Editorial:
Musim hujan tahun ini tidak datang sendirian. Ia diantar oleh gejala siklon tropis yang mengancam mengubah tetes air menjadi bencana besar, khususnya bagi wilayah Gorontalo. Ancaman itu bukan lagi sekadar prediksi cuaca, melainkan sebuah sirene peringatan yang memecah keheningan, mengingatkan kita pada trauma banjir bandang yang melanda Aceh dan Sumatra beberapa waktu lalu. Saat siklon tropis memerangkap udara lembap dan mengubahnya menjadi hujan yang tak henti-henti, Gorontalo menghadapi sebuah ujian nyata, apakah alam yang telah lama terluka sanggup menahan gempuran air dari langit?
Siklon tropis berperan sebagai akselerator bencana. Fenomena ini tidak hanya meningkatkan intensitas hujan, tetapi juga memperpanjang durasinya. Awan-awan yang terpusat oleh pusaran siklon mampu menumpahkan curah hujan ekstrem dalam waktu berhari-hari. Bayangkan, volume air yang seharusnya turun dalam sebulan, kini mungkin tercurah hanya dalam hitungan hari. Inilah pemicu utama (trigger) yang mengubah banjir biasa menjadi banjir besar yang merusak.
Namun, pemicu saja tidak cukup tanpa bahan bakar yang tepat. Di sinilah kondisi lingkungan Gorontalo yang kian rusak menjadi faktor krusial. Kerusakan hutan akibat alih fungsi lahan, Penambahan lahan jagung yg mengiis Poho-Pohon di lereng hutan, penambangan liar , degradasi tanah,lahan sawit ,Pendangkalan sungai akibat sedimen, telah melucuti fungsi terpentingnya sebagai spons raksasa penyerap air.
Akar pepohonan yang seharusnya menahan tanah dan meresapkan air hujan ke dalam bumi, telah melemah. Akibatnya, air tidak lagi diresap, melainkan langsung meluncur sebagai aliran permukaan (run-off) yang deras.
Kerusakan ini berlanjut ke tubuh sungai. Pendangkalan akibat sedimentasi dari erosi di hulu, penyempitan aliran karena sampah dan encroachment, serta degradasi daerah sempadan sungai, telah melumpuhkan kapasitas saluran air alamiah ini. Sungai-sungai yang seharusnya menjadi jalur pengaliran yang efisien, kini menjadi kolam dangkal yang mudah meluap. Ketika hujan ekstrem dari siklon tropis datang, sungai yang sakit itu tak lagi mampu menampung dan mengalirkan volume air yang berlipat ganda. Air pun mencari jalan sendiri, membanjiri pemukiman, sawah, dan infrastruktur.
Potensi terulangnya skenario Aceh dan Sumatra di Gorontalo sangat nyata. Kesamaan utamanya terletak pada kombinasi mematikan antara anomali cuaca ekstrem dan kerentanan lingkungan. Aceh dan Sumatra memberikan pelajaran pahit tentang bagaimana banjir bandang menghanyutkan segalanya ketika daya dukung alam sudah berada di titik kritis. Gorontalo, dengan gejala siklon tropis sebagai pemantik dan kerusakan hutan-sungai sebagai bahan bakarnya, berjalan di tepi jurang yang sama.
Oleh karena itu, respons kita harus bersifat dua lapis, jangka pendek dan jangka panjang. Darurat saat ini memerlukan kesiapsiagaan maksimal dari BPBD, pemerintah daerah, dan masyarakat. Sistem peringatan dini harus dioptimalkan, lokasi rawan dipetakan ulang, dan jalur evakuasi disosialisasikan. Namun, langkah tanggap darurat hanya akan menjadi ritual tahunan jika akar masalah tidak ditangani.
Pemulihan lingkungan harus menjadi agenda utama. Rehabilitasi hutan dan lahan kritis di daerah tangkapan air (catchment area) perlu dipercepat. Penegakan hukum terhadap perusakan lingkungan harus konsisten. Sungai-sungai perlu direvitalisasi dengan normalisasi, pengerukan, dan penataan sempadan yang berwawasan ekologi. Gerakan masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai dan menanam pohon juga adalah modal sosial yang tak ternilai.
Musim hujan dengan ancaman siklon tropis ini adalah cermin yang memantulkan wajah lingkungan kita. Ancaman banjir besar di Gorontalo adalah buah dari kesalahan masa lalu yang dipanen di masa kini. Kita masih memiliki kesempatan untuk mengubah narasi ini. Dengan langkah cepat dan komitmen kolektif untuk menyembuhkan luka alam, kita dapat memastikan bahwa air hujan kembali menjadi berkah yang meresap ke bumi, bukan kutukan yang menggenang dan menghancurkan.
Jangan sampai Gorontalo hanya menjadi nama berikutnya dalam daftar panjang bencana banjir nasional. Saatnya bertindak sebelum sirene peringatan itu berubah menjadi ratapan duka.