Opini Oleh: dulwahab Mumu Nasaru (jurnalis PJMI,Aktivis Sarekat Islam,Alumni UMY Jurusan Ekonomi Perbankan Islam dan Pimred Suara Minahasa).
Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh kisaran Rp17.721 – 17.500 per dolar AS merupakan fenomena kompleks yang tidak bisa hanya dijelaskan oleh satu faktor tunggal. Meskipun kenaikan harga minyak mentah dunia kerap disebut sebagai pemicu utama, kenyataannya ada sejumlah faktor lain yang saling terkait dan memperkuat tekanan terhadap rupiah. Memahami kombinasi penyebab ini penting untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai dinamika nilai tukar di tengah ketidakpastian global.
Secara logis, kenaikan harga minyak memberikan pukulan pertama. Sebagai negara importir energi, Indonesia membutuhkan lebih banyak dolar AS untuk membayar impor minyak yang semakin mahal. Lonjakan permintaan terhadap dolar ini, jika tidak diimbangi oleh peningkatan pasokan dari ekspor, secara otomatis akan menekan rupiah. Namun, cerita tidak berhenti di sini. Ada beberapa faktor lain yang bertindak sebagai “penguat” atau bahkan pemicu independen yang membuat rupiah terus terpuruk.
Faktor pertama dan paling dominan adalah kebijakan suku bunga tinggi Bank Sentral AS (The Fed). Ketika The Fed menaikkan suku bunga acuannya, imbal hasil dari aset-aset berdenyit dolar AS menjadi lebih menarik. Investor global, yang selalu mencari imbalan tertinggi dengan risiko terendah, akan menarik dananya dari negara berkembang seperti Indonesia dan memindahkannya ke instrumen berdenominasi dolar. Aliran modal keluar (capital outflow) yang masif ini secara langsung memperbanyak permintaan dolar dan menjual rupiah, sehingga nilai tukar rupiah melemah.
Faktor kedua adalah sentimen risiko global (risk-off). Dunia saat ini dibayangi oleh berbagai ketidakpastian,konflik geopolitik (seperti perang di Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah-Iran), ancaman resesi ekonomi di negara-negara maju, serta potensi perang dagang. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung menghindari aset-aset berisiko dari negara berkembang dan berlindung ke aset-aset “aman” (safe-haven), dan dolar AS adalah yang utama. Rupiah, sebagai mata uang negara berkembang, otomatis menjadi korban dari pelarian modal global ini.
Faktor ketiga bersumber dari dalam negeri, yaitu kinerja ekspor dan inflasi. Jika ekonomi mitra dagang utama Indonesia seperti China melambat, permintaan terhadap komoditas ekspor andalan kita (batu bara, minyak sawit, nikel) akan turun. Hal ini mengurangi pemasukan devisa. Di sisi lain, jika inflasi domestik lebih tinggi dibandingkan negara mitra, daya saing produk ekspor kita menurun dan barang impor menjadi lebih mahal. Kombinasi defisit neraca perdagangan dan inflasi tinggi ini memperburuk fundamental ekonomi, yang tercermin pada pelemahan rupiah.
Terakhir, faktor psikologis dan spekulasi tidak boleh diabaikan. Ekspektasi pasar bahwa rupiah akan terus melemah sering kali menjadi ramalan yang terwujud dengan sendirinya (self-fulfilling prophecy). Melihat tekanan yang ada, pelaku usaha dan investor cenderung membeli dolar lebih awal sebagai bentuk lindung nilai (hedging). Aksi spekulatif ini mempercepat depresiasi rupiah, terlepas dari langkah-langkah intervensi yang mungkin diambil oleh Bank Indonesia.
