inflasi pangan memainkan peran utama dalam kerusuhan yang menyebabkan kebangkitan Arab (Arab Spring). Dalam beberapa tahun terakhir, kenaikan biaya hidup telah memicu ketidakstabilan politik dari Amerika Latin hingga Eropa. Pemerintah di seluruh dunia sudah bergulat dengan ketidakpercayaan yang meluas, upah yang stagnan, dan ketidaksetaraan yang meningkat. Lonjakan berkelanjutan lainnya dalam harga energi dan pangan dapat secara signifikan memperburuk tekanan ini.
Ironi Pahit bagi yang Paling Rentan
Sekali lagi, ironi pahitnya adalah banyak negara yang kemungkinan akan menanggung beban terbesar adalah negara-negara yang memiliki pengaruh dan peran paling kecil dalam perang ini.
Orang-orang yang saat ini menghadapi risiko ekonomi paling parah sering kali adalah mereka yang paling tidak bertanggung jawab atas konfrontasi geopolitik ini; namun, mereka paling terkena dampak kenaikan biaya impor, meningkatnya kelaparan, dan ruang fiskal pemerintah yang semakin terbatas. Ekonomi global berulang kali membebankan biaya konflik kekuatan besar pada masyarakat yang lebih miskin melalui pasar komoditas dan struktur utang.
Saat para jenderal dan diplomat masih sibuk berdebat, harga roti di pasar Kairo dan Dakar sudah naik. Kelangkaan pupuk di Bangladesh mulai terasa. Inflasi di Eropa dan Amerika tidak hanya menggerogoti dompet, tetapi juga kepercayaan publik. Dunia sudah lelah menunggu. Selagi mereka berunding, waktu terus berjalan dan perut terus keroncongan. Dunia tidak butuh kemenangan simbolis. Dunia butuh kapal bisa berlayar.