Oleh: dulwahab (jurnalis,Peneliti Islam)
Sejarah Nusantara sering kali diceritakan seolah-olah masyarakat kepulauan ini baru terhubung dengan dunia luar ketika bangsa-bangsa Kolonial Eropa datang pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16. Cara pandang semacam itu sesungguhnya terlalu sempit dan sangat tidak Rasional. Jauh sebelum kedatangan Portugis, Spanyol, Belanda, dan bangsa-bangsa Eropa lainnya, kepulauan Nusantara atau Aia Tenggara atau Hindia timur telah menjadi bagian dari jaringan interaksi antar Peradaban manusia yang sangat luas.
Laut bukanlah tembok yang memisahkan masyarakat kepulauan dari dunia luar. Sebaliknya, laut adalah jalan raya yang menghubungkan mereka dengan Persia, India, Tiongkok,Jazirah Arabia, Mesir,Afrika dan kawasan-kawasan lain di Samudra Hindia dan Pasifik.
Dalam perspektif antropologi sejarah, masyarakat di Nusantara dapat dipahami sebagai masyarakat maritim yang sejak masa lampau terbiasa melakukan mobilitas, pertukaran barang, pertukaran pengetahuan, perkawinan, migrasi, serta pertukaran gagasan dan kepercayaan. Jaringan tersebut tidak muncul pada abad ke-7 M ketika Islam lahir di Jazirah Arab. Ia telah terbentuk jauh sebelumnya. Bukti arkeologis mengenai masuknya barang-barang dari Persia,India,Tiongkok,Mesir ke berbagai situs Nusantara menunjukkan bahwa hubungan perdagangan dengan Asia Selatan Tenggara telah berlangsung setidaknya sejak sebelum Masehi dan awal milenium pertama Masehi. Situs-situs dan Artefak sejarah memperlihatkan adanya keterhubungan Nusantara dengan jaringan interaksi Peradaban dan perdagangan yang lebih luas.
Karena itu, ketika Islam muncul di Jazirah Arab pada abad ke-7 M, agama tersebut tidak hadir ke sebuah dunia yang tertutup dan tidak mengenal bangsa-bangsa lain. Islam muncul dalam sebuah zaman ketika jalur perdagangan Samudra Hindia telah menghubungkan Persia, Arabia, India, Mesir,Asia Tenggara, dan Tiongkok.
Penelitian mengenai perdagangan maritim Arab menunjukkan bahwa para pelaut Arab-Persia sejak abad ke-7 hingga abad-abad berikutnya aktif dalam jaringan pelabuhan Samudra Hindia dan jalur yang menghubungkan Jazirah Arab dengan pesisir India, Asia Tenggara, hingga Tiongkok.
Dengan demikian, secara historis sangat masuk akal apabila masyarakat pesisir Nusantara, termasuk para Saudagar dan elite Kerajaan kerajaan, mengetahui keberadaan dunia Islam relatif awal. Walau perlu dibedakan antara kontak dengan Islam, kehadiran individu atau komunitas Muslim, dan Islamisasi masyarakat atau kerajaan. Ketiga proses tersebut tidak berlangsung pada waktu yang sama.
Laut sebagai Jalan Raya Peradaban
Bagi masyarakat modern, laut sering dipahami sebagai ruang pemisah antarpulau. Akan tetapi, bagi masyarakat maritim masa lampau, laut justru merupakan ruang mobilitas. Pulau-pulau yang sekarang terlihat terpisah oleh laut sesungguhnya terhubung melalui pelayaran yang mengikuti angin musim, arus laut, dan jaringan pelabuhan.
Nusantara memiliki posisi geografis yang sangat istimewa. Ia terletak di antara dua kawasan peradaban besar,Samudra Hindia dan Laut Tiongkok Selatan serta Pasifik. Di sebelah barat terbentang India dan dunia Timur Tengah, sementara di sebelah timur terdapat jaringan perdagangan menuju Tiongkok dan Pasifik. Selat Malaka menjadi salah satu jalur strategis yang menghubungkan kedua dunia tersebut.
