Editorial Reportase:
Ada yang berbeda di udara Limboto, Kabupaten Gorontalo, jelang pertengahan 2026. Bukan hanya karena langit khatulistiwa yang cerah, tetapi karena denyut persiapan yang terasa hingga ke pelosok. Pekan Nasional Petani dan Nelayan (PENAS) ke-17 akan digelar 20–25 Juni 2026. Dan Gorontalo, yang dulu mungkin hanya dikenal karena wisata Danau Limboto dan jagungnya, kini bersiap menjadi panggung utama kemandirian pangan Indonesia.
Acara ini bukan sekadar pameran traktor atau lomba sapi. Ini adalah ritual kebanggaan kaum tani dan nelayan,mereka yang setiap hari membasuh tanah dengan keringat dan menggenggam jala demi mengisi piring nusantara. Tak heran, persiapan pun dilakukan dengan hati, bukan hanya dengan beton.
Wajah Baru di Pentadio dan Danau Perintis
Setelah Meninjau Danau Perintis di Bone Bolango,Menjelang Senja Matahari Terbenam,Sunset,sebuah Rombongan Tiba di Pentadio Resort,area Danau Limboto,Rombongan tampak menyusuri kawasan Pentadio Resort,Di tengah mereka, Tampak sosok Rachmat Gobel, anggota DPR RI, berdiri lama mengamati hamparan Pentadio resort yg berada didekat Danau Limboto yang luas.
Ditemani Bupati Kabupaten Gorontalo,Sofyan Puhi dan Wakil Ketua DPRD,Roman Nasaru beserta Kadis Pariwisata Kabgor,Fany Salamanya dan Ketua Komisi II DPRD Gorontalo,Mikson Yapanto, Rachmat Gobel Berdiskusi santai sambil berjalan pelan menyusuri Pepohonan dan setiap sudut Pentadio Resort, Pentadio Resort yang luas dan legendaris ini merupakan salah satu titik acara PENAS.Rachmat Gobel bercerita santai tentang apa yang akan dibantunya dalam memeriahkan acara Nasional ini,apa yang akan dibangun dan dibenahi disekitar pusat kegiatan PENAS 2026.

Rachmat Gobel tidak hanya berbicara tentang anggaran atau teknis. Dengan gaya khasnya yang blak-blakan namun hangat, ia mengingatkan bahwa Gorontalo sedang dinilai seluruh Indonesia.
“Ini bukan sekadar acara seremonial. Kita sedang menunjukkan wajah Gorontalo kepada Indonesia,” ujarnya, Selasa (05/06/2026).
Maka, pembenahan infrastruktur pun harus digeber. Tapi bukan pembangunan yang kaku, namun Yang tampak adalah sentuhan-sentuhan sosial,jogging track untuk warga, kolam cuci kaki yang ramai di kawasan wisata, hingga ruang publik yang ditata agar anak-anak petani dan nelayan bisa bermain dengan aman saat orang tua mereka mengikuti agenda.
“Kita harus kreatif menghadirkan sesuatu yang berbeda agar orang datang, menikmati, lalu ingin kembali.” Tandas Rachmat Gobel

Inilah gaya event sosial yang membumi dan inklusif. Petani dan nelayan tak lagi disuguhi spanduk-spanduk birokratis. Mereka diajak merasakan suasana segar, modern, sekaligus membanggakan. Dan ketika pengunjung berswafoto dengan latar kucing raksasa, ada cerita baru yang dibawa pulang ke kampung halamannya,di Gorontalo,Petani dan Nelayan indonesia dihormati dan Bahagia.
Ekonomi Berdenyut: Pentadio Pernah Menghasilkan Miliaran, Kini Bisa Lebih
Rachmat Gobel juga membuka catatan lama, Destinasi Wisata Pentadio Resort dulunya pernah menyumbang pendapatan daerah hingga Rp 2 miliar per tahun. Lalu ia menantang semua pihak untuk melampaui angka itu.
“Kalau dulu bisa menyumbang Rp2 miliar setahun, ke depan harus lebih dari itu. Kuncinya ada pada pembenahan dan keseriusan.”
Dengan estimasi 15.000–30.000 peserta dari seluruh Indonesia, perputaran uang di UMKM, homestay, transportasi, dan kuliner lokal diperkirakan melonjak. Ribuan homestay warga sudah disiapkan. Para ibu nelayan mulai meracik sambal khas Gorontalo. Para pemuda mengatur parkir dan jasa antar-jemput. Inilah multiplier effect yang sesungguhnya dari sebuah event sosial petani dan nelayan.

Lebih dari Sekadar Acara: Ini Warisan
Yang membuat PENAS 2026 berbeda adalah kesadaran akan keberlanjutan. Rachmat Gobel dan pemerintah daerah tak ingin euforia sirna setelah 25 Juni. Maka pembangunan jogging track, penataan danau, ikon wisata, dan ruang publik harus terus dijaga dan dirawat oleh masyarakat pasca acara.
Kita harus berpikir jangka panjang. Bukan hanya untuk peserta yang datang, tapi untuk warga Gorontalo yang akan menikmati fasilitas ini puluhan tahun ke depan.
Di balik semua angka dan rencana teknis, PENAS 2026 adalah cerita tentang harga diri. Ketika seorang petani kopi dari Aceh bertemu nelayan dari Maluku di pinggir Danau Limboto, mereka akan sadar,nasib mereka sama. Ketika seorang anak desa Gorontalo melihat ikon kucing raksasa, ia akan berkata, “Kelak aku juga ingin menjadi petani yang hebat.”
Gorontalo, dengan segala persiapannya, sudah hampir siap. Kini giliran kita,pemerhati, jurnalis, tokoh masyarakat, dan setiap warga untuk memastikan bahwa gelaran ini tak hanya meriah, tapi juga meninggalkan bekas di hati.
Dan semangat itulah yang akan membuat PENAS 2026 di Gorontalo menjadi sejarah yang tak terlupakan.
Perjalanan Peninjauan di Pentadio Resort ini Hingga malam tiba,Sebagian besar Bangunan dan jalan di pentadio ini tak memiliki lampu,untuk itu Rachmat Gobel juga akan membantu Lampu lampu yang indah sehingga peserta PENAS tersinari dimalam hari dan keindahan artistic Malam muncul di area Pentadio Resort ini.
Editorial dan Reportase: dulwahab