Gorontalo punya mimpi besar. Bukan sekadar membangun pabrik atau menggandeng investor, tetapi mengubah wajah kemiskinan yang selama 15 persen lebih membelenggu warganya. Caranya? Lewat seekor ayam. Atau lebih tepatnya, melalui hilirisasi ayam terintegrasi.
Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, dengan penuh keyakinan melontarkan gagasan ini di tengah Rapat Paripurna Istimewa DPRD dalam rangka HUT ke-19 Kabupaten Gorontalo Utara, Minggu (26/4/2026). Baginya, ini bukan sekadar proyek industri. Ini adalah penanda transformasi pembangunan.
“Insya Allah akan terwujud pembangunan hilirisasi ayam terintegrasi di Gorontalo sebagai penanda transformasi pembangunan kita saat ini. Hari Rabu mendatang, PT Berdikari akan bertemu dengan kami untuk membahas lebih lanjut skema bisnisnya bersama para bupati terkait,” ujar Gusnar dengan optimisme yang sulit disembunyikan.
Jagung Melimpah, tapi Selama Ini Hanya Numpang Lewat
Apa akar dari gagasan ini? Jagung. Gorontalo menghasilkan 1,5 juta ton jagung per tahun. Angka yang luar biasa. Namun selama bertahun-tahun, sebagian besar komoditas itu hanya numpang lewat: dikirim mentah ke luar daerah, tanpa pernah diolah menjadi pakan ternak yang bernilai tambah di kampung sendiri.
Gusnar ingin mengubah itu. Ia membayangkan jagung tersebut diserap oleh industri peternakan lokal, diubah menjadi pakan, lalu memberi makan jutaan ayam yang juga dipelihara oleh masyarakat Gorontalo sendiri. Sebuah siklus ekonomi yang tertutup dan berkeadilan.
Bukan untuk Perusahaan Besar, Tapi untuk Rakyat
Yang menarik, Gusnar tidak ingin industri ini dikuasai sepenuhnya oleh perusahaan besar. Ia justru mengusulkan skema kemitraan yang berpihak pada rakyat. Dalam hitung-hitungannya, 30-40 persen bisa dikelola perusahaan, namun sisanya—60 persen—harus dikembalikan ke kabupaten untuk dikelola bersama peternak lokal.
*“Kalau jadi industri ini kita harus bersepakat jangan semua dilakukan oleh perusahaan ayam ini ya. Kita akan tawar-menawar 30 atau 40 persen itu dilakukan oleh perusahaan, tapi 60 persen serahkan ke Pak Bupati nanti dia urus bersama rakyat untuk beternak ayam,”* tegasnya.
Ini bukan sekadar bagi-bagi kue. Ini adalah upaya menciptakan ekosistem ekonomi di mana masyarakat desa, terutama mereka yang berada di kelompok desil terbawah, bisa memiliki ternak dalam skala kecil. Seekor ayam, beberapa ekor, lalu jadi penghasilan rutin. Sederhana, tapi dampaknya luar biasa.
Momentum dari Pusat, Gerakan dari Daerah
Gusnar tidak berjalan sendirian. Pemerintah pusat, setelah melihat inisiatif peternakan dari kabupaten-kabupaten di Gorontalo, akhirnya menetapkan provinsi ini sebagai satu dari 12 lokasi pengembangan hilirisasi ayam terintegrasi secara nasional. Sebuah kepercayaan sekaligus tanggung jawab besar.
*“Mudah-mudahan ini akan terwujud dan ini era baru kita menurunkan yang 15 persen kemiskinan itu. Nanti misalnya Pak Bupati kalau sudah taruh fondasi, kita alihkan pemikiran kita untuk menciptakan ekosistem daripada ayam ini,”* pesannya kepada para kepala daerah.
Di Tengah Efisiensi, Semangat Baru Harus Lahir
Gusnar sadar betul bahwa tantangan fiskal ke depan tidak mudah. Anggaran seret, tapi kebutuhan rakyat tidak pernah berhenti. Karena itu, ia mengajak semua pihak untuk memperbarui semangat pembangunan. Kolaborasi, katanya, adalah kunci.
Hilirisasi ayam terintegrasi mungkin baru sebatas wacana hangat di ruang rapat. Tapi jika fondasinya diletakkan dengan benar, jika jagung tidak lagi ekspor mentah, jika ayam benar-benar dipelihara oleh rakyat untuk kesejahteraan rakyat, maka Gorontalo tidak hanya akan lepas dari jerat kemiskinan. Ia juga akan menjadi contoh bagaimana sebuah daerah bisa bangkit dari potensinya sendiri.