Opini publik: dulwahab.
Dalam tatanan ekonomi global yang didominasi Dolar AS, pelemahan nilai tukar biasanya menjadi ukuran utama penderitaan ekonomi. Namun Iran dan Indonesia menghadirkan paradoks: Rial Iran jatuh hingga 1,3 juta per Dolar, tapi rakyatnya tidak merasakan berat. Rupiah hanya melemah ke Rp18.000, tapi beban yang ditanggung masyarakat Indonesia jauh lebih nyata.
Perbedaan ini tidak bisa dijelaskan semata oleh kebijakan fiskal. Ia adalah cerminan dari pilihan geopolitik, sistem pertahanan ekonomi, dan sejauh mana sebuah negara mampu memisahkan rakyatnya dari guncangan pasar global.
Iran,Ekonomi Perang yang Terlindungi
Iran hidup dalam status economy under siege selama lebih dari empat dekade. Sanksi AS yang sistematis—terutama pemutusan akses ke SWIFT memaksa Iran membangun dua benteng pertahanan:
Pertama, sistem kurs ganda. Negara menyediakan Dolar dengan kurs resmi 42.000 IRR hanya untuk impor pangan, obat, dan bahan baku industri. Sementara kurs pasar gelap dibiarkan melambung untuk barang mewah dan transaksi spekulatif. Dengan cara ini, biaya hidup dasar rakyat dikunci, meskipun ekonomi nasional sedang tercekik.
Kedua, sistem barter skala nasional. Karena tidak bisa menggunakan Dolar atau Euro, Iran mengaktifkan kembali mekanisme perdagangan kuno yang justru menjadi senjata ampuh: barter. Iran menukar minyak, gas, dan tembaga dengan mobil dari China, teh dari Sri Lanka, dan beras dari Pakistan. Transaksi ini tidak pernah menyentuh sistem perbankan Barat, sehingga kebal terhadap sanksi.
Hasilnya,rakyat Iran tetap bisa membeli roti murah dan mengisi bensin dengan harga Rp2.000 per liter. Mereka tidak perlu membeli Dolar di pasar gelap untuk kebutuhan sehari-hari. Negara menjadi buffer zone yang menyerap seluruh goncangan eksternal. Pahit? Iya. Tapi perut tetap kenyang.
Indonesia,Ekonomi Terbuka Tanpa Perisai
Sebaliknya, Indonesia memilih atau terpaksa menjalankan ekonomi yang sangat terintegrasi dengan globalisasi. Tidak ada kurs ganda. Tidak ada subsidi energi penuh. Tidak ada mekanisme barter negara. Dan yang paling krusial: tidak ada pemisahan antara harga global dan harga domestik.
Ketika Dolar menguat, Indonesia tidak bisa “bersembunyi”. Harga BBM naik karena impor. Harga pupuk naik karena impor. Harga kedelai, gandum, dan bahan baku obat ikut naik. Rantai pasok global langsung menyambungkan inflasi dunia ke dapur rumah tangga Indonesia.
Lebih parah lagi, Indonesia memiliki utang luar negeri besar dalam Dolar. Setiap pelemahan Rupiah otomatis memperbesar beban fiskal negara, yang pada akhirnya mengurangi ruang untuk subsidi dan perlindungan sosial.
Inilah ironi geopolitik Indonesia yang tidak terkena sanksi justru lebih rentan daripada Iran yang terkepung.
Geopolitik Barter: Senjata Ekonomi Negara Terisolasi
Sistem barter yang dihidupkan Iran bukanlah nostalgia ekonomi, melainkan strategi geopolitik cerdas. Ia menciptakan lingkaran perdagangan alternatif yang melibatkan China, Rusia, Pakistan, Sri Lanka, dan Venezuela,negara-negara yang juga memiliki ketidakpuasan terhadap hegemoni Dolar.
Dengan barter, Iran,
· Menghindari sanksi perbankan tanpa harus melanggar hukum internasional secara teknis
· Menciptakan ketergantungan timbal balik dengan mitra dagangnya
· Mengurangi permintaan Dolar di dalam negeri
· Mempertahankan arus barang esensial meskipun pendapatan negara turun
Ini bukan solusi ideal. Barter inefisien, rawan korupsi, dan sulit diskalakan. Tapi bagi negara yang dikejar sanksi, ia adalah life raft yang menyelamatkan jutaan nyawa dari kelaparan ekonomi.
Perbandingan Iran-Indonesia menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi tidak ditentukan oleh kekuatan nilai tukar, tetapi oleh sejauh mana negara mampu mendesain sistem yang melindungi rakyat dari guncangan eksternal.
Iran yang tersanksi bisa tidur lebih nyenyak daripada Indonesia yang lebih kaya dan lebih terbuka, karena Iran membangun firewall antara pasar global dan kebutuhan dasar rakyat. Indonesia, sebaliknya, membiarkan pasar global masuk tanpa filter ke setiap sendi kehidupan warganya.
Dalam dunia yang semakin tidak stabil dan tidak Adil dengan perang dagang, fragmentasi geopolitik, dan senjatisasi Dolar setiap negara harus bertanya,Apakah kita hanya akan menjadi penumpang setia globalisasi yang pasrah pada setiap guncangan Dolar? Atau kita mulai membangun buffer zones ekonomi kita sendiri?
Iran telah memilih jalannya,pahit, isolatif, tapi rakyatnya tetap bisa makan. Indonesia masih mencari jalannya. Dan sementara itu, setiap kali Dolar naik, rakyat Indonesia membayar harganya dengan tangisan di pasar.
Pelemahan Rupiah yang ringan secara angka terasa berat secara sosial karena Indonesia memilih pasar bebas tanpa perisai. Iran, dengan sistem barter dan kurs ganda, berhasil memutus rantai antara guncangan global dan kebutuhan pokok rakyat. Dalam pertarungan geopolitik Dolar, ketahanan bukan milik negara yang ekonominya kuat, melainkan milik negara yang paling cerdas melindungi warganya dari badai.