Editorial:
Tahun 2025 menjadi saksi sejarah bagi Provinsi Gorontalo. Berbagai laporan pencapaian menunjukkan kemajuan yang signifikan di sektor ekonomi perdagangan, pertanian,kelautan, pertambangan, pariwisata dan layanan publik. Progres ini bukan sekadar lonjakan sesaat, melainkan fondasi kokoh yang mengantarkan Gorontalo memasuki tahun 2026 dengan optimisme tinggi.
Prediksi pertumbuhan ekonomi Gorontalo yang signifikan bukanlah angan-angan, melainkan hasil logis dari kombinasi kepemimpinan transformatif dan strategi kolaborasi yang telah dirintis. Tahun 2026 bisa dibilang sebagai “tahun optimis”, bagi gorontalo.
Kunci utama dari optimisme ini terletak pada kepemimpinan Gubernur Gorontalo, Dr. Gusnar Ismail, yang menghadirkan gaya pemerintahan pentagonal, visioner, progresif, inovatif, kolaboratif, dan humanis. Pendekatan visioner tercermin dalam perencanaan pembangunan yang tidak hanya memikirkan kebutuhan jangka pendek, tetapi juga posisi Gorontalo dalam peta ekonomi Indonesia di masa depan. Sifat progresif mendorong percepatan eksekusi program-program strategis, menghindari jebakan birokrasi yang lamban. Inovasi dibutuhkan untuk menjawab tantangan spesifik daerah, seperti optimalisasi teknologi pertanian untuk komoditas unggulan jagung dan ikan, serta pengembangan ekonomi digital yang inklusif.
keunggulan terbesar dari kepemimpinan ini adalah kemampuan kolaborasi dan pendekatan humanis. Dr. Gusnar Ismail menyadari bahwa pembangunan ekonomi yang berkelanjutan harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan berpusat pada peningkatan kesejahteraan masyarakat (humanis). Di sinilah aset strategis Gorontalo dimaksimalkan,hubungan baik dan kolaborasi erat dengan tokoh-tokoh nasional berpengaruh asal Gorontalo, yaitu Rachmat Gobel dan Sandiaga Uno.
Kolaborasi ini memberikan “daya gedor” multidimensi. Rachmat Gobel, dengan latar belakang industri dan bisnis global yang kuat, dapat menjadi jembatan emas bagi investasi strategis ke Gorontalo. Pengetahuan mendalamnya tentang rantai pasok dan industrialisasi dapat membantu mentransformasi potensi pertanian dan kelautan Gorontalo dari penghasil bahan mentah menjadi pusat pengolahan yang bernilai tambah tinggi. Sementara itu, Sandiaga Uno, dengan kapasitasnya di bidang entrepreneurship, pariwisata, dan ekonomi kreatif, merupakan mitra ideal untuk membangkitkan sektor-sektor andalan baru. Pengalamannya dapat mendorong munculnya wirausaha muda lokal, memperkuat branding pariwisata Gorontalo yang berkelas, dan menarik minat investor venture capital ke ekonomi digital daerah.
Sinergi segitiga antara kepemimpinan daerah yang efektif (Gusnar Ismail), jaringan industri dan investasi (Rachmat Gobel), serta entrepreneurship dan branding nasional (Sandiaga Uno) menciptakan ekosistem pembangunan yang langka. Kolaborasi ini memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi Gorontalo tidak hanya bergantung pada anggaran pemerintah daerah, tetapi juga digerakkan oleh investasi swasta, inovasi bisnis, dan integrasi dengan pasar nasional maupun global.
Oleh karena itu, optimisme tahun 2026 bagi Gorontalo memiliki dasar yang sangat rasional. Ini adalah optimisme yang dibangun bukan pada retorika, melainkan pada track record tahun 2025, kepemimpinan yang komprehensif, dan jaringan strategis yang powerful. Tantangan seperti kesenjangan infrastruktur di daerah terpencil, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan mitigasi dampak perubahan iklim tentu masih ada. Namun, dengan modal sosial berupa kolaborasi erat antara pemimpin daerah dan putra terbaiknya di tingkat nasional, Gorontalo memiliki kapasitas yang lebih besar untuk mengubah tantangan tersebut menjadi peluang.
Gorontalo sedang menulis babak baru dalam sejarah ekonomi pembangunannya. Tahun 2026 berpotensi menjadi titik balik di mana provinsi ini tidak lagi sekadar “berpotensi”, tetapi menjadi “pelaku aktif” yang berkontribusi nyata terhadap perekonomian nasional. Kesuksesan Gorontalo akan menjadi studi kasus berharga bahwa dalam ekonomi pembangunan kontemporer, kepemimpinan lokal yang visioner dan kolaborasi strategis yang tulus merupakan formula yang lebih kuat daripada sekadar mengandalkan sumber daya alam atau transfer anggaran pusat. Semua mata kini tertuju ke Gorontalo, untuk menyaksikan bagaimana optimisme itu diwujudkan menjadi kemakmuran yang inklusif dan berkelanjutan bagi seluruh warganya.