Editorial:
Di tengah gempita peringatan Hari Buruh yang kerap diwarnai aksi dan tuntutan, Panasonic Gobel Group memilih jalan berbeda,menanam 1.500 pohon di lingkungan pabrik Panasonic Manufacturing Indonesia, Jumat (1/5/2026). Bukan sekadar seremoni, ini adalah pernyataan sikap. Di saat suhu bumi terus meninggi dan perubahan iklim menjadi ancaman nyata, setiap batang pohon yang ditancapkan ke tanah adalah kontra-narasi melawan krisis lingkungan yang kian menyesakkan.
Rachmat Gobel, pemimpin usaha ini, menegaskan bahwa kegiatan tersebut adalah bagian dari komitmen terhadap kelestarian hidup, penghijauan, dan upaya menurunkan suhu udara bumi. “Kita sedang menghadapi pemanasan global dan climate change,” ujarnya. Kalimat itu terasa bukan sekadar kutipan basa-basi, melainkan pengakuan bahwa dunia usaha pun tidak bisa lagi pura-pura buta terhadap darurat ekologi.
Yang menarik, gerakan tanam pohon ini tidak dilakukan sendiri oleh manajemen, melainkan digerakkan oleh asosiasi buruh dari lebih dari 20 perusahaan di lingkungan Gobel Group.
Ada simbol penting di sini,kesadaran lingkungan tidak lagi monopoli aktivis atau pemerintah, tetapi telah merasuk ke lantai pabrik, menjadi denyut nadi pekerja. Presiden Serikat Pekerja Panasonic Gobel Group, Djoko Wahyudi, turut hadir, begitu pula para direksi, komisaris, hingga seluruh karyawan. Semua bersatu dalam ritme yang sama,menggali tanah, menanam bibit, menyiram harapan.
Kegiatan ini bahkan telah menjadi tradisi. Mei 2026 ditetapkan sebagai Bulan Buruh di lingkungan Gobel Group dengan rangkaian bernama Gobel Championship. Ada 330 piala yang diperebutkan dalam berbagai lomba, dari karnaval, gowes sepeda, hingga lomba masak yang diiringi tabuhan tambur dan yel-yel riang. Di tengah hingar-bingar itu, penanaman pohon tetap menjadi inti: sebuah pengingat bahwa pertumbuhan perusahaan dan kesejahteraan buruh harus selaras dengan kelestarian alam.
Rachmat Gobel lalu menarik benang merah yang dalam. Ia mengenang almarhum Thayeb M Gobel, pendiri grup, yang mewariskan 4 perusahaan dan 2.000 karyawan. Kini, ada lebih dari 20 perusahaan dan 16.000 karyawan. “Para buruhlah yang membuat perusahaan ini terus tumbuh dan berkembang,” katanya. Lalu ia menyebut filosofi Pohon Pisang dan Tujuh Prinsip Perusahaan. Pohon pisang, barangkali, dipilih karena ia tumbuh cepat, berbuah lebat, dan setelah berbuah, anakan-akannya tumbuh menggantikan induknya,sebuah siklus kehidupan yang mengajarkan tentang regenerasi, ketahanan, dan keberlanjutan.
Tapi yang paling mengena adalah ketika ia mengingatkan bahwa buruh bukan alat produksi. “Gobel Group memiliki filosofi memanusiakan manusia, bukan mempekerjakan manusia.” Dalam konteks lingkungan, ini terasa paralel dengan cara kita memperlakukan alam: apakah alam hanya dilihat sebagai bahan baku atau sebagai mitra hidup yang harus dihormati? Menanam pohon di Hari Buruh menjadi simbol ganda: menghormati kerja manusia sekaligus menghormati kerja alam yang menopang kehidupan.
Ia juga menyentil soal martabat kerja, dengan menyebut para tukang sapu yang tak kalah mulia dari jabatan tertinggi. “Tanpa tukang sapu, lingkungan perusahaan tidak akan bersih. Kebersihan menjadi cermin kinerja perusahaan.” Dalam ekologi pabrik, robust health dimulai dari hal paling dasar, seperti dalam ekosistem alami—ganggang, lumut, hingga serasahlah yang membangun kesuburan tanah.
Maka, peringatan Mayday tahun ini bukanlah sekadar pesta buruh. Ia adalah sebuah esai hidup tentang bagaimana perusahaan, karyawan, dan alam bisa tumbuh bersama dalam satu irama. Sebab, di akhir abad nanti, yang akan dikenang bukanlah angka keuntungan, melainkan apakah kita masih punya pohon untuk bernafas dan apakah kita masih saling menjaga sebagai sesama manusia dan sesama makhluk.
Editorial oleh: dulwahab