pelemahan rupiah ke level Rp17.721 hingga 17.500 per dolar AS bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia adalah hasil akumulasi sempurna dari berbagai tekanan, kenaikan harga minyak yang meningkatkan kebutuhan dolar, kebijakan suku bunga The Fed yang menyedot modal, sentimen risiko global yang memicu pelarian modal, melemahnya kinerja ekspor, serta ekspektasi negatif dari pelaku pasar. Oleh karena itu, upaya stabilisasi rupiah tidak bisa hanya mengandalkan intervensi pasar valas sesaat. Diperlukan kebijakan komprehensif yang meliputi pengendalian inflasi, peningkatan daya saing ekspor, diplomasi ekonomi untuk menjaga arus modal, serta penguatan cadangan devisa. Hanya dengan pendekatan multilapis ini tekanan terhadap rupiah dapat dikelola secara berkelanjutan.
Rupiah yang Jatuh, Kepercayaan yang Menguap,Membaca Metafisika di Balik Anjloknya Nilai Tukar
Ketika rupiah menembus level Rp17.721 per dolar AS, hiruk-pikuk analisis ekonomi segera memenuhi ruang publik. Kita disuguhi grafik suku bunga The Fed, data cadangan devisa, proyeksi harga minyak, dan arus modal asing. Semua itu penting. Namun, di balik angka-angka yang dingin dan rasional itu, ada lapisan realitas lain yang jarang disentuh,sebuah dimensi metafisika sosial-geoekonomi yang justru menjadi akar paling dalam dari pelemahan rupiah.
Metafisika di sini bukanlah hal gaib atau mistis. Dalam konteks ekonomi, metafisika merujuk pada kekuatan-kekuatan tidak kasatmata namun nyata yang membentuk perilaku pasar: kepercayaan kolektif, memori sejarah, psikologi massa, ekspektasi yang membangun dirinya sendiri (self-fulfilling prophecy), dan kontrak sosial antara negara dengan rakyatnya. Faktor-faktor inilah yang membuat rupiah terasa begitu “rapuh”,sebuah kerapuhan yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh model ekonomi konvensional.
Faktor metafisika paling kuat yang membentuk perilaku ekonomi Indonesia adalah ingatan kolektif terhadap krisis moneter 1997-1998. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka mengakui hal ini: intervensi menjaga rupiah agar tidak menembus batas psikologis tertentu dilakukan bukan semata karena pertimbangan ekonomi, melainkan karena dampak psikologis terhadap masyarakat, mengingat masih kuatnya ingatan kolektif terhadap krisis 1997-1998.
Trauma ini menciptakan sebuah kondisi kesiapsiagaan darurat permanen dalam kesadaran kolektif masyarakat Indonesia. Begitu layar perdagangan menunjukkan angka kurs menembus batas tertentu, kegelisahan segera menyebar. Media sosial berubah seperti ruang kepanikan massal. Percakapan warung kopi mulai dipenuhi kekhawatiran tentang krisis. Yang aktif bukanlah logika ekonomi, melainkan sistem saraf kolektif yang mengingatkan pada “pengalaman near-death” ekonomi nasional.
Lebih mengkhawatirkan lagi, trauma ini bersifat intergenerasional. Mereka yang tidak lahir saat krisis 1998 pun mewarisi kecemasan ini melalui narasi keluarga, pendidikan, dan media. Inilah yang membuat respons masyarakat Indonesia terhadap pelemahan rupiah jauh lebih intens dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia atau Thailand yang juga mengalami krisis serupa di masa lalu.
George Soros, melalui teori reflexivity, menjelaskan bahwa pasar tidak sekadar membaca kenyataan, tetapi sering ikut membentuk kenyataan itu sendiri. Dalam konteks rupiah, mekanismenya bekerja seperti lingkaran setan,media memberitakan pelemahan dengan narasi krisis, investor asing menarik modalnya karena membaca persepsi negatif, rupiah benar-benar melemah karena modal keluar, dan pelemahan yang terjadi kemudian dikonfirmasi sebagai “bukti” bahwa kekhawatiran awal adalah benar.
