Gorontalo,5 September 2026, Hunggrypedia. (Liputan:dulwahab)
Di ruang-ruang diskusi yang hangat dan santai, di tengah hiruk-pikuk perpolitikan lokal dan nasional serta disrupsi media sosial yang membanjiri kesadaran kita dengan informasi instan dan dangkal, sebuah forum sederhana kembali hadir di Gorontalo, Bernama “Suara Kampus”, forum diskusi publik yang digagas oleh aktivis sekaligus dosen Dr. Sahmin Madina ini hadir sebagai ruang dialog santai namun sarat makna filsafat dan kebudayaan. Di gagas awal dari Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo, Suara Kampus menyuguhkan alternatif obrolan yang bernilai edukasi yg reflektif,sebuah pilihan sadar di tengah gempuran konten-konten yang kerap mengabaikan kedalaman berpikir dan ruang perenungan filosofis.

Forum ini menjadi sangat penting di tengah kondisi yang memprihatinkan, hilangnya nilai-nilai luhur budaya Gorontalo dan Indonesia secara umum. Prosesi adat yang dahulu panjang dan sarat makna kini kerap dipadatkan sekadar formalitas belaka. Istilah-istilah adat seperti Bandapulo atau tujai dalam upacara pernikahan masih terdengar namun jarang lagi dipahami makna filosofisnya. Padahal, setiap istilah itu menyimpan filosofi hidup orang Gorontalo yang menghargai keseimbangan, tata krama, dan kebersamaan (huyula).
Data nasional pun menunjukkan bahwa 65% anak muda Indonesia merasakan penurunan semangat Kebudayaan lokal,nasionalisme, dan hampir 54% Generasi Z mengaku tidak lagi memahami atau menerapkan nilai-nilai Pancasila dan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Inilah kekeringan nilai-nilai pencerahan yang mengancam generasi masa depan.
Di tengah gurun yang gersang itulah Suara Kampus hadir bagai oase sebuah sumber kehidupan bagi nalar kritis dan kesadaran budaya. Forum ini tidak menggurui, tidak pula terjebak dalam formalitas akademik yang kaku. Ia hadir sebagai dialog santai, sebuah ruang di mana filsafat tidak melulu dibicarakan dalam bahasa yang rumit dan menakutkan, melainkan dihidupkan sebagai cara berpikir kritis tentang realitas sehari-hari. Ia mengingatkan kita pada falsafah adat Gorontalo yang agung, Payu Limo Totalu, lima prinsip dasar yang menjadi panduan hidup,Bangusa Talalo (bangsa dijaga), Lipu Poduluwalo (negeri dibela), Batanga Pomaya (raga diabdikan), Nyawa Podungalo (nyawa dipertaruhkan), dan Harata Potombulu (harta diwakafkan). Sebuah falsafah yang mengajarkan bahwa menjadi manusia berarti mengabdikan diri seutuhnya untuk kemaslahatan bersama. Dan di atas semua itu,
sebuah pengingat bahwa budaya dan agama adalah dua sumber nilai yang saling memperkuat.
Merumuskan Masa Depan Gorontalo
Edisi diskusi yang berlangsung baru-baru ini membawa kita selangkah lebih jauh,bukan sekadar merenungkan masa lalu, tetapi merumuskan masa depan. forum ini mengangkat satu pertanyaan besar, akan menjadi apa Gorontalo 25 tahun setelah didirikan?
Hadir sebagai pemantik, deretan intelektual dan praktisi dengan latar belakang beragam. Prof. Dr. Lukman Laliyo, guru besar Universitas Negeri Gorontalo, membawa perspektif akademik yang mapan. Dr. Sahmin Madina sendiri, sebagai inisiator sekaligus host, menghadirkan pengalaman panjang sebagai aktivis dan dosen. Dr. Andi Jufri melengkapi sudut pandang keilmuan,Filosofis, sementara Ahmad Abdulah dan Nixon Entengo yang kini dipercaya menjabat sebagai Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Gorontalo menyumbangkan perspektif Peradaban dan kebijakan publik.
Kehadiran peserta dari organisasi lintas kampus, komunitas pers Forum Jurnalis Gorontalo (FJG), dan masyarakat umum menjadikan diskusi ini tidak elitis. Ia adalah ruang dialog horizontal di mana suara mahasiswa, jurnalis, dan warga biasa didengar setara dengan suara para profesor dan pejabat. Inilah esensi Suara Kampus sebagaimana dicita-citakan pendirinya, forum diskusi publik yang menyuguhkan alternatif tontonan bernilai edukasi, fokus pada syiar dan informasi publik sebagai wujud edukasi yang substantif dan komprehensif.
Hal yg menarik dari diskusi ini adalah tentang revitalisasi budaya sebagai fondasi peradaban. Diskusi Suara Kampus secara konsisten mengangkat tema filsafat dan kebudayaan Gorontalo, mengingatkan bahwa kemajuan material tanpa akar budaya akan membuat masyarakat kehilangan jati diri. Masa depan Gorontalo harus dibangun di atas fondasi nilai-nilai luhur itu.
Forum diskusi Suara Kampus ini akan dilaksanakan Rutin setiap seminggu sekali.