Editorial: dulwahab
GORONTALO — Ada semangat yang berbeda di udara Gorontalo akhir Juni ini. Bukan sekadar euforia tuan rumah, melainkan denyut optimisme yang merambat dari para petani yang menggenggam cangkul, nelayan yang melaut di Teluk Tomini, hingga ibu-ibu rumah tangga yang berbelanja di pasar tradisional. Sebab, sejak 25 Juni 2026, Provinsi Gorontalo resmi menjelma menjadi panggung utama sektor pertanian dan perikanan nasional melalui Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan ke-XVI.
Sebuah pertanyaan besar menggantung: apakah Gorontalo hanya sekadar tuan rumah seremonial, atau benar-benar sedang menulis babak baru sebagai lumbung pangan nasional?
Dari Sawah, Laut, dan Meja Makan Indonesia
Sektor pertanian, perikanan, dan pangan adalah tiga serangkai yang tak terpisahkan. Pertanian menyediakan bahan pangan pokok. Perikanan menyuplai protein hewani yang murah dan terjangkau. Pangan adalah simpul akhir yang menentukan apakah sebuah bangsa mampu berdiri di atas kakinya sendiri, atau terus bergantung pada gandum dan kedelai impor.
Di sinilah PENAS 2026 di Gorontalo mengambil peran strategis. Provinsi yang dikenal dengan jagung dan kelautannya ini sedang menunjukkan bahwa ia bukan sekadar pemasok komoditas, melainkan laboratorium hidup bagi terwujudnya kemandirian pangan nasional. Tiga hari pelaksanaan acara—yang berlangsung meriah dan tertib—telah membuktikan bahwa Gorontalo siap menjadi poros baru ketahanan pangan Indonesia.
Berdasarkan pantauan jurnalis himpunan di lokasi, gelaran PENAS 2026 diikuti oleh ribuan peserta dari 34 provinsi. Stand pameran memamerkan inovasi, mulai dari bibit unggul jagung tahan kekeringan, teknologi budidaya ikan kerapu berbasis keramba jaring apung, hingga olahan pangan lokal yang siap bersaing di pasar ekspor. Ini bukan pameran biasa; ini adalah deklarasi kemampuan.
Pertanian: Menabur Inovasi, Menuai Kedaulatan
Salah satu narasi besar yang mengemuka dalam diskusi-diskusi di PENAS 2026 adalah transformasi pertanian tradisional menuju pertanian modern berbasis agroekologi. Gorontalo, dengan luas lahan pertanian mencapai lebih dari 150 ribu hektare, memiliki potensi besar untuk menjadi sentra produksi Kakao, jagung, padi dan Tanaman Holtikultura lainnya di kawasan Sulawesi.
Yang menarik, semangat yang terpancar dari para petani muda Gorontalo tidak lagi sekadar “menanam untuk makan”, tetapi “menanam untuk menguasai pasar”. Mereka berbicara tentang pupuk organik, irigasi tetes, hingga pemanfaatan drone untuk pemetaan lahan. Ini adalah pergeseran paradigma yang selama ini kita nantikan.
“Petani sekarang harus menjadi pengusaha. Lahan adalah modal, ilmu adalah senjata, dan pasar adalah medan juang,” ujar salah satu peserta dari Kabupaten Gorontalo yang ditemui di sela acara.
PENAS 2026 menjadi ruang bagi mereka untuk bertukar pengalaman, mengakses permodalan, dan menjalin kemitraan dengan industri. Jika ini terus berlanjut, bukan mimpi jika Gorontalo menyumbang porsi signifikan terhadap stok pangan nasional dalam lima tahun ke depan.
Perikanan: Kekayaan Bawah Laut yang Tak Terbendung
Gorontalo juga dikenal sebagai provinsi kepulauan dengan garis pantai sepanjang lebih dari 1.000 kilometer. Perairan Teluk Tomini dan Laut Sulawesi menyimpan kekayaan hayati laut yang luar biasa. Ikan cakalang, tuna, kerapu, hingga rumput laut menjadi komoditas andalan yang selama ini dikirim ke berbagai daerah bahkan mancanegara.
