Editorial:
Untuk waktu yang lama, narasi pembangunan pertanian di Gorontalo didominasi oleh tanaman jagung. Lahan luas yang membentang di Kabupaten Pohuwato dan Boalemo,Kabupaten Gorontalo hingga Bone Bolango seolah hanya “terpaksa?” untuk memproduksi komoditas pangan yang fluktuatif dan Harga Rendah. Namun, angin perubahan kini bertiup kencang berkat inisiasi dan ikhtiar dari seorang Putra Gorontalo, Rachmat Gobel. Melalui visinya yang tajam, komoditas masa depan mulai menggeser ketergantungan itu, kakao, serta didorongnya sektor holtikultura seperti ubi dan kacang.
Lebih dari sekadar tanaman perkebunan, kakao di Gorontalo kini sedang bertransformasi menjadi poros baru ekonomi kerakyatan yang berorientasi global, dengan hilirisasi dan ekspor sebagai mesin utamanya. Progress yang ditunjukkan dari ikhtiar Rachmat Gobel ini terus berkembang pesat, membuktikan bahwa pertanian dapat menjadi tulang punggung kemajuan ekonomi petani Gorontalo .dahulu Kakao di Gorontalo lumayan banyak namun sempat berkurang,kini Rachmad Gobel Menghidupkannya kembali.
Keunggulan Lokasi dan Fokus Produksi.
Jika kita memetakan titik emas kakao Gorontalo, jarum akan berhenti di Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato, dan merambat ke wilayah Boalemo. Daerah ini bukanlah pemain baru, mereka adalah sentra unggulan yang secara agroklimat sangat cocok untuk pengembangan kakao fine flavor atau bulk premium. Fokus penanaman yang terkonsentrasi di sini memungkinkan efisiensi rantai pasok, pengawasan mutu terpadu, serta kemudahan pendampingan teknis. Namun, potensi geografis saja tidak cukup. Di sinilah lompatan strategis terjadi, dan Rachmat Gobel hadir sebagai katalisator yang menghubungkan potensi lokal dengan akses pasar Global dan teknologi.
Hilirisasi sebagai Jantung Transformasi.
Selama bertahun-tahun, petani kakao Indonesia terjebak dalam perangkap nilai tambah rendah karena hanya menjual biji kering tidak difermentasi (asalan). Rachmat Gobel, dengan pengalaman panjangnya di dunia industri elektronik dan logistik, memahami bahwa pertanian holtikultura tidak akan maju tanpa hilirisasi. Melalui kerja sama strategis dengan mitranya di Jepang seperti PT Chateraise, ikhtiarnya untuk memutus rantai kemiskinan struktural petani Gorontalo mulai membuahkan hasil ,perlahan namun pasti. Investasi strategis ini membawa tiga angin segar,
-Penyerapan hasil yang pasti, memberikan kepastian harga bagi petani kakao, ubi, dan kacang.
– Peningkatan mutu melalui fermentasi. Jepang dikenal dengan standar kualitas yang ketat. Untuk memenuhi ekspor, biji kakao harus difermentasi dengan baik, yang menghasilkan cita rasa cokelat yang dalam, tidak sepat, dan bernilai jual tinggi. Ini mengubah kebiasaan petani dari sekadar menjual biji menjadi menjual rasa.
-Bibit bersertifikat dari ICCRI (Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute) memastikan bahwa dari hulu, pohon kakao yang ditanam memiliki produktivitas dan ketahanan terhadap hama penyakit.
Proses fermentasi bukan sekadar teknis,ia adalah revolusi ekonomi. Biji fermentasi bisa dihargai 30-50% lebih tinggi dari biji asalan. Ini adalah transfer pengetahuan dan teknologi yang mengangkat martabat petani dari price taker menjadi price maker di pasar global. Rachmat Gobel tidak hanya berbicara, ia menggerakkan ekosistem.
Dari Kebun Desa ke Pasar Dunia, Peran PT Chateraise-Gobel.
Diresmikannya Pembangunan Pabrik kedua dari Perusahaan Pangan Chateraise-Gobel baru baru ini menandakan prospektif yg sangat bagus,permintaan produk meningkat.
Kehadiran PT Chateraise-Gobel bukan sekadar pembeli. Investasi Pabrik Jepang yg ini membawa ekosistem yang lengkap, mulai dari pendampingan agronomi, jaminan serapan, hingga pengembangan agrowisata. Model kolaborasi ini cerdas. Di balik layar, jaringan dan reputasi Rachmat Gobel menjadi jembatan kepercayaan antara petani Gorontalo dan mitra internasional. Agrowisata yang dikembangkan tidak hanya mendatangkan devisa dari ekspor biji kakao, tetapi juga dari kunjungan wisatawan yang ingin melihat langsung bagaimana cokelat kualitas ekspor dihasilkan. Ini menciptakan sirkular ekonomi,kebun menjadi laboratorium, pabrik pengolahan menjadi pusat edukasi, dan lanskap pertanian menjadi destinasi.
Agroforestri sebagai Pilar.
Salah satu kekhawatiran dalam ekspansi perkebunan adalah deforestasi. Rachmat Gobel, yang juga dikenal sebagai pejuang lingkungan hidup, mendorong inisiatif agroforestri kakao. Kakao bisa ditanam di bawah naungan pohon pelindung seperti sengon atau kelapa. Model ini menghentikan praktik monokultur yang merusak tanah, sekaligus mendukung konservasi hutan dan keanekaragaman hayati. Bagi ekonomi lokal, agroforestri menyediakan sumber pendapatan tambahan dari kayu dan buah-buahan, menciptakan lanskap yang tangguh terhadap perubahan iklim. Ini adalah pertanian holtikultura yang cerdas secara ekologis dan ekonomis.
Masa Depan Pertanian Gorontalo: Tidak Harus Jagung Semata,
Selama ini, jagung adalah “raja” di Gorontalo, tetapi harganya yang tidak menentu,Rendah dan ketergantungan pada musim membuat petani sering kecewa. Kakao, ubi, dan kacang yang menjadi fokus ikhtiar Rachmat Gobel menawarkan alternatif yang lebih tinggi, stabil dan menguntungkan. Pohon kakao berbuah sepanjang tahun setelah masa remaja, sementara ubi dan kacang memberikan siklus panen pendek yang mengisi kas petani secara berkala. Dengan dukungan pemerintah daerah dan dorongan tak kenal lelah dari sektor swasta yang digerakkan oleh figur seperti Rachmat Gobel, komoditas ini bukan sekadar pengganti atau tambahan,ia adalah lompatan kualitas dalam struktur ekonomi pertanian Gorontalo.
Kakao, ubi, Kopi dan kacang di Kabupaten Pohuwato,Boalemo,Bone Bolango dan Kabupaten Gorontalo adalah mikrokosmos dari apa yang bisa dicapai pertanian Indonesia jika inisiasi, ikhtiar, dan keberpihakan nyata para petinggi Negeri seperti Rachmat Gobel bersinergi dengan hilirisasi, inovasi mutu, dan kemitraan internasional. Progress yang terus menunjukkan hasil sangat baik ini membuktikan bahwa pertanian bukanlah sektor sisa, melainkan masa depan. Dari biji yang difermentasi di kebun sederhana hingga menjadi cokelat di etalase internasional dan Nasional, Gorontalo kini sedang menulis babak baru. Bukan lagi sebagai pemasok bahan baku, tetapi sebagai mitra sejajar dalam rantai nilai global. Jika jagung dulu bisa, maka hari ini, di bawah naungan ikhtiar Rachmat Gobel, kakao dan holtikultura Gorontalo sedang mulai menyejahterakan petani, melestarikan hutan, dan mengharumkan nama Indonesia di panggung Pangan dunia.
Untuk itu Perlunya Pemerintah Daerah di Gorontalo segera menyambut inisiatif Mulia dari seorang Putra Daerah,Rachmad Gobel, yang tak pernah putus asa dalam Berpikir dan Bergerak membangun kemajuan Gorontalo.
Editorial oleh: dulwahab