Keadaan geografis ini membuat pelabuhan-pelabuhan atau Bandar bandar di Nusantara tidak sekadar menjadi tempat kapal berlabuh. Pelabuhan adalah ruang pertemuan manusia. Di sana bertemu pedagang, pelaut, penguasa, penerjemah, pemuka agama, pekerja, pendatang, dan masyarakat lokal.
Barang-barang yang dipertukarkan memang penting,rempah-rempah, kapur barus, emas, hasil hutan, kain, keramik, logam, dan berbagai komoditas lainnya. Tetapi yang bergerak bersama barang-barang tersebut adalah sesuatu yang jauh lebih penting: informasi dan kebudayaan.
Pedagang membawa bahasa. Pelaut membawa pengetahuan navigasi. Ulama membawa ajaran agama. Pendatang membawa kebiasaan makan, pakaian, sistem perkawinan, teknologi, dan gagasan mengenai pemerintahan. Karena itu, perdagangan tidak dapat dipisahkan dari proses perubahan kebudayaan.
Penelitian mutakhir mengenai perdagangan dan pertukaran agama di Asia Selatan dan Asia Tenggara bahkan menekankan hubungan erat antara jaringan perdagangan, kelompok pedagang, pelabuhan, dan penyebaran agama dalam dunia Samudra Hindia.
Dengan kata lain, laut bukan hanya jalur ekonomi, tetapi juga jalur antropologis.
Nusantara dan Persia-India, Hubungan yang Sangat Tua
Di antara berbagai kawasan yang memiliki hubungan erat dengan Nusantara, Persia-India merupakan salah satu yang paling penting.
Hubungan Nusantara dengan Persia- India telah berlangsung jauh sebelum Islam. Temuan arkeologis berupa barang-barang dari Persia- India di berbagai situs Nusantara menunjukkan bahwa hubungan tersebut bukan sekadar hubungan sesekali, melainkan bagian dari jaringan perdagangan yang lebih luas.
Hubungan dengan Persia- India kemudian menghasilkan pengaruh yang jauh lebih besar daripada sekadar perdagangan.
Agama orang orang Arya seperti Hindu dan Buddha masuk dan berkembang di berbagai wilayah Asia Tenggara melalui proses panjang interaksi dengan Asia Selatan.
Namun, penting untuk memahami bahwa proses tersebut bukan sekadar “Persia-India menaklukkan Nusantara”. Masyarakat Nusantara bukan penerima pasif kebudayaan asing. Mereka memilih, menyesuaikan, menggabungkan, dan mengembangkan unsur-unsur yang datang dari luar sesuai dengan kebutuhan masyarakat mereka sendiri.
Karena itu, lahirlah bentuk-bentuk kebudayaan yang khas Nusantara. Agama-agama yang berasal dari Persia-India (Orang Arya) mengalami proses lokalisasi. Konsep politik, kesenian, sastra, dan keagamaan dari India berinteraksi dengan tradisi lokal Austronesia dan menghasilkan kebudayaan baru.
Pengalaman sejarah tersebut menjadi sangat penting ketika Islam kemudian datang.
Masyarakat Nusantara sudah memiliki pengalaman menerima gagasan dan kebudayaan dari luar melalui jaringan maritim. Mereka sudah terbiasa melihat bahwa dunia di luar kepulauan mereka bukan sesuatu yang asing sepenuhnya.
Nusantara dan Tiongkok: Jaringan di Sebelah Timur
Di sisi lain, Tiongkok menjadi salah satu pusat ekonomi dan peradaban terpenting yang terhubung dengan Asia Tenggara.
Hubungan Tiongkok dengan Nusantara berlangsung selama berabad-abad. Catatan dan temuan arkeologis memperlihatkan adanya aktivitas perdagangan antara kedua kawasan. Keramik Tiongkok ditemukan di berbagai situs Nusantara, termasuk di situs-situs yang berkaitan dengan komunitas Muslim pada masa kemudian.
