Di tengah tekanan terhadap rupiah dan fluktuasi indeks saham, muncul seruan agar pemerintah tak hanya mengandalkan instrumen moneter, tetapi juga menggerakkan kekuatan riil ekspor nasional. Anggota Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel, menilai bahwa eksportir nasional,mulai dari pemain besar hingga UMKM seharusnya diundang ke meja kebijakan untuk bahu-membahu memperkuat ekonomi.
Seruan itu disampaikan Gobel menanggapi langkah aktif Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, yang terus mengoordinasikan berbagai kementerian dan lembaga dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Menteri ESDM, hingga Kepala BP BUMN yang juga COO Danantara. Koordinasi tersebut, menurut Gobel, adalah bagian dari upaya mencari jalan keluar sistematis atas pelemahan kurs dan guncangan pasar. Beberapa poin yang dibahas antara lain tindak lanjut kebijakan baru ekspor batubara, minyak sawit, dan nikel melalui BUMN DSI, serta upaya peningkatan ekspor migas dan investasi asing.
Namun, Gobel menekankan bahwa kebijakan tak boleh berpusat pada komoditas tambang semata. Pemerintah, ujarnya, perlu memperluas fokus ke sektor industri manufaktur dan pangan yang menyerap tenaga kerja besar serta mendorong pemerataan ekonomi. “Perhatikan juga sektor industri, manufaktur, dan pangan. Ini menyerap tenaga kerja yang besar dan mendorong pemerataan ekonomi,” katanya, Rabu (10/6).
Menurut Rachmat Gobel, sejumlah langkah strategis dapat segera diambil, antara lain menurunkan biaya logistik, digitalisasi bea cukai, efisiensi kontainer, perbaikan tata kelola pelabuhan, hingga kemudahan transportasi ke pelabuhan. Selain itu, pemerintah melalui KBRI di berbagai negara dinilai perlu aktif melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor, agar tak hanya bergantung pada pasar tradisional seperti AS dan China. “Ini juga bisa mengurangi risiko geopolitik dan perlambatan ekonomi global,” ujarnya.
Langkah awal yang paling mendesak adalah mengundang para eksportir nasional, termasuk dari UMKM. “Sinergi ini sangat penting dalam rangka menyatukan energi nasional demi persatuan dan ketahanan ekonomi nasional,” tegas Gobel.
Salah satu sorotan utama Gobel adalah paradoks kontribusi UMKM. Di dalam negeri, UMKM menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja dan menyumbang 60 persen terhadap PDB. Namun kontribusinya terhadap ekspor hanya sekitar 15 persen. “Terjadi paradoks. Pemerintah harus membantu UMKM agar bisa berkontribusi terhadap ekspor,” katanya.
Gobel menyajikan perbandingan: di Jepang, kontribusi UMKM terhadap PDB, serapan tenaga kerja, dan ekspor masing-masing sekitar 50 persen, 70 persen, dan 50 persen. Di China, angka itu mencapai 60 persen, 80 persen, dan 70 persen. “Relatif ada konsistensi antara kontribusi terhadap PDB dan penyerapan tenaga kerja dengan kontribusi terhadap ekspornya,” ujarnya. Padahal potensi produk UMKM mulai dari makanan, rempah, fesyen, furnitur, herbal, kerajinan, produk halal, hingga ekonomi kreatif sangat besar.
Untuk menggenjot ekspor nasional, Gobel mendorong pemerintah menyediakan kredit ekspor, asuransi perdagangan, dan insentif pajak. “Dengan naiknya ekspor maka Indonesia akan lebih banyak memiliki dolar,” tegasnya.
Gobel juga mengingatkan bahwa industri nasional dan UMKM akan lebih tangguh jika diiringi pengendalian impor. “Impor ini akan menghabiskan dolar dan menurunkan kurs rupiah,” katanya. Karenanya, pemerintah diminta membatasi impor produk yang sudah bisa diproduksi dalam negeri, bahkan melarang impor tekstil dan garmen yang memuat motif tradisional Indonesia.
“Pasar Indonesia yang besar itu aset. Ini yang dilakukan Amerika Serikat melalui kebijakan tarifnya dan yang dilakukan China dengan memaksa produsen asing untuk memproduksi barangnya di China. Kita justru menghancurkan pasarnya sendiri,” ujarnya.
Gobel menutup dengan catatan struktural, ekonomi berbasis tambang tidak berkelanjutan dan cenderung padat modal. Pemerintah harus lebih kuat berpihak pada industri, UMKM, dan pangan. “Kita harus berpikir untuk jangka panjang, berdimensi pemerataan, dan membangun kualitas sumber daya manusia,” katanya. Hanya dengan cara itu, indeks saham dan kurs rupiah akan tahan banting terhadap guncangan spekulan.
Editor: dulwahab