Malam itu, Grand Final Pemilihan Duta UMKM 2026 di Grand Palace Convention Center terasa lebih istimewa. Bukan hanya karena gemerlap panggung dan semangat 25 finalis putra-putri terbaik Gorontalo, tapi juga karena pesan kuat yang disampaikan Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie.
Di hadapan para duta yang baru terpilih, Sabtu (25/4/2026), Idah dengan tegas meminta mereka untuk tidak sekadar jadi simbol. Ia ingin para duta UMKM ini turun langsung mengambil peran strategis dalam momen besar yang hanya terjadi sekali sekian tahun: Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan ke XVII yang akan digelar di Gorontalo pada 20–25 Juni mendatang.
“Di depan mata kita ada kegiatan nasional Penas Petani dan Nelayan ke XVII. Ini adalah peluang besar yang harus dimanfaatkan untuk membantu UMKM memasarkan produknya dan meningkatkan penjualan,” ujar Idah dengan penuh semangat.
Menurutnya, Penas bukan sekadar pameran. Ini adalah etalase raksasa di mana produk lokal bisa dilihat oleh seluruh Indonesia. Dan di sanalah peran duta UMKM diuji.
“Carilah informasi sebanyak-banyaknya mengenai Penas ini, sehingga kalian mampu mendampingi UMKM untuk meningkatkan kualitas produk dan memperluas pemasaran,” tambahnya.
Yang menarik, para finalis Duta UMKM tahun ini tidak hanya dinilai dari penampilan. Mereka telah dibekali kemampuan praktis seperti storytelling produk, personal branding, hingga pemasaran digital. Idah ingin semua bekal itu benar-benar dimanfaatkan untuk mendampingi pelaku usaha kecil, terutama dalam meningkatkan kualitas produk dan strategi pemasaran di era digital.
“Keberadaan duta UMKM bukan sekadar simbol, tetapi sebagai agen perubahan yang mampu menggerakkan promosi produk lokal secara kreatif dan adaptif,” tegasnya.
Di akhir sambutannya, Idah menekankan satu kunci utama: sinergi. Pemerintah, pelaku UMKM, dan generasi muda harus bergandengan tangan membangun ekosistem ekonomi yang kuat. Jika kolaborasi berjalan baik, produk lokal Gorontalo tidak hanya akan bersinar di Penas, tapi juga mampu menembus pasar nasional dan bahkan internasional.
Grand Final malam itu diikuti oleh 25 peserta terbaik—mahasiswa dan perwakilan pelaku UMKM dari seluruh Gorontalo. Mereka bukan hanya bersaing untuk mendapatkan gelar, tapi juga bersiap mengemban amanah besar: mengangkat martabat produk lokal di ajang nasional.