Opini: Dulwahab. (Jurnalis,praktisi ekowisata).
Tahun 2026 menjadi momentum bersejarah bagi Provinsi Gorontalo. Untuk pertama kalinya, ajang bergengsi Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII akan digelar di Kabupaten Gorontalo, tepatnya di Kecamatan Limboto, pada 20 hingga 25 Juni 2026. Kepercayaan yang diberikan kepada Gorontalo sebagai tuan rumah ini bukan tanpa alasan. Provinsi yang dijuluki “Serambi Madinah” ini menyimpan kekayaan alam dan kearifan lokal yang luar biasa, salah satunya adalah Desa Agrowisata “Dulamayo”.
Terletak di Kecamatan Dulamayo Selatan, Kabupaten Gorontalo, Desa Dulamayo adalah perwujudan nyata harmoni antara alam, pertanian, dan konservasi. Dengan ketinggian mencapai 1.000 meter di atas permukaan laut, desa ini menawarkan pengalaman agrowisata yang lengkap dari hutan pinus yang memesona,negeri diatas awan,sunrise pagi, Berbagai Macam Tanaman,sistem pertanian tradisional yang bijak, hingga keberadaan satwa endemik Sulawesi yang langka.
Dalam konteks PENAS XVII yang mengusung semangat “Indonesia Lumbung Pangan Dunia” dan menampilkan teknologi pertanian modern hasil karya anak bangsa, Dulamayo hadir sebagai destinasi studi banding, wisata edukasi, dan bukti nyata bahwa pertanian dan konservasi dapat berjalan beriringan.
Sistem “Ilengi”: Kearifan Lokal yang Mendunia
Salah satu keunikan utama Desa Dulamayo yang jarang ditemukan di tempat lain adalah sistem agroforestri tradisional bernama “Ilengi”. Dalam bahasa setempat, Ilengi merujuk pada sistem kebun campuran yang secara turun-temurun dibentuk oleh masyarakat hingga strukturnya menyerupai hutan alam.
Apa yang membuat Ilengi begitu istimewa? Dalam satu hamparan lahan, petani di Dulamayo menanam berbagai jenis tanaman secara bersamaan,kopi, cengkeh, kemiri, kelapa, aren, durian, mangga, hingga pohon kayu seperti mahoni dan gmelina. Sistem ini tidak hanya menjadi sumber penghidupan utama masyarakat, tetapi juga berfungsi sebagai paru-paru desa yang menjaga kesuburan tanah, mencegah erosi, dan menyediakan habitat bagi satwa liar.
Bagi para peserta PENAS XVII yang sebagian besar adalah petani, penyuluh, dan pemerhati pertanian dari seluruh Indonesia, Ilengi adalah laboratorium hidup yang menawarkan pelajaran berharga. Sistem ini membuktikan bahwa produktivitas lahan tidak harus mengorbankan kelestarian lingkungan. Di tengah gencarnya promosi teknologi pertanian modern, Ilengi mengingatkan kita bahwa kearifan lokal yang berbasis keseimbangan ekosistem tetap relevan dan layak untuk diadopsi.
Kekayaan Hayati: Dari Flora hingga Fauna Endemik
Desa Dulamayo adalah surga bagi pencinta alam dan biodiversitas. Berdasarkan hasil penelitian pemetaan potensi agrowisata, desa ini memiliki kondisi iklim dan geografis yang ideal untuk budidaya berbagai jenis buah-buahan, antara lain apel, anggur, stroberi, melon, durian, duku, manggis, jeruk santang madu, alpukat, dan nangka, pala,cengkeh,kayu manis,kopi,Kombinasi suhu udara yang sejuk, kelembaban yang sesuai, dan curah hujan yang memadai menjadikan Dulamayo sebagai kawasan yang sangat potensial untuk perintisan agrowisata buah.
Namun, keistimewaan Dulamayo tidak berhenti pada tanamannya. Hutan di kawasan desa ini menjadi rumah bagi berbagai satwa langka endemik Sulawesi. Pengunjung yang beruntung masih dapat menjumpai Kera Hitam Sulawesi (Yaki) yang atraktif, Tarsius dengan matanya yang besar dan kemampuannya memutar kepala 180 derajat, Burung Rangkong sulawesi dengan paruhnya yang khas, serta Kuskus (Beruang Sulawesi) yang unik.
Keberadaan satwa-satwa ini menjadi indikator penting bahwa ekosistem wilayah area desa desa di kecamatan Dulamayo masih terjaga dengan baik. Bagi para petani dan nelayan yang hadir di PENAS XVII, kunjungan ke Dulamayo dapat membuka wawasan tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dalam mendukung keberlanjutan sektor pertanian dan perikanan.
Pesona Hutan Pinus,Negeri di Atas Awan dan Sunrise Pegunungan.
Daya tarik utama yang paling terkenal dari Desa Dulamayo Puncak adalah Hutan Pinus Dulamayo yang terletak di kawasan puncak. Dengan tiket masuk yang sangat terjangkau, sekitar Rp5.000 per orang, wisatawan dapat menikmati trekking ringan selama 30 menit menuju puncak yang menyuguhkan pemandangan tak terlupakan.
Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hari, saat matahari mulai terbit. Di sinilah fenomena “negeri di atas awan” terjadi,kabut tebal menyelimuti lembah, sehingga puncak-puncak gunung di sekitarnya tampak seperti pulau-pulau di lautan kapas. Sinar keemasan sunrise yang menyusup di sela-sela pepohonan pinus menciptakan momen yang sangat memukau dan menjadi incaran para fotografer alam.
Suasana dingin yang menusuk, suara kicauan burung endemik, dan hamparan kabut yang bergulung lembut menciptakan pengalaman meditatif yang sulit ditemukan di destinasi wisata lain. Di sini, para peserta PENAS dapat melepas penat setelah rangkaian acara yang padat, sekaligus menikmati kopi robusta asli Dulamayo yang terkenal dengan cita rasanya yang khas.
Dukungan Pemerintah dan Prospek Pengembangan
Pemerintah Kabupaten Gorontalo telah menunjukkan komitmen yang serius dalam mengembangkan kawasan Dulamayo. Melalui dana alokasi khusus (DAK) sebesar Rp14 miliar di zaman Bupati sebelumnya, kawasan ini direncanakan menjadi Kecamatan Telaga Puncak yang dikembangkan secara spesifik sebagai kawasan konservasi dan agrowisata. Pemerintah juga telah memulai penanaman 2.000 bibit buah apel pada tahun 2017 dan bercita-cita menjadikan daerah ini sebagai hutan pendidikan yang bekerja sama dengan Universitas Gorontalo.
Namun, tantangan tetap ada. Berdasarkan hasil penelitian tentang potensi akomodasi di Hutan Pinus Dulamayo, fasilitas pendukung seperti penginapan (homestay, villa, cottage) masih terbatas dan belum dikelola secara optimal. Beberapa villa yang ada umumnya milik perorangan dan tidak disewakan untuk wisatawan. Ini menjadi peluang emas bagi para pengusaha dan masyarakat lokal untuk mengembangkan usaha akomodasi dan kuliner yang dapat meningkatkan pendapatan ekonomi desa.
Dalam konteks PENAS XVII, kunjungan peserta ke Dulamayo dapat menjadi katalisator bagi percepatan pengembangan infrastruktur wisata di desa ini. Peningkatan jumlah pengunjung akan mendorong perbaikan akses jalan, penyediaan homestay yang layak, serta pengembangan paket wisata edukasi yang terstruktur.
Mengingat potensi luar biasa yang dimiliki Desa Dulamayo, berikut adalah beberapa rekomendasi untuk mengintegrasikan desa ini ke dalam rangkaian agenda PENAS XVII:
1. Studi Banding Agroforestri: Mengadakan sesi khusus kunjungan lapangan ke kebun Ilengi, di mana peserta dapat belajar langsung dari petani lokal tentang sistem tanam campuran yang berkelanjutan.
2. Wisata Sunrise di Hutan Pinus: Menjadikan kunjungan ke Hutan Pinus Dulamayo sebagai agenda “Morning Healing” bagi peserta, lengkap dengan sesi foto bersama dan menikmati kopi Dulamayo.
3. Pameran Produk Unggulan: Memanfaatkan area Hutan Pinus sebagai lokasi pameran produk pertanian dan perkebunan khas Dulamayo—kopi robusta, cengkeh, pala, serta berbagai buah-buahan segar.
4. Program Adopsi Pohon: Meluncurkan program simbolis “Adopsi Pohon” di kawasan konservasi Dulamayo, yang dapat diikuti oleh perwakilan peserta dari berbagai provinsi sebagai bentuk komitmen bersama terhadap pelestarian lingkungan.
5. Homestay Experience: Mendorong masyarakat setempat untuk membuka homestay sederhana sehingga peserta dapat merasakan langsung kehidupan petani di dataran tinggi Gorontalo.
Desa Agrowisata Dulamayo adalah permata tersembunyi yang layak mendapatkan sorotan di tingkat nasional. Dengan kekayaan hayati, kearifan lokal Ilengi, pesona alam hutan pinus, serta dukungan penuh dari pemerintah daerah, Dulamayo memiliki semua kriteria untuk menjadi destinasi unggulan dalam agenda PENAS XVII 2026.
Lebih dari sekadar tempat wisata, Dulamayo adalah cerita tentang harmoni antara manusia dan alam, antara tradisi dan modernitas, antara pertanian dan konservasi. Bagi para petani dan nelayan yang hadir dari berbagai penjuru Nusantara, kunjungan ke Dulamayo bukan hanya akan meninggalkan kesan mendalam, tetapi juga inspirasi baru untuk diterapkan di daerah masing-masing.
Mari jadikan PENAS XVII 2026 sebagai momentum kebangkitan agrowisata Gorontalo, dimulai dari Desa Dulamayo.
“Dulamayo bukan sekadar destinasi, ia adalah pembelajaran hidup tentang bagaimana bumi harus dijaga, bukan hanya dieksploitasi.