Catatan Redaksi : dulwahab.
dalam beberapa tahun ini di Indonesia setiap Bulan Haji,yang ramai diperbincangkan dan menjadi fokus adalah sapi kurban,bukan lagi makna pesan tentang Haji itu sendiri,Kurban adalah merupakan salah satu rangkaian kisah dari perjalanan Haji,yaitu kisah nabi Ibrahim,Ismail dan Siti Hajar.
dalam pandangan masyarakat muslim Syiah Iran,Haji merupakan sesuatu yang sangat sakral,Bahkan Haji ditulis dalam salah satu buku karya Tokoh Revolusi Islam Iran,Ali Syariati. dimana Makna haji dan filosofinya ini menjadi tonggak dasar semangat Revolusi Rakyat Iran, itulah yang membuat Masyarakat di Republik Islam Iran memiliki daya hidup dan daya juang yang lebih kuat.
Haji dalam pandangan Ali Syariati, seorang intelektual dan filsuf Muslim Iran yang berpengaruh, dipandang sebagai sebuah kesempatan untuk melakukan transformasi sosial dan spiritual secara radikal. Ali Syariati menggambarkan perjalanan haji sebagai suatu momen di mana individu Muslim bisa merenungkan pengalaman berbagai lapisan masyarakat yang berbeda datang bersama-sama untuk memenuhi panggilan Tuhan.
Ali Syariati menggambarkan haji bukan hanya sebagai ritual ibadah semata, tetapi juga sebagai momentum perubahan fundamental dalam pemahaman sosial dan agama individu. Pemikirannya menekankan pada aspek universalitas Islam yang mencakup keadilan sosial, solidaritas, dan kesetaraan di antara seluruh umat manusia.
Dalam pandangan Syariati, haji bukan hanya tentang menunaikan ritus religius, melainkan juga tentang memahami pesan-pesan sosial, politik, dan spiritual yang terkandung dalam ajaran Islam. Dia menyuarakan bahwa haji seharusnya menjadi jalan untuk memperjuangkan keadilan sosial dan politik, serta untuk membangun kesadaran kolektif akan kewajiban moral dalam masyarakat.
Ringkasnya, Ali Syariati melihat haji sebagai lebih dari sekadar ritual keagamaan, ia melihatnya sebagai peluang untuk membangun kesadaran sosial, perubahan struktural, dan pencerahan spiritual yang mencakup prinsip-prinsip universal keadilan, kesetaraan, dan solidaritas yang ada dalam ajaran Islam.
Makna Haji bagi Ali Syariati.
Bagi Ali Syariati, haji bukanlah sekadar ritual perjalanan wisata religi, melainkan sebuah “Kisah dramatis” (drama simbolik) tentang ideologi Islam itu sendiri. Ini adalah pemberontakan terhadap kehidupan yang tanpa tujuan dan sarat akan penindasan .
· Miqat & Ihram: Simbol “kematian” ego. Melepas pakaian (atribut kelas, ras, jabatan) yang melambangkan “topeng sosial” seperti serigala (penindas) atau domba (terjajah), lalu membungkus tubuh dengan kain kafan putih sebagai tanda kesetaraan mutlak di hadapan Tuhan .
· Tawaf: Gerakan mengelilingi Ka’bah. Seperti sistem tata surya, ini menggambarkan bahwa hidup harus memiliki pusat (tauhid), bukan pergerakan tanpa arah seperti roda hamster .
· Sa’i (lari antara Shafa dan Marwah): Simbol perjuangan hidup dan harapan (optimisme). Meneladani Hajar yang berlari mencari air, bukan pasrah menunggu mati .
· Wukuf di Arafah: Merenung di “padang mahsyar” untuk menyadari bahwa pada hari pembalasan nanti, hanya amal yang menolong. Ini adalah puncak “pembebasan” dari belenggu dunia .
· Melempar Jumrah: Proyeksi perang melawan “Setan dalam diri” (nafsu) dan simbol tiga musuh utama: kekayaan, kekuasaan, dan tipu daya (Tiga Berhala Qabilisme) .
· Kurban: Bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi simbol penyerahan total dan kesiapan untuk meninggalkan segala hal yang dicintai demi kebenaran .
Syariati melihat ritual ini sebagai sebuah drama sakral dengan naskah yang sudah ditetapkan Allah.
Setiap jamaah Haji adalah aktor utama yang memerankan ulang kisah Nabi Ibrahim, Hajar, dan Ismail .
Haji diharapkan Menghasilkan Rausyan Fikri (Manusia Tercerahkan),Insan Kamil (manusia yg baik) yang sadar akan fungsinya sebagai makhluk dan khalifah, sehingga setelah pulang, ia berubah menjadi pribadi yang lebih baik, bukan sekadar menyandang gelar “Haji”.
Allahuakbar,Walillahilham.
Penulis : Dulwahab Mumu Nasaru,Alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,Fakultas Agama Islam,Peneliti Iranology,Santri Madrasah Rausyan Fikr.