Jika Kursi ke DPR RI dapil Gorontalo hanya tetap 3 Kursi,Dalam skenario Dapil Gorontalo yang hanya beralokasi 3 kursi pada Pemilu 2029, peluang Partai PPP, PDIP, Demokrat, PKS, dan PAN untuk merebut satu kursi dari tiga petahana—Rachmat Gobel (NasDem), Rusli Habibie (Golkar), dan Elnino Mohi (Gerindra)—harus dikalkulasi ulang secara lebih realistis. Berbeda dengan skenario penambahan kursi menjadi 4 yang membuka ruang kompetisi lebih longgar, skenario 3 kursi justru mempertahankan peta politik yang sama seperti Pemilu 2024.
Keunggulan Tiga Petahana: Bukan Sekadar Figur, Tapi Mesin Politik
Hasil Pemilu 2024 menempatkan NasDem sebagai pemenang dengan 227.533 suara, disusul Golkar 163.074 suara, dan Gerindra 145.152 suara. Jarak suara antara peringkat ketiga (Gerindra) dan keempat (PPP) sangat signifikan: 145.152 berbanding 70.720, atau selisih lebih dari 74.000 suara.
PPP, yang berada di posisi keempat, hanya mengoleksi 70.720 suara. PDIP di posisi kelima dengan 46.225 suara, diikuti PKS 17.590 suara, PAN 15.149 suara, dan Demokrat 14.090 suara.
Perolehan suara ini mencerminkan dominasi tiga besar yang luar biasa. Hanya dengan 3 kursi yang tersedia, sistem pemilu proporsional mempertahankan keunggulan kompetitif partai dengan suara terbanyak.
Tantangan Struktural Mesin Politik
PPP mendapatkan pernyataan bahwa Gorontalo adalah “tulang punggung PPP secara nasional” dari Ketua Umumnya. Namun, PPP juga mencatat penurunan perolehan kursi DPRD Provinsi dari 5 kursi (2019-2024) menjadi 4 kursi (2024-2029). PDIP meraih 7 kursi di DPRD Provinsi, yang menjadi indikator kuatnya struktur kader, namun suara mereka di level DPR RI masih terpaut jauh.
PAN justru bergerak dengan strategi yang cerdik: melakukan konsolidasi awal hingga level TPS, dengan target mengisi relawan di setiap tempat pemungutan suara. Partai ini juga sudah menunjuk lima dari enam ketua DPD di kabupaten/kota sebagai langkah persiapan jangka panjang. Namun, perolehan suara PAN di DPRD Provinsi menurun drastis dari 7 kursi (2014-2019) menjadi hanya 3 kursi (2024-2029).
Faktor Figur: Kunci yang Tidak Bisa Diremehkan
Dalam sistem pemilu legislatif, figur caleg sering kali lebih menentukan daripada partai itu sendiri. Rachmat Gobel, sebagai pemilik modal finansial dan jaringan nasional, Rusli Habibie yang mantan gubernur, dan Elnino Mohi yang masih muda dan energik, memiliki basis pemilih yang sulit digoyahkan.
Kabar bahwa Demokrat akan mengusung Ketua Partainya,Ketua Partai Demokrat Gorontalo bisa menjadi Ruang Kuda Hitam. Namun, Demokrat hanya meraih 14.090 suara di Pileg 2024, dan perolehan kursi DPRD Provinsi mereka stagnan di 3 kursi.
PKS dengan basis ideologis memang setia, namun perolehan suara mereka di DPRD Provinsi justru meningkat dari 4 kursi (2019-2024) menjadi 5 kursi (2024-2029). Ini menunjukkan PKS masih memiliki mesin partai yang efektif, meskipun suara di level DPR RI masih rendah.
Untuk merebut satu kursi, partai penantang harus mampu melipatgandakan perolehan suara mereka, atau terjadi aliansi antar partai penantang untuk mengonsolidasi suara.
Peluang Tipis, Namun Bukan Nol dan Bisa Terjadi Kejutan.
Dengan hanya 3 kursi yang tersedia, peluang PPP, PDIP, Demokrat, PKS, dan PAN untuk merebut satu kursi DPR RI di Gorontalo pada 2029 agak tipis. Dominasi tiga besar yang diperkuat figur-figur kuat dan jarak suara yang terlalu lebar membuat perubahan peta kekuatan memerlukan keajaiban elektoral.
Namun, politik selalu menyisakan ruang bagi kejutan. Jika tiga partai besar mengalami Turbulensi,Mungkin Ruang untuk PPP, PDIP, DEMOKRAT, PKS, PAN Akan Masih Terbuka Lebar…