kapal-kapal Pati Unus adalah bukti nyata bahwa Nusantara pernah memiliki teknologi perkapalan yang tidak kalah, bahkan melampaui bangsa Eropa pada masanya. Ia adalah “benteng terapung” yang menjadi simbol kegagahan maritim Nusantara di tengah gempuran kolonialisme awal.