Oleh: dulwahab (praktisi ekowisata/jurnalis).
Provinsi Gorontalo, yang dikenal dengan julukan “Bumi Serambi Madinah”, menyimpan kekayaan sejarah yang luar biasa. Dari Benteng Otanaha peninggalan abad ke-16 hingga Makam Tua Peninggalan Kerajaan dan Sejarah Islam klasik pada abad ke 16 masehi,serta Bangunan era Kolonial di abad ke 19 masehi.
situs-situs bersejarah ini bukan sekadar tumpukan batu tua atau bangunan kuno. Di era modern, situs bersejarah telah bertransformasi menjadi aset pariwisata multidimensi yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi daerah.
Namun, potensi besar ini belum sepenuhnya tergarap secara optimal. Tulisan ini akan mengupas bagaimana situs sejarah dapat menjadi katalis peningkatan kunjungan wisata, penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta penggerak ekonomi kerakyatan di Gorontalo.
Situs Sejarah sebagai Daya Tarik Wisata Unggulan
Di tengah maraknya wisata buatan, situs bersejarah menawarkan sesuatu yang tak tertandingi: otentisitas. Benteng Otanaha,misalnya, berdiri megah di atas perbukitan Kelurahan Dembe I dengan pemandangan langsung ke Danau Limboto. Dibangun pada abad ke-16 di era kolonial zaman Portugis dan direkatkan dengan putih telur burung Maleo, benteng ini menjadi simbol kebanggaan masyarakat Gorontalo sekaligus ikon budaya lokal.
Keunikan arsitektur dan narasi sejarah yang melekat pada setiap situs menciptakan unique selling point yang sulit ditiru. Makam Raja Bongkod yg unik dan Tua.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dalam kunjungan kerjanya ke Gorontalo pada Oktober 2025, menegaskan bahwa Benteng Otanaha memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat kegiatan budaya dan destinasi wisata unggulan di Kawasan Timur Indonesia. Beliau menyoroti pentingnya menjadikan benteng tersebut sebagai simpul aktivitas ekonomi kreatif berbasis warisan budaya.
Kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Sektor pariwisata memiliki peran strategis dalam meningkatkan penerimaan daerah. Pada tahun 2023, kontribusi PDRB sektor pariwisata Gorontalo mencapai 2,40% dengan kriteria Sangat Baik. Pemerintah Kabupaten Bone Bolango mencatat kontribusi sektor pariwisata yang signifikan, mencapai sekitar 560 juta Rupiah pada tahun 2024.
Dampak terbesar dari pengembangan wisata sejarah mungkin terasa di tingkat akar rumput. Keberadaan situs bersejarah menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang masif bagi ekonomi kerakyatan.
Pertama, penyerapan tenaga kerja. Pemandu wisata, pelaku UMKM kuliner, pengrajin cinderamata, hingga pengelola homestat mendapat manfaat langsung dari kedatangan wisatawan. Menteri Fadli Zon mendorong pengembangan produk merchandise seperti desain kaos, mug, atau cendera mata khas Benteng Otanaha yang mencerminkan identitas Gorontalo.
Kedua, pemberdayaan UMKM. Di Villa Desaku Molowahu, hampir 20 pelaku UMKM telah menetap dan membuka lapak, mayoritas adalah ibu rumah tangga yang kini mampu berdiri mandiri secara ekonomi. Festival seperti Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) 2025 mencatat 9.500 pengunjung dengan transaksi Rp3,3 miliar, melibatkan 28 UMKM fashion dan kerajinan serta 22 booth kuliner.
Ketiga, pariwisata berbasis masyarakat. Dengan konsep atraksi wisata yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat, keuntungan yang dihasilkan langsung dinikmati oleh warga, menciptakan dampak ekonomi yang positif bagi kesejahteraan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Gorontalo pun membentuk desa wisata seperti Desa Tontayuo dan Desa Tinelo sebagai cikal bakal pengembangan pariwisata berbasis komunitas.
Tantangan dan Strategi Pengembangan
Meskipun potensi besar, pengembangan wisata sejarah di Gorontalo menghadapi sejumlah tantangan. Bencana longsor yang melanda Benteng Otanaha pada Juli 2024 mengakibatkan kerusakan pada bagian kiri benteng dan pagarnya, sementara kunjungan wisatawan sempat menurun.
Untuk mengoptimalkan peran situs sejarah dalam mendorong pariwisata dan ekonomi, beberapa langkah strategis perlu diambil:
1. Revitalisasi dan perawatan berkelanjutan. Pengelola wisata harus membuat terobosan dan inovasi agar tidak mudah ditinggalkan wisatawan.
2. Pengelolaan terpadu. Menteri Fadli Zon menegaskan pengelolaan situs bersejarah perlu dilakukan secara terpadu, melibatkan pemerintah daerah, pelaku budaya, dan masyarakat setempat.
3. Promosi dan pemasaran. Dinas Pariwisata didorong untuk lebih meningkatkan PAD melalui pengembangan sektor pariwisata yang lebih terarah dan kolaboratif.
4. Pengembangan ekonomi kreatif. Situs sejarah perlu diintegrasikan dengan aktivitas ekonomi kreatif berbasis warisan budaya, mulai dari seni, kuliner tradisional, hingga produk merchandise.
Situs bersejarah di Gorontalo bukan sekadar monumen masa lalu—ia adalah jembatan antara ekonomi dan identitas. Di satu sisi, situs-situs seperti Benteng Otanaha, benteng orange, Makam raja blongkod,masjid tua Hunto,makam Raja Tangahu di suwawa,makam Jupanghola di bukit danau imboto, Museum Pendaratan Soekarno, dan Monumen Nani Wartabone menjadi daya tarik unik yang mendatangkan wisatawan dan menyumbang pendapatan daerah. Di sisi lain, ia menjadi pengingat akan perjuangan dan peradaban yang membentuk jati diri masyarakat Gorontalo.
Dengan pengelolaan yang bijak, pelestarian yang berkelanjutan, dan pemberdayaan masyarakat yang inklusif, situs sejarah dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi kerakyatan sekaligus penjaga ingatan kolektif bangsa. Seperti yang diungkapkan Menteri Fadli Zon, Benteng Otanaha adalah contoh konkret bagaimana peninggalan masa lalu dapat dihidupkan kembali untuk masa depan, memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan memperkuat identitas budaya bangsa.
Sudah saatnya Gorontalo menjadikan warisan sejarahnya bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai fondasi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Belajar dari Yogyakarta
Yogyakarta: Laboratorium Living Heritage dan Pelajaran Berharga bagi Gorontalo
Sebagai Daerah Pariwisata Raksasa di Indonesia, Yogyakarta mampu mengkombinasikan destinasi pariwisatanya dari Alam,situs sejarah dan Kebudayaan serta Event,Yogyakarta merupakan laboratorium sekaligus etalase paling nyata bagi Indonesia dalam mengelola warisan sejarah sebagai fondasi utama pariwisata yang berkelanjutan. Keberhasilan kota ini tidak semata-mata bertumpu pada megahnya Candi Borobudur atau eksotisme Keraton, melainkan pada kemampuan istimewanya dalam mengemas warisan sebagai living heritage—entitas yang terus hidup, berdenyut, dan berinteraksi dengan dinamika masyarakat modern, bukan sekadar artefak mati yang terpajang dalam etalase kaca. Bagi Gorontalo yang tengah menggali potensi wisata sejarahnya, terdapat tiga pelajaran fundamental yang dapat dipetik dari kesuksesan Yogyakarta: pengelolaan keberagaman situs secara terpadu, dampak ekonominya yang terukur, serta strategi inovatif dalam menghidupkan narasi sejarah.
Ekosistem Situs yang Saling Melengkapi
Keistimewaan Yogyakarta tidak terletak pada satu monumen tunggal, melainkan pada ekosistem situs yang saling melengkapi dan menciptakan kedalaman pengalaman bagi wisatawan. Di puncaknya, Candi Borobudur sebagai candi Buddha terbesar di dunia dan Candi Prambanan sebagai candi Hindu terbesar di Indonesia berfungsi sebagai destinasi utama berkelas dunia yang diakui UNESCO, yang daya tariknya diperkuat melalui atraksi budaya spektakuler seperti Sendratari Ramayana. Tak kalah penting, Keraton Yogyakarta Hadiningrat tetap berdenyut sebagai pusat budaya yang hidup, di mana museum kereta kencana, pusaka, dan naskah kuno menyatu dengan kehidupan masyarakat di kawasan pendukung seperti Taman Sari yang kini menjelma menjadi kampung wisata.
