Bukan sekadar beton dan cat. Bukan pula sekadar proyek akhir tahun yang terburu-buru. Di balik pembangunan patung kucing raksasa yang kini berdiri gagah dan menggemaskan di area utama Pentadio Resort, Kabupaten Gorontalo, ada sebuah narasi besar yang sedang dirangkai, bagaimana sebuah daerah tidak hanya menjadi lokasi acara, tetapi menjadi pengalaman yang membekas.
Selasa (16/6/26), semangat menyambut Pekan Nasional (PENAS) 2026 mulai terasa di udara dan daratan. Dan kehadiran Anggota DPR RI Fraksi NasDem, Rachmat Gobel, di tengah hiruk-pikuk penataan kawasan, bukanlah sekadar inspeksi rutin. Ia datang untuk memastikan bahwa Gorontalo tidak sekadar siap, tetapi berkesan.
Rachmat Gobel Membantu Pemda Kabupaten Gorontalo dalam merehab Bangunan Resort Yang Rusak,Menata kembali Kolam dan Taman di Pentadio Resort,serta Membuatkan Patung Kucing Raksasa di taman Pentadio sebagai ikon destinasi wisata ini.
Patung Kucing Raksasa yang menggemaskan.
Dalam dunia pariwisata modern, sebuah destinasi membutuhkan wajah. Bukan hanya pemandangan alam, tetapi simbol atau artefak yang mudah diingat, yang bisa diabadikan dalam satu bingkai foto dan langsung dikenali. Patung kucing raksasa itu adalah jawabannya.
Rachmat Gobel menyebutnya sebagai “simbol yang mudah diingat.” Dan ia benar. Di era media sosial, ikon fisik seperti ini adalah magnet. Ia mengundang rasa penasaran, lalu mengubahnya menjadi konten. Setiap wisatawan yang berfoto di bawah bayang-bayang patung itu, tanpa sadar, sedang menjadi duta promosi wisata bagi Gorontalo.
“Setiap daerah wisata membutuhkan simbol yang mudah diingat,” ujarnya. Patung ini bukan hanya pajangan, melainkan spot favorit yang akan menjadi jembatan antara pengunjung dan cerita baru tentang Gorontalo.
Salah satu kalimat yang paling mengemuka dari pernyataan Gobel adalah: “Yang kita bangun bukan sekadar fasilitas atau bangunan fisik, tetapi kesan yang akan dibawa pulang oleh setiap pengunjung.”
Inilah filosofi utama dari persiapan PENAS 2026. Gorontalo tidak ingin dikenang sebagai tempat yang ramai, tetapi ramah. Tidak ingin disebut sekedar indah, tetapi juga layak untuk dikunjungi kembali.
Pentadio Resort yang berada ditepi danau limboto, dengan sumber air panas alaminya, telah memiliki modal besar. Namun kini, mereka menambahkan elemen-elemen baru yang menciptakan ritme kunjungan yang utuh,dari pemandangan sore yang teduh, hingga area nonton bareng yang menghidupkan ruang interaksi.
Rahang Tuna dan Cita Rasa Identitas
Wisata tanpa kuliner ibarat lagu tanpa melodi. Itulah mengapa Gobel juga menyoroti hadirnya menu khas rahang tuna di kawasan kuliner resort. Bukan sekadar hidangan, ini adalah representasi budaya.
“Wisatawan harus bisa menikmati cita rasa khas Gorontalo,” tegasnya. Di sinilah letak kekuatan promosi ketika lidah pengunjung merekam sesuatu yang tidak bisa mereka temukan di tempat lain, maka hubungan emosional dengan destinasi itu pun terbangun.
Sore Senja Terindah di Pentadio,Momen yang Dirindukan Setiap orang.
Rachmat Gobel bahkan menyebut waktu sore sebagai waktu terbaik menikmati Pentadio. Matahari mulai turun, warna Langit berwarna warni senjata,udara sejuk,suara burung burung sore, keluarga bisa merendam kaki di kolam air panas, sambil menikmati hidangan khas. Ini adalah gambaran wisata yang tidak terburu-buru. Wisata yang mengajak pengunjung untuk tinggal, bukan sekadar mampir.
Dan itulah harapan besar di balik semua kesibukan ini,PENAS 2026 hanyalah awal. Setelah para tamu pulang, Pentadio harus tetap hidup. Harus tetap ramai. Harus terus menjadi kebanggaan baru Gorontalo.
Membangun Jangka Panjang
Ada pesan politik dan pembangunan yang jelas dari kunjungan ini. Rachmat Gobel tidak hanya mengecek kesiapan acara, tetapi memastikan keberlanjutan. Ia ingin memastikan bahwa uang dan energi yang dikeluarkan hari ini akan kembali sebagai manfaat ekonomi bagi masyarakat Gorontalo, bahkan bertahun-tahun setelah acara usai.
Patung kucing raksasa,Rahang Tuna,Senja bersama Klam air Panas di tepi danau Limboto bukanlah tujuan. Ia adalah gerbang. Gerbang menuju Gorontalo yang lebih dikenal, lebih dicintai, dan lebih dikenang.
Editor: dulwahab