Oleh : dulwahab (jurnalis
Dalam kajian arkeologi dan sejarah Nusantara, makam Fatimah Binti Maimun di Gresik, Jawa Timur, menempati posisi yang istimewa. Sebagai salah satu bukti arkeologis tertua masuknya Islam di Indonesia, makam ini tidak hanya menyimpan nilai religius dan historis, tetapi juga membuka jendela luas untuk memahami jejak hubungan peradaban antara Nusantara dan Persia (Iran modern) yang telah berlangsung jauh sebelum Islam datang. Menariknya, Jika kita Lihat ada kemiripan antara makam Fatimah Binti Maimun dengan makam Cyrus Agung di Pasargadae, Iran-Persia .
sebuah kesamaan yang menggugah pertanyaan tentang bagaimana dua monumen dari zaman dan peradaban yang berbeda dapat memiliki keterkaitan visual dan kultural.
Makam Fatimah Binti Maimun Bin Hibatullah terletak di Desa Leran, Kecamatan Manyar, sekitar 5 kilometer arah utara kota Gresik, Jawa Timur. Batu nisan pada makam tersebut menunjukkan bahwa Fatimah wafat pada hari Jumat, 7 Rajab 475 Hijriyah, atau bertepatan dengan 2 Desember 1082 Masehi. Penanggalan ini menjadikannya salah satu nisan kubur Islam tertua yang ditemukan di Nusantara saat ini.
Makam ini diteliti peneliti belanda dan Prancis di sekitar tahun 1911,Batu nisan Fatimah ditulis dalam bahasa Arab dengan huruf kaligrafi bergaya Kufi Persia, yang merupakan ciri khas kaligrafi Arab-Persia pada masa itu.
Jejak Persia di Sekitar Makam
Sejumlah bukti arkeologis menguatkan dugaan bahwa Fatimah Binti Maimun berasal dari Persia. Dari namanya, Fatimah Binti Maimun Bin Hibatullah diperkirakan merupakan cucu penguasa atau raja di Loran, Persia. Nama “Leran” sendiri,lokasi makam di Gresik diduga memiliki kaitan dengan “Loran,” sebuah nama tempat di Persia.
Di sekitar kompleks makam, ditemukan berbagai artefak yang memperkuat jejak Persia tersebut. Penggalian arkeologis di sekitar Leran pada tahun 1996 mengungkap sejumlah besar temuan, terutama keramik-keramik Cina. Selain itu, ditemukan pula mangkuk-mangkuk keramik yang berasal dari abad ke-10 dan 11 Masehi. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa kawasan Leran pada abad ke-10 dan 11 merupakan sebuah kota pelabuhan yang ramai dikunjungi kapal-kapal dagang dari tanah Arab, Persia, dan India .
Beberapa Peneliti Indonesia menyatakan bahwa Fatimah Binti Maimun kemungkinan adalah keturunan dari pedagang Arab-Persia dari hasil perkawinannya dengan wanita pribumi Jawa. Lebih lanjut, para pedagang Muslim pada masa itu tidak sekadar berdagang, tetapi juga berperan sebagai mubaligh dan sufi yang menyebarkan Islam melalui jaringan perdagangan dan intelektual yang membentang dari Timur Tengah hingga Nusantara,Namun Ada juga Pandangan Bahwa Orang Orang Persia ke Nusantara karna Hubungan Pemerintahan dan Militer dan Keluarga Serta Agama.
Makam Cyrus Agung,Keagungan Arsitektur Persia Kuno
Di sisi lain dunia, sekitar 2.600 tahun sebelum makam Fatimah dibangun, mausoleum Cyrus Agung berdiri megah di Pasargadae, Provinsi Fars, Iran. Cyrus Agung adalah pendiri Kekaisaran Achaemenid kuno yang memerintah pada abad ke-6 SM. Makam ini dibangun sekitar tahun 540-530 SM dari batu gamping putih.
Secara arsitektural, makam Cyrus memiliki bentuk yang sederhana namun monumental, sebuah ruang makam berbentuk persegi (6,40 x 5,35 meter) yang berdiri di atas alas yang terdiri dari enam undakan (13,35 x 12,30 meter). Atapnya berbentuk segitiga (pelana) dengan satu sisi pintu masuk. Meskipun tidak memiliki prasasti atau relief, identifikasi makam ini sebagai makam Cyrus dipastikan melalui deskripsi dalam karya sejarawan Yunani kuno seperti Arrian dan Strabo. Desain makam ini menarik karena tampak menggabungkan aspek arsitektur Elam dan Mesopotamia.
Yang menarik, makam Cyrus dibangun dengan wujud yang sangat sederhana,sebuah kesederhanaan yang kontras dengan keagungan kekaisaran yang dipimpinnya. Para arsitek dan pemahat batu Cyrus kemungkinan berasal dari wilayah yang baru ditaklukkan seperti Lidia dan Ionia, yang membawa keahlian luar biasa dalam pengerjaan batu. Kesederhanaan ini justru menjadi ciri khas yang membedakannya dari monumen raja-raja kuno lainnya.
Kemiripan Arsitektural, Sebuah Pengamatan
Jika kita membandingkan kedua makam ini,Fatimah Binti Maimun di Gresik dan Cyrus Agung di Pasargadae Iran,beberapa kemiripan arsitektural menarik untuk dicermati. Makam Fatimah Binti Maimun memiliki bentuk yang oleh sebagian pengamat disebut “mirip candi”. Makam ini juga memiliki cungkup atau atap pelindung di atasnya, sebuah ciri yang mengingatkan pada bentuk atap pelana makam Cyrus.
