Editorial:
Setelah sukses mewujudkan beberapa program pembangunan dan janji kampanyenya, kini Gubernur Gusnar Ismail mewujudkan Pembangunan Masjid Raya Gorontalo dan Islamic center Gorontalo yang telah lama di idam idamkan oleh Rakyat Gorontalo.
Di tengah derap pembangunan dan realisasi janji-janjinya, Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menorehkan babak baru yang monumental bagi masyarakat daerah itu. Pada hari Jumat yang penuh berkah, 12 Desember 2025 (21 Jumadil Akhir 1447 H), di Desa Talulobutu Selatan, Kabupaten Bone Bolango, sebuah aspirasi panjang rakyat Gorontalo akhirnya menemukan bentuk fisiknya: dimulainya pembangunan Masjid Raya Gorontalo Islamic Centre (GIC). Momen peletakan batu pertama oleh Gubernur Gusnar Ismail dan Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie bukan sekadar seremonial proyek belaka, melainkan sebuah konvergensi antara komitmen politik, kerinduan spiritual, dan keluhuran adat.
Ritual pembukaan tidak dimulai dengan sekadar sambutan, tetapi dengan khidmatnya Momayango, suatu upacara adat penentuan titik utama fondasi yang dipimpin oleh Kadi Kota Gorontalo KH. Abdul Rasyid Kamaru beserta pemangku adat. Tradisi Momayango ini menyiratkan pesan mendalam: bangunan yang akan tegak bukan hanya sekadar tembok dan kubah, melainkan suatu entitas yang diharapkan abadi dan diberkahi, yang pondasinya ditancapkan dengan menghormati kearifan lokal serta doa. Ini adalah simbol bahwa GIC dirancang untuk menjadi jantung peradaban Islam Gorontalo yang menyatu dengan jati diri budaya masyarakatnya.
Dalam pidatonya, Gusnar Ismail dengan rendah hati mengakui bahwa gagasan besar ini adalah warisan aspirasi dari para pemimpin sebelumnya. “Pekerjaan yang sudah pernah digagas, dipikirkan, dan direncanakan oleh para gubernur sebelum saya,” ujarnya. Pengakuan ini mengangkat pembangunan GIC dari sekadar prestasi satu periode pemerintahan menjadi sebuah proyek peradaban kolektif yang kini memasuki fase eksekusi. Harapannya jelas: kelancaran yang didukung seluruh masyarakat dan, yang terpenting, ridha Ilahi.
Cakupan visi dari proyek ini tergambar dari laporan Ketua Yayasan Islamic Center Gorontalo, Wahyudin Katili. Kawasan seluas 40 hektar tidak hanya akan diisi oleh bangunan masjid yang megah, tetapi juga akan berkembang menjadi sebuah integrated complex dengan pusat dakwah, destinasi wisata, sport center, dan area UMKM. Rancangan ini menunjukkan niat untuk menciptakan pusat gravitasi baru yang memadukan fungsi ibadah, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan rekreasi sehat. Transparansi mengenai pembebasan lahan seluas 1,6 hektar senilai lebih dari Rp 2 miliar, yang sebagian didanai donatur, juga mencerminkan upaya kemandirian dan partisipasi komunitas.
Kehadiran yang lengkap dari unsur Forkopimda, Bupati Bone Bolango Ismet Mile, Ketua PKK Nani Ismail Mokodongan, hingga tokoh agama, adat, dan masyarakat, memperkuat narasi bahwa proyek ini adalah milik bersama. Mereka bukan hanya sebagai pengantar, melainkan sebagai saksi sekaligus penanggung jawab moral atas kelangsungan tahap selanjutnya: review engineering detail yang akan berlangsung 3-4 bulan sebelum konstruksi fisik benar-benar dimulai.
peletakan batu pertama ini adalah sebuah janji yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Ia adalah sebuah permulaan yang dirayakan dengan khidmat adat dan doa, mengawali perjalanan panjang menuju terwujudnya sebuah ikon kebanggaan dan pusat peradaban Islam di Gorontalo yang inklusif dan multifungsi. Sejarah baru telah dimulai, dengan sebuah batu pertama sebagai penanda abadinya harapan.
Semakin di hajar dan di persekusi, semakin pula Gubernur Gusnar Menunjukan Prestasi dan kinerjanya untuk Rakyat Gorontalo,Gusnar Jawab Fitnah dan Cercaan dengan Bukti Kinerja dan prestasi Gemilang, Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu…