Opini: Dulwahab (Jurnalis,Praktisi Eko Wisata).
Salah satu Tantangan dari sebuah event atau Mize adalah Kebosanan dan kejenuhan peserta event,itulah yang sering saya lihat di banyak event, makanya kenapa Banyak event atau Mize dibuat di daerah yang memiliki destinasi wisata alam dan budaya,contohnya Bali dan Lombok,kedua wilayah ini selalu menjadi langganan event bertaraf internasional dan Nasional.
Sesuai Pengalaman saya yg puluhan tahun Aktif di dunia Ekowisata,di Gorontalo ada beberapa destinasi Eko wisata yang disukai wisatawan atau peserta event dari kota Besar dan luar Negeri, contohnya Hiu Paus,Danau Limboto,Hutan Taman Nasional,Taman Laut Biluhu dan Olele serta Desa Puncak Dulamayo, Destinasi destinasi ini sangat indah dan unik yang itu bisa menghilangkan kejenuhan Peserta PENAS yang akan berlangsung selama 5 hari di Gorontalo.
Maka dari itu Beberapa destinasi Eko wisata itu harus dipersiapkan dan dibenahi serta dibersihkan dari sampah,Karna bisa Saja Presiden RI,Prabowo Subianto dan jajaran menterinya akan request dan berkunjung ke salah satu destinasi itu .
Kali ini Saya akan coba membahas tentang Danau Limboto yang indah dan unik itu,
Ada sebuah danau purba yang terbentang tenang di cekungan daratan Gorontalo. Airnya yang tenang dan terdapat air panas dipinggirnya menjadi tanda tanda usia yang telah mencapai ribuan bahkan jutaan tahun yg lalu akibat gejolak Geologi. Dialah Danau Limboto. Dan di bulan Juni ,20-25 Juni 2026 mendatang, danau ini tidak hanya menjadi latar belakang gelaran Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan, tetapi juga destinasi ekowisata yang akan membekas lama dalam ingatan setiap pesertanya.
Bayangkan,setelah seharian mengunjungi stan-stan teknologi pertanian dan pameran produk pangan di GIR David-Tony, peserta PENAS masih bisa merasakan denyut nadi kehidupan agraris yang sesungguhnya,bukan dalam bentuk display, melainkan langsung dari sumbernya. Danau Limboto adalah metafora hidup dari visi besar PENAS 2026, Pertanian, Perikanan, dan Pangan.
Keindahan yang Membuka dan Menutup Hari
Peserta PENAS yang menyempatkan diri Mengunjungi kawasan ekowisata sekitar danau akan disuguhi dua momen magis, sunrise dan sunset,serta Melihat Aktivitas Human interest Nelayan Tradisional di danau ini,Fajar di Danau Limboto datang seperti sapuan kuas lembut. Kabut tipis menari di atas permukaan air, sementara burung-burung air mulai beraktivitas. Saat matahari terbit dari balik Pegunungan Tilongkabila, cahaya keemasan memecah riak air danau, menciptakan cermin raksasa yang memantulkan langit.
Sore harinya, sunset Danau Limboto tak kalah dramatis. Langit jingga-kemerahan bergradasi menjadi ungu, sementara perahu-perau nelayan tradisional melintas dalam siluet sempurna. Di momen inilah para peserta yang mungkin lelah setelah berkeliling stand bisa merasakan ketenangan batin yang tak ternilai. Sebuah pelukan alam yang jarang ditemukan di kota-kota besar.
Danau Purba dengan Sejarah Panjang
Namun Danau Limboto bukan sekadar pemandangan. Ia adalah saksi bisu peradaban Gorontalo. Sebagai danau purba yang terbentuk jutaan tahun lalu, Danau Limboto menyimpan cerita tentang bagaimana masyarakat Gorontalo belajar hidup berdampingan dengan air. Nenek moyang orang Gorontalo menjadikan danau ini sebagai lumbung pangan, jalur transportasi, hingga sumber inspirasi budaya dan Ritual Kebudayaan.