Dalam sesi diskusi panel perikanan di PENAS 2026, isu utama yang mengemuka adalah keberlanjutan. Para nelayan tidak lagi hanya bicara tentang “berapa ton tangkapan hari ini”, tetapi juga tentang “bagaimana menjaga ekosistem agar anak cucu masih bisa melaut”. Penggunaan alat tangkap ramah lingkungan, pengelolaan zona konservasi, hingga pengolahan hasil laut bernilai tambah menjadi topik hangat yang disambut antusias.
Kehadiran pemerintah pusat dalam gelaran ini memberikan angin segar. Apalagi, rencana penutupan acara oleh Presiden RI Bapak Prabowo Subianto pada 24 Juni 2026—yang dijadwalkan secara khusus—menandakan bahwa sektor kelautan dan perikanan bukan sekadar sektor marjinal, melainkan tulang punggung ekonomi biru nasional. Ini adalah momen penting: negara hadir, negara mendengar, dan negara bergerak.
Pangan: Dari Gorontalo untuk Indonesia
Tak lengkap rasanya membahas pertanian dan perikanan tanpa berbicara tentang pangan. Karena pada akhirnya, semua produksi bermuara pada satu pertanyaan: apakah rakyat bisa makan dengan layak?
Gorontalo selama ini dikenal sebagai daerah penyangga pangan di kawasan timur Indonesia. Jagung dan ikan menjadi dua komoditas unggulan yang bahkan melampaui kebutuhan lokal. Dengan adanya PENAS 2026, nama Gorontalo semakin terpatri sebagai salah satu kawasan strategis dalam peta ketahanan pangan nasional.
Berbagai inovasi pangan lokal juga mulai bermunculan. Tepung jagung instan, nugget ikan, kerupuk rumput laut, hingga sirup kelapa—semuanya hadir dalam ajang ini. Ini menunjukkan bahwa Gorontalo tidak hanya menghasilkan bahan mentah, tetapi juga mampu mengolah menjadi produk jadi yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Ini adalah lompatan besar. Sebab, ketahanan pangan tidak hanya soal produksi, tetapi juga soal akses, distribusi, dan keberlanjutan. Dan Gorontalo, melalui PENAS 2026, sedang membuktikan bahwa semua rantai itu bisa dirajut dengan baik.
Warisan dan Tantangan ke Depan
Namun, seperti halnya setiap langkah besar, ada tantangan yang harus dihadapi. Perubahan iklim, konversi lahan, fluktuasi harga, hingga regenerasi petani dan nelayan masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kalah berat. PENAS 2026 bukanlah titik akhir, melainkan titik awal dari perjuangan yang lebih panjang.
Pemerintah Provinsi Gorontalo di bawah kepemimpinan Gubernur Gusnar Ismail telah menunjukkan komitmen yang kuat. Namun, keberhasilan jangka panjang membutuhkan sinergi yang berkelanjutan antara pemerintah pusat, daerah, akademisi, pelaku usaha,Tokoh Masyarakat dan yang terpenting,para petani dan nelayan itu sendiri.
“Kami ajak seluruh elemen masyarakat menjadikan PENAS 2026 sebagai langkah strategis. Ini kesempatan kita bersama agar pembangunan berorientasi pada kesejahteraan rakyat dan kemajuan daerah yang berkelanjutan,” tegas Gubernur Gusnar dalam keterangannya beberapa waktu lalu.
Sebuah Harapan yang Menjadi Kenyataan
PENAS 2026 di Gorontalo bukan sekadar acara tahunan. Ini adalah cerminan bahwa Indonesia sedang bergerak menuju kemandirian pangan, dengan Gorontalo sebagai salah satu benteng utamanya. Dari sawah yang menghijau, laut yang membiru, hingga meja makan yang penuh—semua adalah cerita tentang bagaimana kita, sebagai bangsa, memilih untuk tidak lagi bergantung, tetapi berdiri tegak di atas kekayaan sendiri.
Gorontalo kini bukan hanya daerah penyangga. Gorontalo adalah lumbung. Dan lumbung ini, jika dijaga dan dikelola dengan baik, akan menjadi sumber kehidupan bagi generasi sekarang dan yang akan datang.
Selamat untuk Gorontalo. Selamat untuk petani dan nelayan Indonesia. Semoga PANEN tidak berhenti di PENAS, tetapi terus berlanjut di setiap musim, di setiap desa, disetiap Rumah dan di setiap hati yang mencintai Gorontalo dan negeri ini.