Oleh: dulwahab.
Jakarta – Pukul 10 pagi di Pasar Rawa Bening, Jatinegara. Beberapa kios tampak tutup. Pedagang yang masih bertahan duduk lesu menatap lorong yang tak lagi ramai. Suasana ini jauh berbeda dengan satu dekade lalu, ketika pasar ini bagaikan lautan manusia yang berdesakan demi sebutir batu mulia,batu akik.

Pasar Rawa Bening bukanlah pasar biasa. Berdiri sejak tahun 1974 sebagai pasar tradisional, tempat ini bertransformasi menjadi pusat perdagangan batu mulia terbesar di Asia Tenggara. Pada puncak kejayaannya sekitar tahun 2014-2015, demam batu akik melanda Indonesia. Pedagang bisa mengantongi omzet Rp 10 juta per hari, pengunjung membludak hingga Ribuan orang per hari mendatangi kios kios, dan harga batu bacan sempat menyentuh angka Rp 250 juta. Kolektor dari dalam dan luar negeri menjadikan Rawa Bening sebagai kiblat perburuan harta karun batu alam.
Namun, popularitas adalah sesuatu yang pasang surut. Seiring meredanya tren batu akik pasca 2015, pasar yang pernah menjadi primadona ini mulai kehilangan magnetnya. Peneliti INDEF Agung Satria Permana menyebut bisnis batu akik kini memasuki fase normalisasi,permintaan memang lebih kecil, namun berasal dari konsumen yang lebih loyal, yakni kolektor dan penghobi sejati.

Tiga Pukulan Beruntun
Setidaknya ada tiga faktor utama yang meredupkan kilau Rawa Bening.
Pertama, pandemi Covid-19 menjadi titik balik yang drastis. Penjualan batu akik turun drastis sejak saat itu. Seorang pedagang bernama Arif mengaku kini butuh waktu satu hingga dua bulan untuk menjual satu buah cincin batu akik. Bahkan, ada kalanya ia sama sekali tidak mampu menjual sebatang pun. “Kalau masih bisa bilang omzet per hari, itu sudah bagus sekali,” ujar pedagang lain, Jeje.
Kedua, daya beli masyarakat yang lesu. Batu akik tergolong barang hobi, sehingga menjadi pengeluaran pertama yang dikurangi di tengah ketidakpastian ekonomi. Pedagang Sandi Shadewo mengaku bersyukur jika dua atau tiga cincin bisa terjual dalam sehari, jauh dari masa jaya ketika omzet harian tembus Rp 10 juta. Kini, banyak pedagang yang terpaksa menutup kios karena tidak sanggup membayar listrik atau uang sewa. Bahkan, ada yang menjual batu akik senilai Rp 5-7 juta hanya dengan harga Rp 500 ribu demi memenuhi kebutuhan pokok.
Ketiga, gempuran pasar online. Platform digital menawarkan efisiensi biaya yang tidak bisa ditandingi pasar fisik. “Pulpen di pasar Rp 5.000, di online Rp 2.000. Mana bisa kami bersaing? Sudah murah, gratis ongkir pula,” keluh seorang pedagang. Pola transaksi pun berubah. Kini, lebih banyak orang datang menawarkan koleksi batu untuk dijual daripada membeli. Dalam sebulan, seorang pedagang bisa menerima 10-15 orang yang ingin melepas batu, sementara pembeli yang benar-benar membeli hanya satu atau dua orang.
Harga Sewa,Beban Berat di Pundak Pedagang
Masalah klasik yang tak kunjung usai adalah harga sewa kios. Sejak 2010, para pedagang sudah mengeluhkan harga counter dan kios yang terlalu mahal. Meski ada yang menyebut sewa bulanan sekitar Rp 200 ribu, bagi pedagang dengan omzet yang terus tergerus, angka itu tetap menjadi beban berat. Akibatnya, banyak kios tutup dan pedagang memilih bertahan di ranah digital yang jauh lebih murah.
Masih Ada Harapan, Rawa Bening Bisa Bangkit
Meski redup, bukan berarti padam. Pasar Rawa Bening masih memiliki modal besar untuk bangkit. Dengan lebih dari 900 tenant aktif dan sekitar 600 di antaranya khusus menjual dan mengolah batu mulia, ekosistemnya tetap hidup.
Beberapa strategi kerakyatan dan kreatif bisa menjadi jalan keluar.
Pertama, adaptasi digital. Banyak pedagang kini tidak hanya menjual secara langsung, tetapi juga melalui platform digital seperti TikTok, Instagram, dan YouTube. Kepala Pasar Rawabening Achmad Subhan mengatakan pihaknya terus mencari cara agar pusat batu akik terbesar di Asia Tenggara ini tetap hidup. Pasar boleh sepi secara fisik, tapi pembeli tetap bisa berdatangan lewat dunia maya.
Kedua, edukasi dan komunitas. Rawa Bening kini berfungsi lebih dari sekadar tempat transaksi,ia menjadi pusat edukasi dan komunitas. Pembukaan Sekretariat Bacan Academy di pasar ini menjadi langkah nyata untuk mendongkrak kembali batu asli Indonesia melalui edukasi kepada pedagang dan pembeli. Generasi Z pun mulai menunjukkan minat pada aksesoris batu, menjadikan mereka segmen pasar baru yang potensial.
Ketiga, event dan promosi offline. Para pedagang dan komunitas terus mempromosikan batu akik melalui berbagai event. Menariknya, banyak penjual yang sebelumnya hanya online kini mulai membuka toko fisik di Rawa Bening karena pembeli lebih percaya jika bisa melihat barang langsung. Ini menunjukkan bahwa kehadiran fisik tetap memiliki nilai tambah yang tidak tergantikan: kepercayaan.
Keempat, sertifikasi dan standardisasi. Peneliti INDEF menekankan pentingnya sertifikasi keaslian batu, standardisasi kualitas, dan transparansi informasi produk untuk meningkatkan daya saing. Di tengah maraknya batu imitasi di platform digital, kepercayaan konsumen menjadi faktor penentu.
Antara Bertahan dan Bangkit
Pasar Rawa Bening adalah cermin ekonomi rakyat yang sedang berjuang di tengah perubahan zaman. Kejayaannya mungkin tak akan kembali seperti dulu—sebab tren adalah sesuatu yang siklikal. Namun, bukan berarti ia harus mati. Dengan strategi kreatif yang menggabungkan kekuatan offline (pengalaman langsung, kepercayaan, komunitas) dan online (jangkauan luas, efisiensi), serta dukungan kebijakan yang berpihak pada pedagang kecil—Rawa Bening masih punya peluang untuk bersinar kembali.
Kilau batu mulia mungkin redup, tetapi selama para pedagangnya masih bertahan dan beradaptasi, denyut nadi Rawa Bening tak akan pernah benar-benar berhenti. Persoalannya sekarang: akankah pemerintah dan pemangku kepentingan hadir dengan kebijakan nyata, atau membiarkan paru-paru ekonomi rakyat ini pecah satu per satu?