Oleh: Dulwahab.
Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo telah usai. Gelaran akbar yang berlangsung pada 20-25 Juni 2026 ini bukan sekadar pesta empat tahunan. Ia adalah cerminan dari denyut nadi sektor pertanian dan kelautan Indonesia, sekaligus menjadi panggung bagi Gorontalo untuk menunjukkan kebesaran budaya dan kekayaan alamnya kepada ribuan peserta dari seluruh penjuru negeri . Kemeriahan yang tercipta,perputaran uang puluhan miliar rupiah, menggeliatnya UMKM, dan penuhnya hotel,Homestay Warga serta Ramainya destinasi wisata adalah bukti nyata bahwa event nasional berdampak besar pada ekonomi daerah .
Namun, Yang Perlu kita Pikirkan Pasca panggung PENAS adalah Bagaimana Panggung Megah itu tidak hanya sekedar Meriah dalam seminggu,atau Panggung Megah itu hanya akan berlalu begitu saja, ataukah akan menjadi fondasi kokoh bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan?.
Akan menjadi sebuah kelucuan jika momentum emas ini dibiarkan menguap sia-sia. Pertanyaan besar yang menggantung adalah bagaimana memastikan bahwa Pertumbuhan Ekonomi di sektor pertanian dan pariwisata tidak berhenti saat tenda PENAS dibongkar?
Potensi Terpendam di Bumi Serambi Madinah
Gorontalo dianugerahi kekayaan alam yang melimpah. Namanya mungkin lebih dikenal dengan jagung saja, namun potensi sebenarnya terletak pada komoditas bernilai ekonomi tinggi yang masih belum tereksplorasi secara maksimal. Kakao, kelapa, kacang, singkong, dan kopi adalah “emas hijau” yang harganya sangat kompetitif. Data terkini menunjukkan bahwa di tingkat konsumen, harga Kakao dapat mencapai Rp33.000-35.000 per liter, sementara kakao dan kopra (olahan kelapa) dibanderol hingga Rp20.000 dan Rp13.100 per kilogram,angka yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan komoditas pangan lainnya . Bahkan, jagung yang selama ini menjadi ikon Gorontalo hanya dihargai sekitar Rp4000-5000 hingga 6000 rupiah per kilogram .
Saat ini belum terlihat sebuah fokus Masif pengembangan untuk membuat komoditas unggulan seperti Kakao,Kacang,Singkong,Kelapa ini belum memberikan nilai tambah optimal bagi petani Gorontalo.
Pariwisata, Energi yang Harus Terus Menyala
Saat PENAS berlangsung, Gorontalo menjelma menjadi kota tujuan. Destinasi wisata seperti Menara Limboto, Pentadio Resort, Taluhu Barakati, Hidup Paus hingga desa-desa wisata yang baru ditata seperti Desa Tilihuwa (berbasis kacang tanah) menjadi primadona .
Namun, tantangan Berikutnya adalah keberlanjutan. Lonjakan wisatawan saat PENAS adalah fenomena musiman. Agar ekonomi pariwisata terus tumbuh, Gorontalo perlu menciptakan daya tarik yang permanen dan direncanakan dengan matang. Destinasi yang hidup hanya saat ada event besar tidak akan cukup untuk mengangkat taraf hidup masyarakat Pariwisata dan UMKM secara berkelanjutan. Di sinilah konsep Agro-Wisata menjadi kunci.
Formula Jitu,Agro-Wisata sebagai Ujung Tombak
Agro-Wisata adalah perpaduan harmonis antara sektor pertanian dan pariwisata. Ini bukan sekadar mengajak wisatawan melihat kebun, tetapi menciptakan pengalaman ekonomi sirkular yang saling menguntungkan . Berikut adalah skenario idealnya:
1. Hilirisasi di Lokasi Wisata: Jika Desa Pertanian menjadi destinasi agrowisata , wisatawan tidak hanya bisa memetik buah tanaman, tetapi juga membeli produk olahannya seperti keripik kacang, Coklat,Singkong olahan,kue Kelapa, atau produk inovasi lainnya yang dijual di koperasi desa . Ini menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja baru bagi UMKM setempat.
2. Homestay dan Ekonomi Kerakyatan: Konsep homestay yang digagas memungkinkan wisatawan tinggal di rumah warga, merasakan kehidupan pedesaan, dan secara langsung berkontribusi pada pendapatan rumah tangga petani dan UMKM. .
3. Pemasaran Terintegrasi: Hasil pertanian yang sudah diolah menjadi produk jadi dapat dipasarkan langsung kepada wisatawan yang berkunjung, atau melalui platform Digital dan kerja sama dengan korporasi.
Dengan pendekatan ini, siklus ekonomi bergerak dari “tanam-panen-jual” menjadi “tanam-olahan-jual-ke-wisatawan”.
Menjaga Momentum, Menghindari Kemunduran
Dampak ekonomi PENAS yang mencapai puluhan miliar rupiah sudah seharusnya menjadi modal awal dan tidak di sia siakan, .
Lebih dari itu, perhatian terhadap kesejahteraan petani dan nelayan harus menjadi prioritas utama. Mereka adalah ujung tombak ketahanan pangan dan pemain utama dalam ekosistem agrowisata. Dukungan terhadap ketersediaan Bibit, pupuk bersubsidi yang kini mencakup komoditas seperti kakao dan kopi serta jaminan harga jual yang layak adalah fondasi yang tak boleh goyah .
Dari Seremoni Menuju Gerakan
PENAS 2026 telah memberi Gorontalo “panggung” dan “spotlight.” Kini saatnya mengubah kemeriahan menjadi gerakan. Keberhasilan sejati bukan diukur dari seberapa ramai pameran saat acara berlangsung, tetapi dari seberapa besar pendapatan masyarakat naik secara berkelanjutan setelah acara, seberapa banyak produk olahan kakao dan kopi Gorontalo memenuhi rak supermarket nasional, dan seberapa banyak wisatawan yang rela kembali lagi karena terpesona oleh keindahan alam sekaligus keramahan desa agrowisatanya.
Bersama Kita Bisa…