Oleh: dulwahab nasaru (aktivis ekowisata, jurnalis) .
Gorontalo berdiri di persimpangan antara potensi pariwisata yang menjanjikan dan realitas kontribusi ekonomi yang belum Spektakuler seperti Bali dan Lombok atau Sulawesi utara. Provinsi yang dijuluki “Serambi Madinah” ini menyimpan kekayaan alam dan budaya yang luar biasa,mulai dari pesona alam Geopark yang tengah dipersiapkan menuju status nasional, keunikan wisata Hiu Paus di laut Teluk Tomini, hingga kearifan lokal Karawo yang mendunia . Namun di balik potensi itu, data menunjukkan wajah paradoks, kontribusi sektor pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih mengalami sedikit stagnasi dalam dua tahun terakhir .
Lantas, mungkinkah pariwisata menjadi penyumbang PAD terbanyak bagi Provinsi Gorontalo? Jawabannya adalah ya, sangat mungkin, dengan catatan: diperlukan transformasi strategis yang menyeluruh. Gagasan ini menawarkan peta jalan menuju visi tersebut, dengan mengintegrasikan pendekatan pariwisata berkelanjutan dan strategi ekonomi yang terbukti berhasil di berbagai daerah.
Bab I: Diagnosa Masalah,Memahami Akar Kemacetan
Langkah pertama dalam menyusun strategi adalah memahami dengan jernih persoalan yang dihadapi. Data dari berbagai sumber mengidentifikasi setidaknya empat masalah struktural yang menghambat optimalisasi PAD pariwisata Gorontalo.
Pertama, faktor eksternal makroekonomi. Inflasi yang melanda beberapa tahun terakhir secara langsung memukul daya beli masyarakat. Dalam situasi ekonomi yang sulit, masyarakat cenderung memprioritaskan kebutuhan pokok dan mengurangi alokasi anggaran untuk rekreasi dan hiburan . Fenomena ini menunjukkan bahwa pariwisata termasuk sektor yang sensitif terhadap gejolak ekonomi.
Kedua, masalah infrastruktur dan pengelolaan destinasi. Rusaknya destinasi unggulan seperti danau Limboto Kabupaten Gorontalo—menjadi contoh betapa rentannya destinasi wisata terhadap gangguan lingkungan. Lebih dari itu, proses pengembangan yang justru menghambat pelayanan optimal menunjukkan perlunya perencanaan yang lebih matang .
Ketiga, masalah pendataan dan informasi. Seperti yang dialami Kabupaten PPU, banyak wisatawan yang berkunjung tetapi tidak terdata secara resmi karena sifatnya yang lintasan atau singgah sejenak . Tanpa data yang akurat, pemerintah kehilangan kemampuan untuk mengukur potensi riil dan merencanakan pengembangan berbasis bukti.
Keempat, masalah keterbatasan anggaran untuk inovasi.untuk menghasilkan pendapatan justru diperlukan investasi terlebih dahulu.
Bab II: Pilar Strategis—Belajar dari Keberhasilan Daerah Lain
Sebelum merumuskan strategi untuk Gorontalo, penting untuk menarik pelajaran dari provinsi dan kabupaten lain yang telah berhasil mengoptimalkan PAD dari sektor pariwisata. Setidaknya ada lima pilar strategis yang dapat diadaptasi.
Pilar Pertama: Penguatan Infrastruktur Bertahap dan Terfokus. Penelitian di Kabupaten Serdang Bedagai menegaskan bahwa pengembangan infrastruktur wisata harus dilakukan secara bertahap dan terfokus pada prioritas . Tidak perlu membangun semuanya sekaligus, tetapi pastikan destinasi unggulan memiliki aksesibilitas, amenitas, dan atraksi yang memadai. Hal ini sejalan dengan komitmen Kementerian Pariwisata yang siap mendampingi Gorontalo dalam penguatan infrastruktur destinasi, akses menuju kawasan Geopark, dan penataan destinasi Hiu Paus .
Pilar Kedua: Kemitraan Publik-Swasta yang Produktif. Berbagai daerah sukses membuktikan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kemitraan dengan swasta dan investor menjadi kunci percepatan pembangunan sarana prasarana kepariwisataan . Di Gorontalo, langkah ini sangat strategis mengingat keterbatasan APBD untuk membiayai seluruh kebutuhan pengembangan.
Pilar Ketiga: Promosi Digital dan Penguatan Sistem Informasi. Di era digital, promosi pariwisata harus bergeser dari metode konvensional ke platform digital. Lebih dari sekadar promosi, sistem informasi yang kuat juga berfungsi sebagai alat pendataan wisatawan baik yang merencanakan kunjungan maupun yang sedang berada di destinasi . Data yang akurat akan menjadi basis perencanaan dan pengambilan kebijakan yang tepat.
Pilar Keempat: Pengembangan Ekowisata dan Wisata Budaya Berkelanjutan. Penelitian di Kalimantan Tengah menemukan bahwa jumlah objek wisata dan kualitas destinasi lebih berpengaruh signifikan terhadap PAD dibanding sekadar jumlah hotel . Artinya, fokus pada pengembangan daya tarik wisata yang autentik dan berkelanjutan lebih penting daripada sekadar membangun akomodasi. Untuk Gorontalo, penguatan Geopark dan wisata berbasis kearifan lokal seperti Karawo menjadi arah yang tepat.
