Editorial: dulwahab
Di Gorontalo, sungai bukan sekadar aliran air. Ia adalah denyut nadi kehidupan yang sejak lama menjadi sumber air minum, tempat mandi, mencuci, bahkan sumber penghidupan bagi nelayan dan petani. Namun, saat ini sungai-sungai itu tengah berada dalam kondisi kritis. Setiap harinya, tanpa jeda, limbah industri, racun dari pertambangan seperti merkuri,sianida dan logam berat lainnya, residu pestisida, residu racun pupuk kimia Pertanian hingga sampah dan Limbah rumah tangga mengalir deras mencemari badan air. Air yang dulu jernih dan menyegarkan, kini keruh, berbau, dan mengandung zat-zat beracun yang tak kasat mata,sumur sumur air tanahpun tercemar.
Yang paling tragis, masyarakat umum,khususnya yang tinggal di bantaran sungai tidak memiliki pilihan lain. Mereka tetap menggunakan air itu untuk kebutuhan sehari-hari memasak, mandi, hingga diminum karena akses terhadap air bersih masih menjadi barang mewah yang belum merata. Tanpa mereka sadari, setiap tegukan yang memberi kesegaran sesaat, perlahan-lahan menjadi racun yang mengendap dalam tubuh.
Wabah Senyap yang Mengintai dalam Diam
Para ahli dan Aktivis Lingkungan memperingatkan bahwa jika pencemaran ini tidak segera diatasi, Gorontalo akan menghadapi lonjakan penyakit kronis dalam satu dekade ke depan. Bukan hanya satu atau dua jenis penyakit, melainkan spektrum gangguan kesehatan yang menyerang dari ujung rambut hingga kaki. Beberapa di antaranya bahkan sudah mulai terlihat gejalanya di tengah masyarakat.
Gagal ginjal akut, misalnya, mulai banyak dikeluhkan oleh warga dewasa. Logam berat seperti merkuri dan timbal yang mengendap di ginjal perlahan merusak organ vital ini. Keluhan seperti nyeri pinggang tak kunjung sembuh dan sulit buang air kecil menjadi alarm yang tak boleh lagi diabaikan.
Tak hanya ginjal, sistem saraf pun menjadi sasaran. Gangguan saraf atau neuropati—ditandai dengan kesemutan, mati rasa, hingga tremor—kini banyak ditemukan pada warga yang tinggal di sekitar area pertambangan. Mereka mungkin tak sadar bahwa tubuh mereka sedang memberi sinyal keracunan merkuri, zat beracun yang tak hanya merusak saraf tepi, tetapi juga perlahan menggerogoti otak.
Yang lebih mengerikan lagi adalah ancaman kanker kulit dan kanker saluran pencernaan. Paparan arsenik dan residu pestisida dalam jangka panjang telah terbukti secara ilmiah sebagai pemicu pertumbuhan sel-sel ganas. Dalam tiga tahun terakhir, tenaga kesehatan di Gorontalo mencatat tren peningkatan kasus kanker kulit,sebuah fakta yang nyaris tak terdengar di tengah hiruk-pikuk masalah lain.
Di sisi lain, pencemaran bakteriologis juga tak kalah mengancam. Diare dan tifus kronis akibat bakteri E. coli dari limbah tinja telah menjadi langganan anak-anak di desa-desa bantaran sungai. Mereka tumbuh dengan tubuh lemah, gizi buruk, dan sistem imun yang terus terkikis oleh serangan penyakit berulang.
Paling tragis, beban ini bahkan sudah dimulai sejak dalam kandungan. Gangguan kehamilan dan risiko cacat lahir mengintai para ibu hamil yang tak punya akses air bersih. Bayi yang lahir berisiko memiliki berat badan rendah, gangguan perkembangan otak, hingga kelainan fisik akibat paparan logam berat yang melewati plasenta.
Sungai yang tercemar bukan hanya membunuh ikan atau merusak pemandangan. Ia secara diam-diam membunuh masa depan generasi Gorontalo. Air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, kini berbalik menjadi sumber kematian perlahan. Jika tidak ada intervensi serius dari pemerintah, industri, dan kesadaran kolektif masyarakat, krisis ini bukan lagi tentang bencana lingkungan, melainkan bencana kemanusiaan.