Gorontalo — Di ruang pertemuan yang teduh di Kantor BRI Cabang Gorontalo, Kamis (7/5/26), tidak ada agenda seremonial biasa. Yang berlangsung adalah sebuah perjalanan gagasan. Anggota DPR RI Rachmat Gobel duduk berdampingan dengan jajaran perbankan, bukan untuk sekadar berbincang, melainkan merancang perubahan struktural,melepaskan petani Gorontalo dari belenggu jeratan tengkulak.
Selama bertahun-tahun, para petani di Gorontalo hidup dalam paradoks. Mereka bekerja keras di bawah matahari, tetapi kantong mereka tetap kering. Bukan karena hasil panen sedikit, melainkan karena sebagian besar keuntungan mengalir ke tangan tengkulak. Tengkulak hadir bagaikan “penolong” di musim paceklik,memberi pinjaman dengan bunga tinggi, lalu membeli hasil panen dengan harga murah karena petani tak punya pilihan lain.
Rachmat Gobel melihat persoalan ini tidak dengan nada menyalahkan, melainkan dengan sudut pandang sistemik. “Petani selama ini punya keterbatasan akses permodalan dan distribusi. Sementara perbankan memiliki aturan sendiri. Yang hilang adalah jembatan,” ujarnya.
Jembatan Emas dengan BRI
ketika Rachmat Gobel menginisiasi pertemuan dengan BRI Cabang Gorontalo, ia membawa satu keyakinan, BRI adalah jembatan itu. Terlebih setelah BRI mengakuisisi PNM, jangkauan mereka hingga ke desa-desa kecil menjadi kekuatan luar biasa. Petani tidak lagi harus menggadaikan tanah atau janji hasil panen untuk mendapat modal. Cukup dengan program pembiayaan yang tepat, mereka bisa bernapas lega.
Gagasan yang lebih berani pun disampaikan Gobel kepada Menteri Pertanian agar menyalurkan bantuan bibit pertanian melalui BRI. Bukan lagi melalui birokrasi panjang yang rawan bocor, tetapi langsung melalui bank yang akan memanggil para petani penerima manfaat. Tepat sasaran. Tanpa perantara yang memotong.
Bukan Sekadar Tanam, Tapi Bangun Kemandirian
Bagi Gobel, ini bukan soal pertanian semata. Ini adalah strategi penurunan angka kemiskinan. “Jika petani kuat dan sejahtera, maka ekonomi daerah akan ikut tumbuh,” tegasnya. Dan itulah yang diimpikannya: petani Gorontalo tidak lagi menjadi aktor pinggiran dalam rantai ekonomi. Mereka adalah subjek utama yang menentukan sendiri nasibnya.
Dengan akses langsung ke bibit unggul, pupuk, dan permodalan lunak, petani bisa berubah dari pekebun kecil yang tergadai menjadi pengusaha agraria yang mandiri. Mereka bisa menentukan harga, memilih pasar, bahkan merambah ke industri pengolahan. Tengkulak perlahan tidak lagi diperlukan, karena sistem yang lebih adil telah berdiri.
Memang, melepaskan belenggu tidak terjadi dalam semalam. Tapi pertemuan di Gorontalo itu adalah titik awal yang nyata. Sinergi antara pemerintah, DPR, dan perbankan mulai berwujud. Program bantuan bibit lewat BRI sedang dalam proses penggodokan. Para petani di desa-desa mulai mendapat angin segar.
Gorontalo, yang dikenal sebagai Bumi Serambi Madinah, kini bersiap menulis babak baru. Babak di mana petani berjalan tegak, tanpa bayang-bayang utang dan ketidakadilan. Babak di mana hasil bumi mereka menjadi kemakmuran bersama, bukan sekadar pasokan untuk segelintir tengkulak.
Seperti disampaikan Rachmat Gobel di akhir pertemuan, “Kemandirian petani adalah fondasi ekonomi daerah yang tangguh.”
Editor: dulwahab