Oleh: dulwahab, (praktisi ekowisata Gorontalo,Jurnalis)
Sejak dekade 1990-an, nama Teluk Tomini di perairan Gorontalo tidak pernah sepi dari derap langkah wisatawan. Kawasan yang membentang di jantung Sulawesi ini telah menjelma menjadi primadona wisata bahari andalan Indonesia. Dengan pesona menyelam (diving) yang memukau, hamparan terumbu karang untuk snorkeling, hingga petualangan menyusuri hutan tropis melalui jungle trekking, Teluk Tomini menawarkan paket liburan yang sempurna bagi para pencinta alam.

Keindahan bawah lautnya memang tak terbantahkan. Ratusan pulau kecil menghiasi teluk ini seperti di pulau Una Una,Togian,Boalemo,Pohuwato,Batudaa Pantai menjadi tempat persinggahan bagi beraneka jenis ikan tropis dan ekosistem terumbu karang yang masih perawan. Namun, daya tarik utama yang membuat banyak wisatawan asing rela menempuh perjalanan jauh adalah keberadaan Spot Diving di Pulau Una-Una yg banyak ikan dan spot hiu paus (whale shark) di Pantai batubarani. Jarak pulau Una Una ke Marisa Gorontalo jika cuaca normal sekitar 2 jam naik speedboat,cukup dekat,sehingga wajar para turis sering menyebrang dengan speedboat di rute ini.
Melonjaknya jumlah wisatawan mancanegara yang datang seharusnya menjadi berkah bagi perekonomian lokal. Namun, di balik gemerlapnya keindahan alam, tersimpan masalah pelik yang mengancam kenyamanan dan keselamatan, yaitu krisis transportasi wisata. Banyaknya turis yang datang membuat kebutuhan akan moda transportasi yang layak, aman, dan profesional menjadi sebuah keniscayaan yang mendesak. Sayangnya, hingga saat ini, fasilitas transportasi yang tersedia di area teluk Tomini ini masih jauh dari kata memadai. Kondisi kapal yang kurang terawat, minimnya peralatan keselamatan, hingga rute yang tidak pasti seringkali membuat jadwal liburan turis molor, bahkan terpaksa mencari alternatif liar agar tujuan mereka tercapai sesuai dengan jadwal liburannya.
Akibat dari fasilitas yang tidak profesional dan kurang layak ini, beberapa kecelakaan perjalanan wisata telah terjadi. Insiden-insiden tersebut bukan hanya merenggut nyawa, tetapi juga mencoreng nama baik pariwisata indonesia di mata dunia. Citra sebagai destinasi kelas dunia akan runtuh jika keselamatan tidak lagi menjadi prioritas.
Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah pusat memberikan perhatian serius terhadap infrastruktur transportasi wisata di Teluk Tomini. Perbaikan dermaga, penyediaan kapal cepat bersertifikat, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia pengelola jasa angkutan wisata harus segera direalisasikan. Jangan biarkan kecelakaan terus berulang hanya karena kelalaian dalam penyediaan fasilitas publik. Ingatlah, wisatawan mancanegara maupun nasional adalah penyumbang devisa negara yang vital. Kehilangan kepercayaan mereka sama saja dengan mengeringkan salah satu sumber pendapatan bangsa.
Selamatkan Teluk Tomini dengan transportasi wisata yang aman, agar keindahannya tetap abadi dinikmati oleh generasi mendatang dan Masyarakat Dunia.