Hubungan tersebut menunjukkan bahwa Nusantara berada di tengah jaringan perdagangan yang sangat luas.
Salah satu bukti menarik adalah Belitung shipwreck, kapal karam yang ditemukan di dekat Pulau Belitung dan membawa puluhan ribu benda keramik dari masa Dinasti Tang. Temuan tersebut memperlihatkan skala perdagangan maritim yang menghubungkan Tiongkok dengan dunia barat melalui jalur laut. Kapal tersebut bahkan memiliki karakteristik yang berkaitan dengan tradisi pembuatan kapal di kawasan Samudra Hindia.
Temuan semacam ini mengubah cara kita membayangkan dunia abad pertengahan awal. Dunia tersebut bukan kumpulan masyarakat yang hidup sendiri-sendiri. Sebaliknya, terdapat jaringan perdagangan yang memungkinkan barang-barang dari Tiongkok bergerak jauh ke barat, sementara barang-barang dari dunia barat bergerak menuju Asia Timur.
Di tengah jaringan tersebut, kepulauan Nusantara memiliki posisi yang sangat penting.
Persia, Arabia, dan Dunia Samudra Hindia
Hubungan dengan dunia Persia dan Arabia juga memiliki akar yang panjang.
Sebelum Islam, pedagang dari wilayah barat Samudra Hindia telah mengenal jalur menuju India dan Asia Tenggara. Setelah Islam muncul pada abad ke-7 M, jaringan perdagangan tersebut tidak tiba-tiba berhenti. Sebaliknya, para pedagang Muslim kemudian menjadi bagian dari jaringan maritim yang telah ada.
Di sinilah pentingnya memahami Islamisasi Nusantara melalui perspektif jaringan.
Islam memang lahir di Jazirah Arab. Tetapi penyebarannya ke berbagai wilayah Asia tidak berarti seluruh masyarakat di wilayah tersebut didatangi secara langsung oleh orang-orang Arab dari pusat kekuasaan Islam. Islam bergerak melalui jaringan manusia, pedagang, pelaut, pendatang, ulama, dan kemudian komunitas Muslim yang menetap di pelabuhan.
Penelitian mengenai perdagangan Arab di Samudra Hindia menunjukkan bahwa sejak abad ke-7 M para pelaut Arab-Persia menjadi salah satu unsur penting dalam perdagangan maritim yang menghubungkan Arabia dengan India, Asia Tenggara, dan Tiongkok.
Maka, secara geografis, Nusantara berada di salah satu jalur yang memungkinkan informasi mengenai Islam bergerak ke timur.
Ketika Islam Muncul pada Abad ke-7 M
Islam muncul di Jazirah Arab pada abad ke-7 M, dalam konteks dunia yang telah memiliki hubungan perdagangan lintas wilayah.
Ini merupakan titik penting dalam sejarah.
Bayangkan seorang pedagang dari Arabia berlayar menuju India. Dari India ia dapat melanjutkan perjalanan menuju kawasan Selat Malaka dan pelabuhan-pelabuhan Asia Tenggara, kemudian menuju Tiongkok.
Ia tidak hanya membawa barang dagangan.
Ia membawa identitas sebagai seorang Muslim.
Ia membawa bahasa Arab.
Ia membawa cara beribadah.
Ia membawa gagasan tentang Tuhan.
Ia membawa hukum dan etika perdagangan.
Ia membawa cerita tentang kota-kota dan masyarakat yang telah mengenal Islam.
Dan yang tidak kalah penting, ia berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat.
Dalam perspektif antropologi, interaksi semacam itu sangat penting. Sebuah agama tidak menyebar hanya melalui teks. Agama juga menyebar melalui hubungan manusia dengan manusia.
Pedagang yang menetap menikah dengan penduduk lokal. Anak-anak mereka tumbuh dalam dua lingkungan budaya. Komunitas baru terbentuk di sekitar pelabuhan. Dari komunitas tersebut kemudian dapat muncul tokoh agama, pemimpin lokal, dan jaringan sosial yang lebih luas.