Kesamaan lain terletak pada penggunaan batu sebagai bahan utama dan pendekatan arsitektural yang sederhana namun khidmat. Kedua makam dibangun tidak dengan kemegahan yang berlebihan, melainkan dengan kesederhanaan yang justru mencerminkan penghormatan mendalam kepada yang dimakamkan. Batu nisan Fatimah dengan kaligrafi Kufi bergaya Arab-Persia memiliki kemiripan gaya dengan prasasti-prasasti Persia kuno dalam hal penggunaan aksara yang artistik dan dekoratif.
perlu dicatat bahwa kemiripan ini tidak serta-merta menunjukkan hubungan langsung atau pengaruh arsitektural. Namun, keberadaan Fatimah Binti Maimun sebagai tokoh yang berasal dari Persia dengan segala bukti arkeologis dan historis yang mendukungnya membuka kemungkinan bahwa tradisi arsitektural Persia tertentu terbawa ke Nusantara dan berakulturasi dengan budaya lokal.
Hubungan Nusantara-Persia,Sebuah Narasi Panjang
Kemiripan antara kedua makam ini tidak dapat dipahami secara terpisah dari sejarah panjang hubungan antara Nusantara,Peradaban Sansekerta dan Persia Kuno. Sebelum Persia menjadi Islam pada abad ke sekitar 8 masehi, orang-orang Arya Persia sejak ribuan tahun lalu telah berinteraksi dengan kawasan Asia Selatan dan Nusantara.
Bangsa Arya,kelompok kuno penutur bahasa Indo memengaruhi pembentukan budaya India dan Persia. Dalam kitab suci Avesta, orang-orang Iran kuno menggunakan istilah arya (aria) untuk menunjuk diri mereka sebagai kelompok etnik. Kesamaan ini tercermin dalam berbagai aspek budaya, termasuk dalam kisah epik Mahabarata yang populer di kalangan bangsa Arya India Bahkan, beberapa peneliti melihat bahwa kisah Mahabarata merupakan cerminan dari dinamika antara bangsa Arya dan Indo-Arya. Keterkaitan antara peradaban India dan Persia juga terlihat dari tradisi bahwa pendeta Brahmana India pernah menetap di Persia dan Asia Kecil. Ada sekitar 35 persen bahasa Persia di bahasa sansekerta.
Agama Zoroaster yang lahir di Persia sekitar milenium kedua SM juga menunjukkan keterkaitan dengan tradisi keagamaan India kuno. Sebelum Zoroaster, orang Persia kuno memuja dewa-dewa dari agama Iran-Arya lama yang paralel dengan agama Indo-Arya yang kemudian dikenal sebagai Hindu. Agama Zoroaster berkembang dari agama kuno yang pernah dianut bersama oleh nenek moyang suku-suku yang menetap di Iran dan India utara.
Jalur Keturunan Ibrahim dan Penyebaran ke Nusantara
Narasi hubungan Nusantara-Persia juga dapat ditelusuri melalui jalur genealogis dan teologis. Nabi Ibrahim, yang berasal dari wilayah Irak atau Babilonia-Mesopotamia, merupakan figur sentral dalam tradisi agama-agama Samawi.
Dari keturunan Nabi Ismail yang oleh banyak pihak dimasukkan dalam kategori orang Ariani (Aryani) lahirlah generasi yang kemudian melahirkan Nabi Muhammad SAW. Keturunan Nabi Muhammad kemudian menyebar luas ke berbagai wilayah, termasuk Jazirah Arab, Afrika Barat, Asia Selatan,Nusantara. Jalur penyebaran ini tidak hanya bersifat genealogis tetapi juga kultural dan spiritual, membawa serta tradisi, nilai, dan bahkan elemen arsitektural dari tanah asal mereka.
Teori Persia tentang masuknya Islam ke Nusantara menyatakan bahwa Islam dibawa oleh para musafir dan pedagang dari Persia yang dalam perjalanannya singgah di Gujarat sebelum tiba di Nusantara. Teori ini diperkuat dengan adanya unsur Persia dalam kebudayaan Islam di Nusantara, serta maraknya Keyakinan dan Tradisi Syiah pada awal masuknya Islam ke Nusantara.
Mayoritas Hampir 99 persen Orang Orang Persia Menerima Islam Wilayah wilayah Kerajaan Persia Menjadi Wilayah Muslim,Apalagi Sejak Khalifah Ali bin Abi Thalib memindahkan ibukota Islam dari Medinah ke Kufah Irak,Sehingga Berkembanglah Budaya Islam bergaya Persia yang kemudian Menyebar ke seluruh dunia.irak saat itu adalah Wilayah Persia,Orang orang Arab Medinah mengikuti Ali bin Abi Thalib ke Irak,Ali bin Abi Thalib terterima di Irak,banyak Orang Persia Mendukung kekhalifahan yg dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib,sepupu Nabi Muhamad SAW dan Suami dari Fatimah,Anak Nabi Muhammad Saw, Husein,Cucu Nabi,Anak dari Ali bin Abi Thalib Menikah dengan Syahribanu, Saah satu Putri di Kerajaan Persia.
Walahualam bishawab.
Bersambung..