Hingga kini, denyut kehidupan itu masih terasa. Para nelayan air tawar masih setia melabuhkan perahu longboat mereka setiap pagi dan Petang, Jaring-jaring ditebar untuk menangkap ikan mujair, nila, Manggabai dan gabus dan ikan ikan endemik Sulawesi dan Gorontalo lainnya seperti Hulu’u dan Huhemo,ini yang menjadi protein utama masyarakat sekitar. Sementara itu, di tengah danau, Ratusan keramba ikan terapung menjadi pemandangan khas. Di sinilah peserta PENAS bisa melihat langsung bagaimana budidaya ikan air tawar berlangsung,bukan sekadar teori, melainkan praktik hidup yang telah diwariskan lintas generasi.
Pertanian di Antara Lahan Basah
Beralih sedikit ke daratan, hamparan sawah dan ladang mengelilingi danau. PETANI kelapa, jagung, dan padi terlihat sibuk dari pagi hingga sore. Di musim tanam, pematang sawah menghijau di musim panen, gemerisik bulir padi menjadi musik tersendiri. Peserta PENAS yang berasal dari luar Gorontalo akan mendapat pengalaman langka, menyaksikan langsung siklus pertanian tropis di tanah yang subur oleh endapan danau purba.
Bagi para petani dan nelayan yang hadir sebagai peserta, melihat aktivitas ini bisa menjadi ruang belajar silang budaya. Bagi para penggiat UMKM, momen ini menginspirasi bagaimana produk pangan diolah dari hulu ke hilir. Dan bagi wisatawan umum, ini adalah edutainment yang sempurna.
Pentadio Resort: Akhir Hari yang Menyegarkan
Setelah lelah berkeliling danau, menaiki perahu nelayan, atau berjalan di antara keramba-keramba ikan, para peserta berhak memanjakan diri. Tak jauh dari bibir Danau Limboto, Pentadio Resort menawarkan pengalaman berbeda, berendam di kolam air panas alami. Air panas yang menyembul dari perut bumi ini dipercaya menyembuhkan pegal-pegal dan meregenerasi energi.
Namun Pentadio bukan hanya tentang berendam. Resort ini juga menyuguhkan kuliner khas Gorontalo yang menggoyang lidah,Bilentango (sup ikan kuning asam pedas), Sate Tuna, dan Milu Siram (jagung parut dengan santan dan ikan asin). Semua bahan bakunya ikan, jagung, kelapa berasal dari ekosistem Danau Limboto dan sekitarnya. Maka menikmati kuliner di sini terasa seperti menutup siklus ekowisata yang utuh.
Mengapa Ini Penting untuk PENAS 2026?
PENAS bukanlah konferensi meja bundar. Ia adalah perayaan akbar rakyat petani dan nelayan. Dengan menyertakan Danau Limboto sebagai destinasi ekowisata pendamping, panitia telah melakukan lompatan cerdas,mengubah sekadar event menjadi pengalaman holistik.
Peserta tidak hanya pulang dengan ilmu baru dari pameran atau buku-buku teknologi pertanian, tetapi juga dengan kenangan sensorik, rasa angin danau di wajah, aroma tanah basah, pemandangan keramba-keramba yang bergoyang lembut, serta kehangatan air belerang di kulit mereka dan Sunset Kemerahan yang Magis. Inilah yang disebut sebagai “sensasi wisata unik dan berkesan dalam Event yg luar biasa,bukan event yg biasa biasa saja yg datar dan menjenuhkan”.
Pada akhirnya, Danau Limboto bukan hanya menjadi “obyek wisata” bagi peserta PENAS 2026. Ia adalah guru bisu yang mengajarkan keberlanjutan,bahwa pertanian, perikanan, dan pangan tidak bisa dipisahkan dari alam yang menjaganya. Dan para peserta,baik dari Aceh ,Jakarta,Kalimantan,Jawa hingga Papua dan Luar Negeri akan membawa pulang satu pesan,Gorontalo telah menemukan cara untuk memuliakan masa lalunya melalui ekowisata yang memberdayakan masa depan.