Dengan demikian, proses Islamisasi tidak harus dipahami sebagai satu peristiwa “kedatangan”. Ia lebih tepat dipahami sebagai proses interaksi yang berlangsung bertahap.
Apakah Ini Berarti Islam Sudah Ada di Nusantara Tahun 600-an?
Ada tradisi historiografi yang menyebut keberadaan komunitas Muslim di Barus pada sekitar abad ke-7 M. Buya Hamka menyebutkan mengenai sebuah perkampungan Islam di pesisir Sumatra Barat sekitar tahun 625 M.
Jika benar telah ada komunitas Muslim di Barus atau wilayah Sumatra lainnya pada abad ke-7, maka yang dapat kita simpulkan adalah bahwa kontak antara dunia Islam dan Nusantara mungkin telah terjadi sangat awal.
Namun, kehadiran beberapa pedagang atau komunitas Muslim tidak sama dengan masyarakat lokal secara keseluruhan telah memeluk Islam.
Hal yang sama berlaku untuk bukti-bukti Islam awal di Jawa. Makam Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik, bertanggal 475 H/1082 M, merupakan salah satu bukti material penting mengenai kehadiran Muslim di Jawa. Tetapi tahun 1082 M juga tidak berarti Jawa pada saat itu sudah menjadi masyarakat Islam.
Dengan demikian, sejarah Islam Nusantara perlu dibaca sebagai proses bertahap.
kontak → komunitas → interaksi → perkawinan → penerimaan elite → institusionalisasi → kerajaan Islam → Islamisasi masyarakat yang lebih luas.
Mengapa Para Elite Kerajaan Bisa Mengenal Islam dengan Cepat?
Pertanyaan ini sangat menarik jika dilihat dari antropologi politik.
Kita tidak boleh membayangkan raja-raja Nusantara sebagai penguasa yang hidup terisolasi di pedalaman dan hanya mengetahui wilayah kerajaannya sendiri.
Kerajaan-kerajaan maritim memiliki kepentingan terhadap perdagangan internasional. Para penguasa bergantung pada pelabuhan, pajak perdagangan, hubungan dengan pedagang asing, dan arus barang dari berbagai wilayah.
Karena itu, elite kerajaan memiliki akses terhadap informasi internasional.
Mereka dapat mengetahui bahwa di sebelah barat terdapat kerajaan-kerajaan besar. Mereka mengetahui jalur perdagangan. Mereka mengenal bahasa dan kebiasaan pedagang asing. Mereka juga dapat mengetahui agama yang dianut oleh kelompok-kelompok pedagang tersebut.
para penguasa dan elite kerajaan yang telah lama terlibat dalam perdagangan internasional bukanlah kelompok yang terisolasi, mereka berada dalam posisi strategis untuk mengenal informasi, ideologi, dan agama dari dunia luar.
Oleh karena itu, ketika Islam hadir melalui jaringan Spiritualis, Politik dan perdagangan, Islam bukanlah sebuah konsep yang sama sekali tidak dikenal oleh elite pelabuhan Nusantara.Mereka telah telah berinteraksi dengan Persia-india dan Arabia.,Mereka telah berinteraksi dengan pedagang Muslim.Mereka telah melihat praktik ibadah Muslim.
Dan dalam kondisi tertentu, mereka dapat melihat bahwa menjadi Muslim mempunyai konsekuensi politik dan ekonomi yang menarik selain persoalan Spiritual .
Islam dan Jaringan Perdagangan,Agama Bertemu Ekonomi
Salah satu kekuatan penting dalam proses Islamisasi adalah bahwa perdagangan dan agama tidak selalu berjalan sebagai dua dunia yang terpisah.
Pedagang Muslim membawa agamanya ke dalam aktivitas ekonomi.
Kepercayaan, etika, jaringan sosial, dan reputasi menjadi bagian dari hubungan dagang.
Seorang pedagang yang menetap di pelabuhan dapat membentuk komunitas. Komunitas tersebut dapat memiliki tempat ibadah. Hubungan dengan penduduk setempat kemudian berkembang melalui perdagangan dan perkawinan.