Di sisi lain, kompleks Makam Raja-Raja Imogiri dan makam di Kotagede menghadirkan dimensi wisata spiritual yang memikat peziarah dengan nilai arsitektur dan religi yang tinggi. Kawasan Kota Tua Kotagede pun menawarkan pengalaman berbeda dengan suasana kota tua, rumah-rumah Jawa klasik, hingga kerajinan perak yang mendunia. Sementara itu, Benteng Vredeburg yang dikelilingi gedung-gedung tua kolonial berhasil bertransformasi menjadi museum interaktif sekaligus ruang publik komunal dengan fasilitas modern. Harmoni antarragam situs inilah yang menciptakan narasi sejarah yang utuh dan membuat wisatawan betah berlama-lama.
Kontribusi Ekonomi yang Signifikan
Keberagaman dan pengelolaan yang matang tersebut berkontribusi langsung pada pendapatan daerah secara signifikan. Di Kota Yogyakarta, sektor pariwisata menjadi kontributor utama peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang melonjak dari Rp563 miliar pada tahun 2020 menjadi lebih dari Rp855 miliar pada tahun 2024. Demikian pula di Kabupaten Sleman, hingga September 2024, sektor pariwisata telah menyumbang Rp283,53 miliar atau setara dengan 34,74 persen dari total PAD, dengan kontribusi terbesar berasal dari pajak hotel dan restoran yang mengindikasikan tingginya tingkat kunjungan dan lama tinggal wisatawan. Angka-angka ini membuktikan bahwa pengelolaan situs sejarah yang profesional bukan sekadar pelestarian budaya, melainkan investasi ekonomi yang memiliki efek berganda (multiplier effect) yang masif bagi masyarakat sekitar.
Strategi Kunci: Menghidupkan Sejarah
Keberhasilan monumental ini tidak terjadi secara kebetulan. Jantung dari kesuksesan Yogyakarta terletak pada strategi berani dalam menghidupkan kembali situs-situs sejarah melalui revitalisasi dan reimajinasi. Pendekatan yang dikenal dengan tiga pilar—reprogramming (penataan ulang fungsi), redesigning (perancangan ulang tata ruang), dan reinvigorating (penyegaran kembali)—telah diterapkan secara konsisten. Benteng Vredeburg adalah contoh konkret, di mana bangunan pertahanan kolonial disulap menjadi ruang publik yang menyediakan co-working space dan kedai kopi, tanpa menghilangkan esensi sejarahnya.
Selain itu, pemanfaatan teknologi menjadi kunci untuk menjangkau generasi masa kini. Penggunaan realitas tertambah (augmented reality) dan peta digital memberikan pengalaman imersif yang membuat sejarah terasa hidup dan relevan. Yang tak kalah penting, Yogyakarta menerapkan pelestarian kawasan secara terpadu—bukan hanya bangunan individu yang dilindungi, melainkan seluruh kawasan dan koridor sejarah, seperti Sumbu Filosofi yang juga diakui UNESCO. Pendekatan holistik ini memastikan bahwa nilai historis tetap terjaga dalam tatanan kota yang terus berkembang.
Yogyakarta bisa menjadi cermin jernih yang menunjukkan bahwa kekayaan sejarah dapat menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi kerakyatan. Situs-situs seperti Benteng Otanaha, Masjid Hunto Sultan Amai,Makam raja blongkod,Jupanghola,kota Tua dan Museum Pendaratan Soekarno memiliki potensi serupa untuk dikembangkan menjadi destinasi unggulan. Kuncinya terletak pada perubahan paradigma fundamental: dari menganggap situs sebagai benda mati peninggalan masa lalu menjadi aset hidup yang dikelola secara profesional, dikemas dengan menarik, dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat.
Dengan menerapkan strategi serupa—menciptakan ekosistem situs yang saling terkait, memanfaatkan teknologi untuk pengalaman imersif, serta merevitalisasi fungsi ruang tanpa meninggalkan nilai historis—Gorontalo memiliki peluang besar untuk meningkatkan kunjungan wisata dan memastikan bahwa manfaat ekonominya mengalir hingga ke akar rumput. Pada akhirnya, Yogyakarta telah membuktikan bahwa masa depan pariwisata terletak pada kemampuan kita menghidupkan masa lalu untuk kesejahteraan masa kini.