Pilar Kelima: Pemantauan dan Evaluasi Berkelanjutan. Strategi tanpa evaluasi hanya akan menjadi dokumen mati. Pemerintah daerah perlu membangun mekanisme monitoring yang ketat untuk memastikan setiap program berjalan sesuai rencana dan memberikan dampak yang diharapkan terhadap peningkatan PAD .
Bab III: Strategi Khusus untuk Gorontalo—Integrasi Potensi dan Solusi
Berdasarkan diagnosa masalah dan pembelajaran dari daerah lain, berikut adalah strategi terintegrasi yang dapat diterapkan Gorontalo untuk menjadikan pariwisata sebagai mesin utama PAD.
3.1 Menuntaskan Geopark sebagai Payung Besar Pariwisata Gorontalo
Dukungan Kementerian Pariwisata untuk menjadikan Geopark Gorontalo berstatus Geopark Nasional harus disambut dengan kesiapan penuh dari pemerintah provinsi . Status Geopark Nasional bukan sekadar label prestisius, tetapi akan membuka akses terhadap berbagai program pendanaan pusat, meningkatkan daya tarik investasi, dan memperkuat posisi tawar dalam promosi internasional. Geopark dapat menjadi payung besar yang menyatukan berbagai destinasi wisata pantai, goa, perbukitan, hingga budaya dalam satu narasi yang koheren dan menarik.
3.2 Mengembangkan Wisata Ramah Muslim sebagai Diferensiasi
Gorontalo memiliki modal kultural yang kuat sebagai daerah dengan mayoritas penduduk muslim. Kementerian Pariwisata bahkan mengusulkan Gorontalo menjadi provinsi percontohan penguatan wisata ramah muslim, yang dapat disinergikan dengan event seperti Karnaval Karawo . Ini adalah peluang emas untuk menciptakan diferensiasi di tengah kompetisi pariwisata nasional. Wisata ramah muslim tidak hanya tentang ketersediaan makanan halal dan tempat ibadah, tetapi juga mencakup layanan, keramahan, dan pengalaman wisata yang sesuai dengan nilai-nilai keislaman—pasar yang terus tumbuh secara global.
3.3 Membangun Sinergi Lintas Sektor: Pariwisata, Pertanian, dan UMKM
Kabupaten Lumajang memberikan contoh inspiratif tentang bagaimana pariwisata tidak berdiri sendiri, tetapi terintegrasi dengan sektor pertanian dan UMKM . Untuk Gorontalo, sinergi ini dapat diwujudkan dalam beberapa bentuk. Pertama, pengembangan agro-wisata di sentra-sentra produksi jagung dan kelapa—komoditas unggulan daerah. Kedua, menjadikan produk kerajinan Karawo sebagai oleh-oleh wajib yang dipasarkan di seluruh destinasi wisata. Ketiga, mendorong homestay berbasis masyarakat di desa-desa wisata sehingga dampak ekonomi langsung dirasakan warga. Sinergi ini menciptakan ekosistem ekonomi yang kokoh dan mandiri .
3.4 Mengatasi Masalah Pendataan dengan Teknologi Digital
Pengalaman PPU menunjukkan bahwa banyak wisatawan tidak terdata karena sifat kunjungan yang singkat atau lintasan . Gorontalo perlu mengembangkan sistem pendataan berbasis digital yang terintegrasi. Aplikasi berbasis lokasi (location-based service) dapat mendeteksi kunjungan wisatawan ke destinasi tertentu. Tiket masuk elektronik, QR code di setiap objek wisata, dan kerja sama dengan platform transportasi online bisa menjadi sumber data yang berharga. Data ini tidak hanya untuk kepentingan statistik, tetapi juga untuk memahami perilaku wisatawan, durasi kunjungan, dan pola pengeluaran—informasi yang sangat berharga untuk pengembangan produk wisata.
3.5 Peningkatan Kapasitas SDM Pariwisata
Kabar baiknya, Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo telah memulai langkah strategis dengan menjalin kemitraan bersama perguruan tinggi dan SMK Pariwisata. Pertemuan yang menghasilkan komitmen pengembangan SDM, penguatan gerakan sadar wisata, dan kolaborasi lintas sektor adalah fondasi yang tepat . Namun, ini harus diperluas cakupannya. Pelatihan tidak hanya untuk siswa dan mahasiswa, tetapi juga untuk masyarakat pengelola homestay, pemandu wisata lokal, pelaku UMKM, dan aparatur pemerintah desa. Program seperti “Saka Pariwisata” yang melibatkan pelajar dalam gerakan bersih pantai dan penanaman pohon perlu terus digalakkan untuk menumbuhkan kesadaran wisata sejak dini .