Dalam jangka panjang, komunitas Muslim dapat menjadi bagian dari struktur masyarakat lokal.
Di sinilah perdagangan berfungsi sebagai jembatan sosial.
Perdagangan tidak otomatis membuat seseorang masuk Islam. Tetapi perdagangan menciptakan ruang interaksi yang intensif, dan ruang interaksi tersebut memungkinkan agama dikenal, dipelajari, diperdebatkan, dan akhirnya diterima oleh sebagian masyarakat.
Karena itu, pernyataan bahwa Islam “dibawa oleh pedagang” perlu dipahami sebagai awal dari proses yang jauh lebih kompleks.
Pedagang adalah salah satu agen. Selain mereka, terdapat ulama, keluarga, perkawinan, komunitas diaspora, penguasa lokal, dan jaringan intelektual.
Dari Saydagar Menjadi Elite, dari Elite Menjadi Kerajaan
Ketika sebagian elite lokal menerima Islam, perubahan yang terjadi dapat menjadi jauh lebih besar.
Seorang penguasa yang masuk Islam tidak hanya mengubah keyakinan pribadinya. Ia dapat mengubah simbol kerajaan, hubungan diplomatik, identitas politik, dan hubungan dengan jaringan perdagangan Muslim.
Inilah salah satu mekanisme penting yang kemudian terlihat dalam perkembangan kesultanan-kesultanan di Asia Tenggara.
Proses tersebut tidak selalu berarti seluruh rakyat langsung memeluk Islam.
Sering kali terjadi pluralitas agama dalam waktu yang panjang. Masyarakat dapat mempertahankan tradisi lama sementara elite politik mulai menggunakan identitas Islam.
Dari perspektif antropologi, perubahan agama seperti ini merupakan proses negosiasi identitas.
Tradisi lama tidak selalu hilang.Sebagian diadaptasi.Sebagian diberi makna baru.Sebagian dipertahankan.Sebagian lainnya secara perlahan ditinggalkan.
Karena itu, Islamisasi Nusantara menghasilkan bentuk Islam yang memiliki karakter lokal yang sangat kuat.
Dari Sumatra Menuju Jawa
Jaringan perdagangan yang sama kemudian menghubungkan Sumatra dengan Jawa.
Wilayah Sumatra memiliki posisi strategis karena berada di sekitar jalur Selat Malaka dan Samudra Hindia. Sementara Jawa berada di jalur yang menghubungkan Sumatra, kepulauan rempah, dan kawasan perdagangan Asia Timur.
Pelabuhan-pelabuhan Jawa kemudian menjadi pusat interaksi antara pedagang dari berbagai wilayah.
Di sinilah sejarah Islam mulai berhubungan langsung dengan sejarah politik Jawa.
Islam yang pada tahap awal hadir sebagai bagian dari jaringan perdagangan kemudian berkembang menjadi agama komunitas, kemudian memperoleh pendukung dari elite politik, dan akhirnya menjadi dasar bagi munculnya kekuatan politik Islam.
Proses panjang inilah yang pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16 menghasilkan perkembangan Demak sebagai salah satu kekuatan politik Islam penting di Jawa.
Demak Bukan Titik Awal Islam di Jawa
Dengan kerangka ini, Demak seharusnya tidak dipandang sebagai tempat pertama Islam masuk ke Jawa.
Demak adalah hasil dari proses yang jauh lebih panjang.
Bukti material seperti makam Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik, yang bertanggal 1082 M menunjukkan bahwa komunitas Muslim telah hadir di Jawa jauh sebelum berdirinya Demak.
Dengan demikian, terdapat jarak waktu beberapa abad antara bukti awal komunitas Muslim di Jawa dan munculnya Demak sebagai kekuatan politik.
Ini berarti Demak dapat dipahami sebagai transformasi Islam dari kekuatan sosial-keagamaan menjadi kekuatan politik.
Demak muncul pada saat jaringan perdagangan pesisir Jawa semakin kuat dan pada saat struktur politik lama Jawa, khususnya Majapahit, mengalami perubahan besar.