Siklus ini menciptakan realitas yang sepenuhnya terlepas dari fundamental ekonomi. Hefrizal, seorang ekonom, menegaskan bahwa berdasarkan pendekatan purchasing power parity, nilai tukar rupiah seharusnya berada di kisaran Rp15.000 per dolar AS. Artinya, rupiah saat ini diperdagangkan di bawah nilai wajarnya—lebih dipengaruhi sentimen dan arus modal dibandingkan fundamental ekonomi.
Dengan kata lain, ketakutan itu sendiri yang menciptakan hal yang ditakuti. Inilah metafisika pasar,ekspektasi menjadi kenyataan, bukan karena fondasi ekonomi runtuh, tetapi karena kepercayaan yang runtuh lebih dulu.
Salah satu faktor metafisika yang paling merusak kepercayaan publik adalah kesenjangan antara realitas makro dan realitas mikro. Secara statistik, ekonomi Indonesia tumbuh solid di atas 5 persen. Namun secara eksistensial, rakyat merasakan tekanan yang luar biasa.
Sebuah analisis di Kompas mengungkapkan bahwa terlalu lama Indonesia berharap ekonomi tumbuh dari konsumsi, tanpa pernah jujur bertanya dari mana kekuatan konsumsi itu berasal? Apakah konsumsi lahir dari rakyat yang benar-benar kuat secara produktivitas? Ataukah hanya ditopang oleh subsidi, bantuan sosial, utang rumah tangga, dan kemampuan bertahan hidup yang dipaksakan?
Peneliti Celios, Bhima Yudhistira, menyebut situasi ini sebagai “tenang di atas permukaan, tetapi tinggal menunggu waktu sampai efek pelemahan rupiah itu sampai di meja makan”. Kesenjangan antara statistik resmi dan pengalaman hidup sehari-hari menciptakan disorientasi kolektif,masyarakat tidak lagi percaya pada angka-angka yang dikeluarkan pemerintah karena pengalaman mereka berkata lain.
Karl Polanyi, dalam karyanya yang monumental The Great Transformation, memperingatkan bahwa pasar modern memiliki kecenderungan melepaskan dirinya dari realitas sosial masyarakat menjadi disembedded, tercabut dari akar sosialnya. Fenomena ini sangat terlihat dalam pelemahan rupiah saat ini.
Apa yang diperdagangkan di pasar valas bukanlah representasi dari kekuatan ekonomi riil Indonesia,produksi pabrik, hasil panen, produk UMKM. Yang diperdagangkan adalah ekspektasi, algoritma, dan sentimen. Para pemain utamanya bukan lagi produsen dan konsumen riil, tetapi hedge fund, algorithmic trader, dan spekulan yang tidak pernah menginjakkan kaki di pasar tradisional Indonesia. Harga yang terbentuk lebih mencerminkan psikologi kolektif pelaku pasar global daripada kondisi riil ekonomi domestik.
Ketika pasar melepaskan diri dari realitas sosial, nilai tukar menjadi semacam entitas yang hidup dengan logikanya sendiri terbangun di atas fondasi kepercayaan yang menguap, bukan di atas kerja nyata manusia Indonesia.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Dr. Arie Sujito, menilai bahwa pelemahan rupiah membawa dampak paling langsung terhadap kelas menengah di wilayah perkotaan. Mengapa kelas menengah menjadi indikator kunci dalam metafisika sosial-ekonomi?
Kelas menengah adalah kelompok yang paling sensitif terhadap perubahan. Mereka hidup dalam kondisi “serba cukup, tetapi belum memiliki bantalan finansial yang kuat”. Mereka adalah konsumen utama barang-barang yang mengandung komponen impor elektronik, kendaraan bermotor, barang sekunder. Mereka adalah kelompok yang paling vokal dan terhubung secara digital, sehingga keresahan mereka dengan cepat menyebar dan memperkuat siklus ekspektasi negatif. Dan yang terpenting, mereka adalah jaminan stabilitas sosial,ketika kelas menengah tertekan, kontrak sosial antara negara dan warga negara mulai retak.
