Editorial:
Selama masa kepemimpinannya sebagai Gubernur di Gorontalo yang hampir setahun ini,Dr Gusnar Ismail belum pernah melakukan Penggusuran atau pembongkaran Bangunan Milik Warga,Gubernur Gusnar pun belum Pernah Memarahi atau memakai maki warganya dan juga belum pernah Melihat Warganya di Aniaya didepannya. Hal ini tentu saja sebuah berkah dan prestasi Gubernur Gusnar dalam indeks Kemanusiaan,Demokrasi dan Pembangunan Rakyat.
Menurut banyak sumber info yg valid,Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail selama ini melaksanakan Puasa Sunah Nabi Muhammad Saw,yaitu puasa Senin Kamis dan ibadah Sholat yang Rutin.
Wajar saja hal yang Soe Soe,Panas atau sial dijauhkan Langit dari Lingkungan kehidupan pemerintahan Gubernur Gusnar.
Pemimpin dalam banyak tradisi nusantara bukan sekadar pengambil kebijakan, melainkan juga penjaga harmoni spiritual dan budaya. Di Gorontalo, ajaran leluhur menempatkan pemimpin—sering disebut sebagai “Khalifah” dalam dialektika lokal—sebagai sosok yang harus hidup dalam dua keselarasan: keselarasan dengan Tuhan (spiritualitas) dan keselarasan dengan adat istiadat.
Gubernur Gorontalo, Dr. Gusnar Ismail, dengan komitmennya menjalankan puasa sunah Senin-Kamis dan menjaga disiplin ibadah sholat, tidak hanya mencerminkan praktik religius pribadi, melainkan sebuah sikap yang sangat penting bagi masa depan rakyat dan kemajuan Gorontalo. Apa yang dilakukannya sesungguhnya adalah penghidupan kembali ajaran bijak orang-orang tua Gorontalo, bahwa kesalehan seorang pemimpin adalah sumber keberkahan dan pelindung bagi wilayah yang dipimpinnya.
Orang-orang tua leluhur Gorontalo dan para ulama setempat meyakini dengan kuat bahwa terdapat hubungan kausal antara kesalehan spiritual pemimpin dan kondisi wilayahnya. Menurut mereka, pemimpin yang rajin berpuasa dan mendirikan sholat akan menarik turunnya berkah, membawa keberuntungan, dan menciptakan suasana damai. Sebaliknya, wilayah akan menjadi “panas”—istilah lokal yang berarti penuh gejolak kekerasan, ketidaknyamanan, dan kekacauan—jika pemimpinnya jauh dari kehidupan ibadah.
Kata “panas” ini bukan sekadar metafora, melainkan gambaran konkret tentang kondisi sosial-politik yang penuh friksi, bencana yang kerap datang, serta proyek pembangunan yang mandek atau tidak membawa kemaslahatan. Dengan demikian, spiritualitas pemimpin dianggap sebagai semacam “pondasi gaib” yang menentukan apakah sebuah daerah akan sejahtera atau sengsara.
disiplin puasa dan sholat Gubernur Gusnar Ismail menjadi simbol sekaligus substansi. Puasa Senin-Kamis, di luar makna universalnya sebagai latihan pengendalian diri dan empati, dalam budaya Gorontalo merupakan bentuk mohutuo (kesungguhan) dan tanggap (kesadaran penuh) seorang pemimpin atas amanah yang diembannya. Dengan menahan lapar dan dahaga, seorang pemimpin diingatkan untuk tidak rakus terhadap kekuasaan dan sumber daya alam dan keuangan daerah.
Dengan menjaga sholat pada waktunya, ia dilatih untuk disiplin dan mengutamakan ketertiban—nilai yang kemudian diharapkan tercermin dalam tata kelola pemerintahan yang baik, tepat waktu, dan akuntabel. Ritual-ritual ini adalah cara untuk membersihkan niat (pikire) dan mengasah hati (wolota), sehingga kebijakan yang lahir bukan dari kepentingan pragmatis sesaat, melainkan dari kebijaksanaan dan kepedulian sejati.
Keyakinan bahwa pemimpin yang saleh akan mendatangkan berkah bagi wilayahnya mengandung hikmah sosiologis yang dalam. Pertama, pemimpin seperti itu cenderung memiliki integritas yang lebih terjaga, karena merasa diawasi oleh Yang Maha Melihat. Hal ini menjadi benteng alami terhadap hal negatif gelap, —penyakit yang sering menjadi sumber “kesialan” dan “masalah” bagi suatu daerah. Kedua, ketenangan batin yang diperoleh dari kedekatan dengan Tuhan membuat pemimpin lebih stabil secara emosional, tidak mudah terprovokasi, dan mampu mengambil keputusan dengan kepala dingin dalam situasi krisis. Ketiga, kesalehan pemimpin yang terlihat publik—jika dilakukan dengan tulus, bukan pencitraan—dapat menjadi teladan yang powerful. Ia menginspirasi birokrasi dan masyarakat untuk meniru nilai-nilai disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab, yang pada akhirnya menciptakan ekosistem sosial yang sehat dan produktif.
Namun, penting untuk menegaskan bahwa spiritualitas personal ini harus menjadi penggerak, bukan pengganti, dari kerja-kerja pemerintahan yang konkret. Puasa dan sholat Gubernur Gusnar Ismail baru bermakna penuh bagi kemajuan Gorontalo jika nilai-nilai di balik ritual itu—seperti keadilan, empati, dan disiplin—diterjemahkan dalam program-program yang menyentuh langsung kebutuhan rakyat: pendidikan yang berkualitas, layanan kesehatan yang terjangkau, infrastruktur yang memadai, dan ekonomi yang inklusif. Ajaran leluhur harus dibaca secara dinamis; “berkah” tidak boleh dimaknai secara pasif sebagai pemberian supernatural semata, tetapi juga sebagai hasil dari ikhtiar kolektif yang dijiwai oleh nilai-nilai luhur.
Gubernur Gusnar kini menghubungkan kembali kepemimpinan modern dengan kearifan lokal yang telah teruji waktu. Dalam perspektif orang Gorontalo, apa yang beliau lakukan bukan sekadar urusan privat, melainkan investasi spiritual untuk kesejahteraan publik. Saat pemimpin mengosongkan perutnya melalui puasa, di situlah ruang untuk mendengarkan suara rakyat terbuka lebar. Saat pemimpin menundukkan dahinya dalam sholat, di situlah kesombongan kekuasaan ditundukkan. Dan ketika kedua hal itu dilakukan dengan konsisten, masyarakat Gorontalo percaya, dati lo’o (bumi ini) akan menjadi sejuk, damai, dan dipenuhi keberuntungan—sebuah tanah yang tidak “panas” oleh masalah, tetapi subur oleh berkah dan harapan. Inilah esensi kepemimpinan menurut ajaran leluhur Gorontalo: memimpin dengan hati yang dekat kepada Tuhan, untuk bumi yang dekat kepada rakyatnya.