Cahaya malam di sebuah desa pesisir Gorontalo tidak hanya menerangi wajah-wajah bahagia, tetapi juga menyadarkan kita bahwa ekowisata sejati lahir dari harmoni antara manusia, alam, dan tradisi.
Malam itu, Desa Tontayuo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, bukan sekadar desa. Ia berubah menjadi galeri hidup. Lampu-lampu sederhana berkelap-kelip di antara rumah panggung, sementara warga tumpah ruah mengenakan piingo dan wulungio—busana adat yang membuat mereka seolah berjalan keluar dari lembaran sejarah.
Malam Puncak Festival Desa Wisata Adat baru saja dimulai. Tapi ini bukan festival biasa. Ini adalah pernyataan tegas: bahwa ekowisata tidak harus selalu tentang hutan, sungai, atau gua. Ekowisata juga bisa tentang bambu yang dianyam menjadi wadah makanan, tentang tarian dana-dana yang diiringi dentuman gendang tradisional, dan tentang kebersamaan yang dibalut rasa hormat terhadap leluhur.
Anyaman Bambu: Antara Estetika dan Ekologi
Salah satu pemandangan paling membekas malam itu adalah penyajian makanan khas Gorontalo dalam wadah anyaman bambu. Bukan piring plastik, bukan wadah sekali pakai. Setiap hidangan—dari nasu kuning hingga ilabulo—diletakkan dengan hati-hati di atas tampah dan besek anyaman.
Dalam konteks ekowisata, ini adalah pesan yang kuat. Anyaman bambu tidak hanya indah dipandang, tetapi juga ramah lingkungan, dapat terurai secara alami, dan mendukung ekonomi lokal. Para perajin anyaman desa kembali mendapatkan ruang untuk berkarya. Mereka tak lagi dilihat sebagai “pembuat kerajinan pinggiran”, melainkan sebagai penjaga utama narasi wisata.
“Kami ingin menunjukkan bahwa tradisi dan alam bisa bersanding tanpa merusak. Bambu tumbuh di sekitar kita. Ini bukan sekadar wadah, ini filosofi.” — curahan salah satu perajin lokal.
Pakaian Adat: Identitas yang Tidak Luntur
Di tengah derasnya arus modernisasi, Desa Tontayuo memilih beda. Hampir semua masyarakat yang hadir malam itu mengenakan pakaian adat lengkap. Laki-laki dengan piingo (penutup kepala khas Gorontalo) dan perempuan dengan wulungio (busana yang melambangkan keanggunan).
Ini bukan sekadar gaya. Ini adalah ekowisata budaya dalam bentuk paling otentik. Ketika wisatawan datang, mereka tidak hanya melihat tarian atau mencicipi makanan. Mereka masuk ke dalam sebuah ekosistem budaya yang masih hidup, bernapas, dan dirawat setiap hari.
Panggung Seni: Menjaga Ritme Leluhur
Penampilan dana-dana dan ngadi wunuwunungo mengundang decak kagum. Gerakannya lambat tetapi penuh makna, syairnya dalam tetapi tetap riang. Di situlah terlihat bahwa seni tradisi tidak pernah tua; ia hanya menunggu panggung yang tepat.
Dalam kerangka ekowisata, seni pertunjukan seperti ini menjadi daya tarik tak tergantikan. Tidak ada museum yang bisa mereproduksi kehangatan tatapan penonton yang duduk lesehan di tanah, lampu minyak di sudut panggung, dan tepuk tangan yang membahana di malam dingin Gorontalo.
Acara ini juga dihadiri oleh Haris Tome, ST, MT (Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Gorontalo), Sekretaris Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata, serta Camat Batudaa Pantai, Rahmat R. Jailani, S.STP., M.Si.
Dalam sambutannya, Haris Tome menyatakan bahwa festival ini layak menjadi agenda tahunan dan masuk kalender event Kecamatan Batudaa Pantai. Sementara Camat Batudaa Pantai menekankan bahwa festival ini bukan hanya hiburan, tetapi wadah mempererat kebersamaan sekaligus motor penggerak desa wisata.
Dari perspektif ekowisata, ini adalah sinyal penting: sinergi antara masyarakat adat, perajin lokal, pelaku seni, dan pemerintah adalah kunci keberlanjutan. Tanpa itu, festival hanya akan menjadi acara seremonial yang cepat berlupa.
Ekowisata Bukan Tentang Kemasan, Tapi Tentang Kesadaran
Festival Desa Wisata Adat Tontayuo mengajarkan satu hal: ekowisata dan budaya tidak bisa dipisahkan. Ketika makanan disajikan dalam anyaman bambu, itu bukan sekadar “unik”. Itu adalah kesadaran ekologis. Ketika masyarakat dengan bangga mengenakan pakaian adat, itu bukan sekadar “foto Instagram”. Itu adalah resistensi halus terhadap budaya konsumtif.
Malam puncak itu membuktikan: tradisi tidak hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dirayakan dengan cara yang indah, membanggakan, dan penuh makna. Dan di Tontayuo, perayaan itu menjadi bisikan lembut bahwa ekowisata sejati lahir dari cinta terhadap tanah sendiri.
kembalilah ke akar, di sanalah masa depan wisata berada.