Bhima Yudhistira menambahkan bahwa dampak pelemahan rupiah akan segera dirasakan di sektor-sektor kunci: “Ini musim anak-anak mulai masuk sekolah. Semua akan ada pengaruhnya.” Kenaikan biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pokok menekan kelas menengah dari berbagai sisi, menciptakan rasa tidak aman yang bersifat sistemik.
Dalam skala geoekonomi, ada satu fakta yang paling mengganggu Indonesia menjadi outlier di kawasan Asia Tenggara. Menteri Keuangan mencatat bahwa sejumlah mata uang regional seperti baht Thailand, ringgit Malaysia, dolar Singapura, hingga dong Vietnam justru tercatat menguat terhadap dolar AS.
Kondisi ini terbilang tidak lazim dan ketidaklaziman ini menjadi bahan bakar bagi narasi negatif. Mengapa Indonesia berbeda? Mengapa ketika tetangga-tetangga bisa bertahan, Indonesia justru terperosok?
Narasi “Indonesia yang salah” ini lahir bukan dari pernyataan resmi pemerintah, tetapi dari tiga sumber yang lebih halus: persepsi pasar global yang terbangun oleh laporan lembaga internasional, algoritma media yang secara otomatis mengamplifikasi berita negatif, dan psikologi massa yang lebih mudah percaya pada skenario terburuk. Ini menciptakan sebuah lingkaran setan metafisika-geoekonomi Indonesia dianggap rapuh, persepsi itu memicu aksi,aksi itu memperparah kerapuhan, kerapuhan yang memburuk mengonfirmasi persepsi awal.
Para ekonom mungkin sepakat bahwa secara fundamental rupiah undervalued dan seharusnya bisa menguat. Namun, metafisika sosial-geoekonomi mengajarkan kita bahwa dalam ekonomi yang telah terglobalisasi, yang diperdagangkan bukan hanya barang dan uang, tetapi juga kepercayaan, ekspektasi, memori kolektif, dan narasi geopolitik.
Untuk menyelamatkan rupiah secara berkelanjutan, kebijakan tidak cukup hanya menyentuh instrumen moneter,menaikkan suku bunga, mengintervensi pasar, menerbitkan sekuritas. Yang diperlukan adalah rekonstruksi kepercayaan kolektif pada tiga level sekaligus, level psikologis (menyembuhkan trauma 1998), level sosiologis (menjembatani kesenjangan antara angka makro dan pengalaman mikro), dan level geoekonomis (membangun narasi bahwa Indonesia bukanlah outlier yang rapuh, tetapi kekuatan yang sedang bangkit).
Ini adalah pekerjaan rumah metafisika yang selama ini terus diabaikan. Padahal, jika tidak segera ditangani, rupiah akan terus menjadi sandiwara di mana fundamental yang baik selalu kalah oleh persepsi yang buruk,sebuah tragedi ekonomi yang penyebab utamanya tidak kasatmata, tetapi dampaknya sangat nyata di meja makan rakyat.
Faktor X di Balik Pelemahan Rupiah,Ketika Persepsi Lebih Tajam dari Fundamental
Di tenguh sorot mata dunia terhadap ekonomi Indonesia yang tumbuh solid di atas 5% dan cadangan devisa yang kokoh, nilai tukar rupiah justru terperosok ke level Rp17.700-an per dolar AS. Fenomena ini membingungkan jika hanya dilihat dari kaca mata data makro. Berdasarkan analisis para ekonom dan institusi terkini pada Mei 2026, pelemahan rupiah kini memiliki “Faktor X” akar kerentanan bersumber dari dalam negeri yang dinilai lebih dominan dibandingkan guncangan eksternal seperti penguatan dolar AS atau kenaikan harga minyak.