Karena itu, hubungan antara Islam, perdagangan, dan perubahan politik harus dipahami sebagai satu rangkaian.
Laut Membentuk Cara Orang Nusantara Melihat Dunia
Dari sudut pandang antropologi, ada sesuatu yang lebih mendalam daripada sekadar pertukaran barang.
Mobilitas melalui laut membentuk kesadaran tentang dunia.
Seorang pelaut Nusantara yang berlayar jauh akan bertemu dengan manusia yang berbicara bahasa berbeda, memiliki adat berbeda, berpakaian berbeda, dan mempraktikkan agama berbeda.
Pengalaman semacam itu membuat masyarakat maritim memiliki wawasan yang berbeda dari masyarakat yang sepenuhnya terisolasi.
Masyarakat Nusantara bukan hanya menerima pengaruh. Mereka juga mengirimkan pengaruh.
Teknologi pelayaran Nusantara merupakan salah satu bukti penting mengenai kemampuan masyarakat kepulauan ini menguasai laut. Relief kapal pada Borobudur menunjukkan tradisi teknologi maritim yang berkembang pada masa Jawa kuno.
Bahkan penyebaran kelompok penutur bahasa Austronesia hingga Madagaskar menunjukkan bahwa mobilitas masyarakat kepulauan Asia Tenggara jauh lebih luas daripada gambaran sederhana tentang masyarakat yang hanya hidup di pulau masing-masing.
Dengan demikian, masyarakat Nusantara bukan “penerima pasif” sejarah dunia.
Mereka adalah pelaku sejarah dunia maritim.
Islam Datang ke Dunia yang Sudah Terhubung
Ketika Islam lahir pada abad ke-7 M, ia tidak masuk ke dunia yang kosong.
Ia masuk ke dunia yang telah mempunyai:
* jalur perdagangan,
* jaringan pelabuhan,
* komunitas pedagang,
* teknologi pelayaran,
* hubungan diplomatik,
* migrasi antarpulau,
* hubungan dengan India,
* hubungan dengan Tiongkok,
* hubungan dengan Arabia dan Persia,
* serta tradisi panjang pertukaran agama dan kebudayaan.
Karena itu, Islam dapat bergerak melalui jaringan yang sudah ada.
Para pedagang Muslim tidak perlu menciptakan jalur baru dari nol. Mereka memasuki jaringan perdagangan Samudra Hindia yang telah berkembang sebelumnya.
Penelitian mengenai perdagangan Arab-Persia pada abad ke-7 hingga ke-15 memperlihatkan bahwa jalur Arabia–Tiongkok menjadikan kawasan Asia Tenggara sebagai bagian penting dari perjalanan maritim tersebut.
Dengan perspektif ini, Islamisasi Nusantara dapat dilihat sebagai bagian dari sejarah global Samudra Hindia, bukan sebagai sejarah yang berdiri sendiri.
Meskipun hubungan awal mungkin telah berlangsung sejak abad ke-7, Islamisasi Nusantara memerlukan waktu yang sangat panjang.
Ini adalah hal yang sering hilang dalam narasi populer.
Tidak ada satu kapal yang datang membawa Islam dan kemudian seluruh Nusantara menjadi Muslim.
Tidak ada satu tahun tunggal yang dapat disebut sebagai “tahun Islam masuk Nusantara” dalam arti seluruh masyarakat mulai memeluk Islam.
Yang ada adalah proses yang berlangsung selama berabad-abad.Pada suatu masa terdapat pedagang Muslim.Kemudian terbentuk komunitas.Kemudian muncul perkawinan.Kemudian terdapat makam-makam Muslim.Kemudian muncul tokoh-tokoh lokal Muslim.Kemudian penguasa menerima Islam.Kemudian muncul kesultanan.Kemudian Islam berkembang lebih luas ke masyarakat.
Dan seluruh proses tersebut berlangsung tidak seragam di setiap daerah.Sumatra memiliki jalannya sendiri.Jawa memiliki jalannya sendiri.Kalimantan memiliki jalannya sendiri.Sulawesi memiliki jalannya sendiri.Maluku memiliki jalannya sendiri.
