Bulan Ramadan selalu datang dengan dua wajah: keberkahan yang melimpah, dan kekhawatiran yang merayap di dapur-dapur warga. Di tengah kekhusyukan salat tarawih, Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail hadir bukan hanya sebagai pemimpin, tapi juga sebagai penenteram hati.
Di Masjid Baiturahim, Kabupaten Pohuwato, Rabu (25/2/2026) malam, Gusnar melaksanakan salat tarawih berjamaah bersama warga. Namun, usai salam, ia tak langsung beranjak. Di sela-sela silaturahmi yang hangat bersama jamaah, didampingi Sekretaris Daerah Provinsi Sofian Ibrahim dan Bupati Pohuwato Saipul A. Mbuinga, ia menyampaikan pesan yang ditunggu: harga kebutuhan pokok aman.
“Pemprov dan pemkab terus memantau harga agar tidak melonjak melampaui batas, sehingga tetap terjangkau bagi masyarakat,” ujarnya di hadapan jamaah yang masih duduk bersila di atas sajadah.
Gusnar paham betul ritme Ramadan. Setiap tahun, menjelang bulan puasa, harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, dan daging kerap merangkak naik. Dinamika ini, menurutnya, adalah hal lumrah dalam mekanisme pasar. Namun, lumrah bukan berarti dibiarkan tanpa kendali.
Pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten, kata Gusnar, telah membentuk tim pemantau harga. Tim ini bergerak tidak hanya di pasar-pasar utama, tetapi juga hingga ke tingkat distributor. Tujuannya sederhana: memastikan spekulan tidak bermain di tengah kebutuhan masyarakat yang meningkat.
“Segala macam komoditas yang diperlukan masyarakat kami jaga, sehingga harga tetap terkendali dan masyarakat dapat beribadah dengan tenang,” tegasnya.
Di malam yang syahdu itu, Gusnar tak hanya bicara tentang harga. Ia juga menyelipkan kabar gembira tentang pembangunan Masjid Raya atau Islamic Center Provinsi Gorontalo. Proyek ambisius yang telah dimulai dengan peletakan batu pertama itu memiliki keistimewaan: dibangun tanpa menyentuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Masjid raya ini kita bangun dengan infaq agar semua bisa terlibat dan mendapatkan pahala,” pungkasnya mengajak.
Ada pesan simbolik yang kuat dalam pertemuan itu. Di bulan yang mengajarkan tentang pengendalian diri, pemerintah justru menunjukkan pengendalian pasar. Di saat umat menahan lapar dan dahaga, negara hadir memastikan tak ada yang kelaparan karena harga yang meroket.
Di Masjid Baiturahim malam itu, Gusnar tak hanya memimpin doa, tapi juga memberi kepastian. Bahwa Ramadan kali ini, warga Gorontalo bisa menjalani ibadah dengan hati yang tenang—setidaknya untuk urusan perut.