Faktor X paling utama adalah erosi kepercayaan investor. Ini bukan semata persoalan data ekonomi riil, melainkan soal persepsi terhadap masa depan. Rupiah disebut undervalued (di bawah nilai fundamental) dan secara teknis masih ditopang oleh cadangan devisa yang memadai. Namun, rupiah tetap tertekan karena kepercayaan belum pulih. Pasar tidak hanya membaca data, ia membentuk “realitas” sendiri. Ketika persepsi negatif terbangun, arus modal keluar (capital outflow) menjadi tak terelakkan, memperparah tekanan pada rupiah, terlepas dari baiknya fundamental ekonomi.
Lembaga pemeringkat dan peneliti global mulai menyoroti adanya “kebisingan” kebijakan yang menggerus kepercayaan jangka panjang. Investor cemas dengan keseimbangan fiskal akibat rendahnya rasio perpajakan, program populis yang mahal, dan risiko contingent liability dari Danantara (BPI Danantara). Kekhawatiran ini berdampak nyata, MSCI mengeluarkan peringatan terkait transparansi pasar saham Indonesia, yang kemudian diikuti oleh pemangkasan outlook kredit oleh lembaga pemeringkat global.
Kebijakan yang berubah-ubah atau tidak jelas memaksa investor memilih sikap wait and see. Pelaku pasar, misalnya, tengah mengantisipasi kebijakan baru yang akan memusatkan transaksi ekspor komoditas di bawah BUMN. Ketidakjelasan aturan ini dinilai sebagai risiko yang lebih besar daripada fluktuasi harga global itu sendiri. Ditambah dinamika politik pasca-pemilu dan transisi kebijakan, para pelaku pasar cenderung menahan diri, yang berdampak langsung pada aliran modal masuk.
Upaya Bank Indonesia (BI) menyelamatkan rupiah melalui intervensi ternyata memiliki efek samping yang menciptakan kerentanan baru. Dalam empat bulan pertama 2026, cadangan devisa terkuras USD 8,4 miliar,rata-rata Rp37 triliun per bulan hanya untuk menahan laju pelemahan. Untuk menyerap kelebihan likuiditas, BI menaikkan suku bunga dan menerbitkan Sekuritas Rupiah (SRBI). Akibatnya, perbankan enggan menyalurkan kredit produktif, terjadi penumpukan pinjaman hingga Rp2.527 triliun, sementara sektor riil, khususnya manufaktur, mulai terkontraksi atau stagnan.
Faktor X psikologis lainnya adalah jurang antara realitas makro dan kondisi mikro masyarakat. Meski rupiah jatuh, aktivitas di mal dan kafe tetap ramai,sebuah fenomena yang dikenal sebagai Lipstick Effect. Di satu sisi, ini menunjukkan daya tahan belanja gaya hidup. Namun di sisi lain, ini adalah alarm bahwa masyarakat cenderung melakukan “aktivitas semu” atau hedonisme jangka pendek untuk menutupi tekanan ekonomi yang sebenarnya,sebuah perilaku yang tidak sejalan dengan upaya penguatan fundamental ekonomi.
“Faktor X” pelemahan rupiah saat ini bukan lagi semata external shock seperti perang atau kenaikan suku bunga The Fed. Ia adalah internal vulnerability yang terdiri dari krisis kepercayaan, kebijakan yang tidak prediktif, serta biaya tinggi dari intervensi moneter. Para ekonom sepakat bahwa instrumen moneter, seperti suku bunga, tidak lagi cukup untuk menyelesaikan masalah ini. Yang dibutuhkan sekarang adalah pemulihan kepercayaan melalui kepastian kebijakan, transparansi fiskal, dan komunikasi publik yang jujur serta konsisten. Tanpa itu, rupiah akan terus berada dalam bayang-bayang “faktor X” yang diciptakan oleh persepsi, bukan oleh data.