Karena itu, sejarah Islam di Nusantara sesungguhnya merupakan sejarah dari banyak proses Islamisasi yang saling terhubung.
Nusantara sebagai Bagian dari Dunia.
sejarah masuknya Islam ke Nusantara harus ditempatkan dalam sejarah interaksi manusia yang jauh lebih panjang.
Sebelum Islam muncul, masyarakat Nusantara telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan maritim yang menghubungkan Asia Selatan, Asia Timur, dan dunia barat. Hubungan dengan India, Tiongkok, Persia, Arabia, dan kawasan Samudra Hindia serta Pasifik bukanlah fenomena yang baru muncul setelah kedatangan Islam. Jaringan tersebut telah terbentuk melalui aktivitas pelayaran, perdagangan, migrasi, dan pertukaran kebudayaan selama berabad-abad.
Ketika Islam muncul di Jazirah Arab pada abad ke-7 M, agama tersebut memasuki dunia yang sudah saling terhubung. Pedagang dan pelaut Muslim kemudian menjadi bagian dari jaringan tersebut. Melalui pelabuhan, perdagangan, migrasi, perkawinan, dan hubungan sosial, pengetahuan mengenai Islam dapat bergerak ke kawasan Asia Tenggara.
Karena itu, sangat masuk akal apabila masyarakat pesisir Nusantara dan terutama elite kerajaan yang memiliki hubungan erat dengan perdagangan internasional mengetahui keberadaan Islam relatif awal. Mereka tidak hidup dalam keterasingan. Mereka adalah bagian dari jaringan dunia yang memungkinkan berita, barang, teknologi, gagasan, dan agama bergerak melintasi laut.
Namun, pengenalan terhadap Islam tidak sama dengan Islamisasi. Kehadiran Muslim tidak sama dengan seluruh masyarakat menjadi Muslim. Dan masuknya Islam tidak sama dengan langsung munculnya kerajaan Islam.
Prosesnya berlangsung bertahap.
Laut menciptakan hubungan.
Perdagangan menciptakan perjumpaan.
Perjumpaan menciptakan pertukaran.
Pertukaran membuka jalan bagi agama, gagasan, dan kebudayaan.
Kemudian, dalam perjalanan sejarah yang panjang, sebagian masyarakat dan elite Nusantara menerima Islam dan mengembangkannya dalam konteks kebudayaan mereka sendiri.
Dari sinilah kemudian muncul berbagai pusat Islam di Nusantara, termasuk Barus, Samudra Pasai, Malaka, Demak,Banjar, Aceh, Ternate, Tidore, Gowa-Tallo, dan berbagai kesultanan lainnya.
Dengan demikian, munculnya Islam di Nusantara bukanlah kisah tentang suatu agama asing yang tiba-tiba datang ke sebuah kepulauan yang terisolasi. Ia lebih tepat dipahami sebagai bagian dari sejarah panjang perjumpaan Nusantara dengan dunia internasional.
Nusantara telah lama berada di laut.Dan melalui laut itulah Nusantara mengenal dunia.
Ketika Islam muncul, dunia Islam menjadi salah satu jaringan baru yang kemudian masuk dan berinteraksi dengan jaringan lama tersebut.
Karena itu, sejarah Islam Nusantara pada hakikatnya adalah sejarah pertemuan peradaban, Arabia dan Nusantara, Persia dan Nusantara, India dan Nusantara, Tiongkok dan Nusantara, serta berbagai masyarakat Asia Tenggara yang sejak dahulu menjadikan laut bukan sebagai batas, melainkan sebagai jembatan.
Dalam perspektif antropologi sejarah, mungkin inilah cara yang paling tepat untuk memahami Islamisasi di Nusantara bukan sebagai satu peristiwa kedatangan, melainkan sebagai proses panjang perjumpaan manusia dalam sebuah dunia maritim yang telah terhubung jauh sebelum Islam lahir.