Editorial:
Di tengah tekanan ekonomi yang kian terasa,rupiah merosot, pasar cemas, dan investor wait and see,nama Chatib Basri kembali mengemuka. Bukan sebagai akademisi biasa, tetapi sebagai kandidat ideal untuk mengisi kursi Menteri Keuangan.
Yang menarik, dukungan itu datang dari pengamat politik yang kerap menjadi oposisi, Rocky Gerung.
Dalam kanal YouTube Hersubeno Point, Rocky tak ragu menyebut Chatib Basri sebagai solusi atas kegelisahan ekonomi nasional. “Bagi saya, bocorannya bukan soal Chatib Basri. Bocorannya bahwa banyak orang yang cemas dengan ekonomi Indonesia dan banyak orang yang cemas kalau ditawarin jadi Menteri Keuangan gantiin Purbaya,” ujar Rocky.
Pernyataan itu menarik. Rocky tidak sedang sekadar mendorong nama. Ia sedang membuka tabir,keresahan publik sudah begitu dalam, dan tokoh sekelas Chatib pun diragukan bersedia mengambil posisi tersebut. Itulah “bocoran” yang menurut Rocky lebih penting daripada sekadar pergantian pejabat.
Rocky memberikan alasan yang tak semata teknis. Chatib Basri, baginya, memiliki lebih dari sekadar pemahaman ekonomi moneter. Ia memiliki “filsafat tentang keadilan” dan memahami political economy analysis.
Chatib bukan nama asing. Ia pernah menjabat Menteri Keuangan pada era Presiden SBY (2013-2014), saat Indonesia menghadapi gejolak taper tantrum. Kala itu, Chatib dikenal sebagai juru selamat yang membawa stabilitas. Ia juga memiliki jejak akademik di Harvard Kennedy School,prestise yang di mata investor internasional tetap berbobot.
Dengan kata lain, Chatib adalah perpaduan langka antara teknokrat murni dan politikus yang memahami dinamika kekuasaan. Ia paham bahwa menjaga fiskal bukan hanya urusan angka, tetapi juga urusan kepercayaan politik.
Dari dukungan itu, Rocky menyelipkan kritik tajam. Ia menyinggung bahwa pelemahan kepercayaan pasar tidak bisa diselesaikan hanya dengan kebijakan moneter. “Investor melihat apakah kebijakan pemerintah konsisten dan mampu dijalankan dengan dukungan politik yang memadai,” tegasnya.
Ini adalah sindiran langsung terhadap ketidakpastian kabinet saat ini. Bahwa di balik pelemahan rupiah, ada masalah koordinasi, konsistensi kebijakan, dan mungkin juga tarik-menarik kepentingan politik.
Rocky bahkan membuat plesetan yang mudah diingat: “MBG no, MCB yes.” MCB adalah Muhammad Chatib Basri. Ia secara terbuka menyatakan preferensinya dibanding program unggulan pemerintahan saat ini.
Namun, Rocky juga jujur. Ia mengakui ada hambatan ideologis bagi Chatib Basri. Meskipun tidak merinci secara gamblang, tampaknya yang dimaksud adalah perbedaan cara pandang antara pendekatan Chatib yang berbasis kepercayaan pasar global dan kebijakan populis yang cenderung proteksionis.
“Tarik menarik kepentingan politik,” ujar Rocky singkat. Artinya, bukan kapasitas Chatib yang diragukan, melainkan keberanian politik untuk menempatkannya.
Konfirmasi Istana: Tidak Ada Rencana Pergantian
Sebagai sebuah berita, perlu dicatat bahwa pemerintah telah berkali-kali membantah isu pergantian Menteri Keuangan. Mensesneg Prasetyo Hadi dengan tegas menyatakan tidak ada rencana reshuffle. Chatib Basri sendiri dipanggil ke Istana pada 9 Juni 2026—bukan untuk membahas posisi menteri, melainkan dalam kapasitasnya sebagai anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN).
Ketua DPR Sufmi Dasco pun mengonfirmasi bahwa pertemuan itu murni membahas strategi pertumbuhan ekonomi, bukan pergantian pejabat.
Dengan demikian, dukungan Rocky tetap berada pada tataran wacana publik,bukan skenario yang sedang dipersiapkan Istana.
Lebih dari sekadar mendorong nama Chatib Basri, dukungan Rocky Gerung mencerminkan sebuah keprihatinan mendasar,krisis kepercayaan terhadap pengelolaan ekonomi saat ini.
Di Indonesia, Menteri Keuangan bukan sekadar posisi teknis. Ia adalah penjaga trust fund bernama APBN, sekaligus wajah Indonesia di mata pasar global. Ketika pasar ragu, yang dicari bukan hanya teknokrat, tetapi figur yang memiliki integritas, jejaring global, dan keberanian politik untuk mengatakan “tidak” pada tekanan populis.
Chatib Basri mewakili harapan itu. Bukan karena ia sempurna, tetapi karena rekam jejaknya terbukti saat krisis 2013. Ia adalah tipe menteri yang berani mendorong kebijakan tidak populer seperti menaikkan BBM bersubsidi demi menjaga kesehatan fiskal.
Rocky, yang kerap diposisikan sebagai pengkritik pemerintah, justru melihat itu sebagai nilai lebih. Karena baginya, dalam situasi darurat ekonomi, yang dibutuhkan bukan partisan, melainkan seseorang yang bisa menjawab pertanyaan sederhana: “Apakah negara ini masih bisa dipercaya untuk membayar utang dan menjaga stabilitas?”
Dukungan Rocky terhadap Chatib Basri bukan sekadar endorsement personal. Ini adalah seruan agar pemerintah berani mengambil keputusan besar di tengah situasi genting. Ini adalah pengingat bahwa ekonomi bukan hanya urusan pertumbuhan, tetapi juga kepercayaan. Dan kepercayaan tidak bisa diproduksi oleh birokrasi, melainkan oleh figur.
Apakah itu akan terjadi? Semua tergantung pada dinamika politik ke depan. Namun satu hal pasti, ketika seseorang sekritis Rocky Gerung dengan suara keras mendukung seorang Chatib Basri, itu bukan sekadar usulan. Itu adalah cermin dari keresahan publik yang sesungguhnya.
“Agar rupiah tak terus merosot, kadang yang diperlukan bukan juru bicara, tetapi juru selamat yang bersedia mengambil risiko,” begitu kesimpulan yang bisa ditarik dari pernyataan Rocky.
Editor: dulwahab