3.6 Inovasi Skema Pendanaan dan Insentif
Keterbatasan anggaran seperti yang dialami Gorontalo Utara harus disikapi dengan kreativitas pendanaan. Pemerintah provinsi dapat mendorong skema cross-subsidy antara destinasi yang sudah mapan dengan destinasi baru yang sedang berkembang. Insentif pajak bagi investor yang bersedia membangun infrastruktur di destinasi prioritas perlu dirumuskan. Selain itu, optimalisasi dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Gorontalo untuk program pengembangan pariwisata adalah potensi besar yang belum banyak digarap.
3.7 Diversifikasi Sumber PAD Pariwisata
Untuk menjadikan pariwisata sebagai penyumbang PAD terbanyak, Gorontalo tidak boleh hanya mengandalkan retribusi tiket masuk objek wisata. Pengalaman Bali menunjukkan bahwa pajak hotel dan restoran justru memberikan kontribusi jauh lebih besar . Karena itu, pengembangan pariwisata harus diikuti dengan pertumbuhan usaha akomodasi, restoran, dan jasa penunjang lainnya yang akan menjadi basis pajak daerah. Pajak hiburan, pajak parkir, dan retribusi izin usaha juga perlu dioptimalkan dengan sistem pengawasan yang ketat untuk mencegah kebocoran.
Bab IV: Tahapan Implementasi—Dari Rencana ke Aksi
Strategi sehebat apa pun akan sia-sia tanpa implementasi yang terencana. Berikut adalah tahapan yang dapat dilakukan Pemerintah Provinsi Gorontalo.
Tahap Jangka Pendek (1-2 tahun): Fokus pada peletakan fondasi. Selesaikan proses menuju status Geopark Nasional. Bangun sistem pendataan wisatawan berbasis digital. Gelar pelatihan massal SDM pariwisata melalui kerja sama dengan PT dan SMK. Tetapkan 3-5 destinasi prioritas untuk dikembangkan secara intensif dengan dukungan infrastruktur dasar.
Tahap Jangka Menengah (3-5 tahun): Kembangkan produk wisata terintegrasi antara Geopark, wisata ramah muslim, dan event budaya seperti Karnaval Karawo. Perkuat promosi digital yang menargetkan wisatawan nusantara dan mancanegara. Dorong investasi swasta untuk membangun hotel dan restoran di sekitar destinasi prioritas. Evaluasi dan revisi tarif retribusi serta pajak daerah agar lebih optimal.
Tahap Jangka Panjang (5-10 tahun): Wujudkan pariwisata sebagai sektor primer PAD dengan kontribusi signifikan dari pajak hotel, restoran, dan hiburan. Kembangkan destinasi-destinasi baru di luar prioritas awal. Bangun konektivitas antar-destinasi sehingga wisatawan dapat menghabiskan waktu lebih lama di Gorontalo. Rumah bagi industri kreatif berbasis kearifan lokal yang produknya menembus pasar ekspor.
Epilog: Menuju Kemandirian Fiskal Berbasis Pariwisata
Pertanyaan apakah pariwisata dapat menjadi penyumbang PAD terbanyak bagi Provinsi Gorontalo bukan lagi soal potensi, tetapi soal kemauan politik dan kualitas eksekusi. Dengan kekayaan alam yang luar biasa, dukungan penuh dari pemerintah pusat, dan kesadaran para pemangku kepentingan untuk berkolaborasi, Gorontalo memiliki semua modal untuk sukses.
Tantangan terbesar justru terletak pada konsistensi dan kesabaran. Membangun pariwisata yang berkualitas membutuhkan waktu—tidak bisa instan seperti membangun mal atau perkantoran. Namun jika dilakukan dengan benar, hasilnya akan abadi. Pariwisata yang berkelanjutan tidak hanya menghasilkan PAD, tetapi juga membuka lapangan kerja, mengangkat usaha mikro, melestarikan budaya, dan menjaga lingkungan .
Pemerintah provinsi, kabupaten/kota, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat harus bergerak dalam satu irama. Dinas Pariwisata tidak boleh bekerja sendiri—Bappeda, Dinas PU, Dinas Kominfo, Bapenda, dan seluruh perangkat daerah harus terlibat aktif . Para pelajar dan mahasiswa yang kini dilatih akan menjadi garda terdepan pelayanan pariwisata masa depan. Masyarakat di sekitar destinasi harus menjadi tuan rumah yang ramah sekaligus wirausaha yang tangguh.
Gorontalo memiliki slogan “Adat Bersendikan Syara’, Syara’ Bersendikan Kitabullah”. Kearifan lokal ini justru bisa menjadi kekuatan pariwisata yang membedakannya dari daerah lain. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan, tetapi juga merasakan keramahan yang lahir dari nilai-nilai luhur yang dijunjung masyarakatnya.
Dengan strategi yang tepat, eksekusi yang konsisten, dan kolaborasi semua pihak, bukan tidak mungkin dalam satu dekade ke depan kita akan membaca berita: “Sektor Pariwisata Gorontalo Sumbang 40 Persen PAD, Lampaui Sektor Pertambangan dan Perkebunan.” Visi itu harus dimulai dari sekarang, dengan langkah pertama yang kecil tetapi pasti.