dilansir parstoday, Presiden Vietnam, To Lam, dalam pidatonya di Forum Keamanan Shangri-La di Singapura, secara implisit mengecam tindakan koersif AS di panggung internasional, khususnya dalam memicu perang agresi terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa tatanan global harus dibangun di atas dialog dan pengendalian diri, bukan ancaman dan paksaan.
Dilansir IRNA dari NHK Jepang, 30 Mei 2026, To Lam menyatakan bahwa tatanan internasional harus dibangun melalui aturan, dialog, saling pengertian, dan pengendalian diri, bukan melalui paksaan, uniteralisme, atau ancaman kekerasan.
Ia kemudian merujuk pada perdamaian dan stabilitas di Asia-Pasifik, menekankan bahwa kawasan ini tidak hanya menginginkan kehadiran atau ketidakhadiran kekuatan besar mana pun (termasuk AS). Yang dicari adalah komitmen yang bertanggung jawab.
Forum Shangri-La ke-23 digelar di Singapura, dihadiri oleh menteri pertahanan, komandan militer, dan pakar keamanan dari Asia-Pasifik, Eropa, dan Amerika Utara. Dampak konflik Timur Tengah terhadap pasar energi global, komitmen AS di kawasan Indo-Pasifik, serta ketegangan di Selat Taiwan dan Laut China Selatan diperkirakan akan menjadi isu utama dalam diskusi tiga hari ini.
Pernyataan To Lam ini menjadi kritik halus, tetapi signifikan terhadap pendekatan AS di Asia dan Timur Tengah. Dengan tidak menyebut AS secara langsung, ia tetap menyampaikan pesan bahwa masa depan kawasan harus ditentukan oleh aturan dan rasa hormat, bukan oleh kekuatan militer semata. Ini adalah pengingat bahwa era uniteralisme mungkin perlahan berakhir.
Vietnam adalah Negara Asean yang Pernah berperang dengan Amerika,Vietnam berhasil mengusir dan Mengalahkan Amerika Serikat dalam Perang disekitar tahun 1965 hingga 1973