Editorial: dulwahab. (Jurnalis,Pengamat Geopolitik-ekonomi Timur Tengah).
Dinamika kepemimpinan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Provinsi Gorontalo saat ini memasuki babak baru yang mengejutkan. Di tengah bursa calon ketua yang didominasi oleh nama-nama baru, muncullah seorang figur yang cepat menjadi perbincangan hangat di kalangan konstituen dan pengusaha,Jimy Tahir, seorang direktur perusahaan dengan rekam jejak nasional dan internasional. Kehadirannya tidak hanya meramaikan kontestasi, tetapi juga menghadirkan harapan besar akan percepatan pertumbuhan ekonomi Gorontalo melalui sektor perdagangan.
Dari Kuda Hitam Menuju Katalis Perubahan.
Dalam peta persaingan pemilihan ketua KADIN, nama baru biasanya dianggap sebagai “kuda hitam” Namun, Jimy Tahir berbeda. Popularitasnya yang meledak dalam waktu singkat bukanlah hasil dari gimmick politik semata, melainkan respons organik dari komunitas bisnis pengusaha Gorontalo yang haus akan perubahan. Figur berpengalaman dengan orientasi global berbasis Lokal seperti Jimy dinilai sebagai antitesis dari stagnasi birokrasi organisasi yang selama ini kerap membelenggu potensi daerah.
Pengusaha Gorontalo, yang sebagian besar bergerak di sektor agribisnis (jagung, kelapa, cengkeh), perikanan, dan perdagangan antar pulau, mulai menyadari bahwa untuk naik kelas, mereka membutuhkan pemimpin yang tidak hanya paham administrasi dagang, tetapi juga memiliki track record menembus pasar global. Dalam konteks ini, Jimy Tahir mewakili harapan baru,seorang teknokrat bisnis yang bisa menjembatani kesenjangan antara potensi lokal yang melimpah dengan akses pasar internasional yang selama ini masih terbatas.
Membaca Potensi Perdagangan Gorontalo, Kondisi Saat Ini.
Secara ekonomis, Provinsi Gorontalo memiliki keunggulan komparatif yang luar biasa, terutama pada komoditas perikanan (tongkol, cakalang, tuna) dan hasil perkebunan. Namun, volume perdagangan Gorontalo masih didominasi oleh skala lokal dan antar provinsi di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Data menunjukkan bahwa ekspor langsung dari pelabuhan Gorontalo masih relatif rendah dibandingkan potensinya. Sebagian besar hasil laut dan bumi Gorontalo masih dikirim melalui perantara ke Surabaya atau Makassar sebelum diekspor, sehingga nilai tambahnya banyak yang hilang di daerah lain.
Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor, keterbatasan akses pembeli langsung (direct buyer) dari mancanegara, lemahnya promosi investasi, serta belum optimalnya peran KADIN sebagai fasilitator hubungan dagang internasional. Di sinilah urgensi kepemimpinan yang memiliki jejaring global menjadi sangat krusial.
Kontribusi Jimy Tahir,Membangun Jembatan, Bukan Sekadar Gedung
Jika Jimy Tahir terpilih, dampak ekonominya tidak akan bersifat instan, tetapi akan memicu efek berganda (multiplier effect) yang terstruktur. Berdasarkan pengalamannya di dunia perdagangan internasional, ada tiga terobosan utama yang dapat ia dorong,
-Peningkatan Ekspor Langsung (Direct Export)
Dengan koneksi yang dimilikinya, Jimy dapat memotong rantai distribusi yang panjang. Alih-alih menjual ke perantara di Surabaya dan Makassar, pengusaha Gorontalo bisa langsung mengekspor komoditas perikanan ke Jepang, Korea, Timur Tengah ,Amerika Latin atau pasar Eropa. Ini akan meningkatkan pendapatan petani dan nelayan secara signifikan.
-Revitalisasi Infrastruktur Perdagangan
KADIN di bawah kepemimpinan figur berpengalaman dapat mendorong percepatan pengembangan Pelabuhan Gorontalo menjadi pelabuhan internasional yang terintegrasi. Bukan hanya fisik, tetapi juga standar logistik dan kepabeanan (port clearance) yang efisien.
-Membangun Merek Dagang Daerah (Place Branding)
Salah satu kelemahan Gorontalo adalah rendahnya branding komoditasnya. Jimy dapat memanfaatkan pengalamannya untuk mempromosikan “Gorontalo Tuna” atau “Gorontalo Corn” sebagai produk unggulan yang diakui di bursa komoditas global, layaknya bagaimana Thailand mem-branding berasnya.
Dampak pada Pertumbuhan Ekonomi: Lebih Hidup, Bergeliat, dan Naik Kelas.
Jika volume perdagangan Gorontalo naik ke level internasional, maka pertumbuhan ekonomi tidak akan lagi bersifat linier, melainkan eksponensial. Skenario positif yang dapat terjadi antara lain:
· Penciptaan lapangan kerja baru: Tidak hanya di sektor perikanan dan pertanian, tetapi juga di logistik, jasa ekspor-impor, perbankan, dan pariwisata bisnis.
· Peningkatan investasi masuk: Investor asing akan tertarik jika melihat ada kepemimpinan KADIN yang kredibel dan memiliki reputasi internasional.
· Stabilitas harga komoditas: Dengan akses ekspor langsung, harga hasil bumi Gorontalo tidak lagi dimonopoli oleh pasar lokal, sehingga petani mendapatkan harga yang lebih adil.
Dengan kata lain, visi “Gorontalo Bangkit dan Berjaya” bukan sekadar jargon. Diperlukan pemimpin KADIN yang mampu menterjemahkan potensi menjadi transaksi nyata di pasar global. Gorontalo kini Punya Pelabuhan Eksport internasional di Anggrek Gorut,Semua sudah siap.
Meski optimisme tinggi, Jika pencalonan Jimy Tahir Jadi ?, bukannya tanpa tantangan. Pertama, ia harus mampu menyatukan faksi-faksi di internal KADIN yang mungkin nyaman dengan status quo. Kedua, sinergi dengan pemerintah daerah sangat diperlukan karena perdagangan internasional juga menyangkut regulasi perizinan dan kebijakan fiskal. Ketiga, kesiapan sumber daya manusia (SDM) lokal harus ditingkatkan agar mampu bersaing dalam standar mutu dan negosiasi dagang global.
Jimy perlu segera membuktikan bahwa reputasi dan pengalamannya bisa diterjemahkan ke dalam program nyata yang membumi, bukan sekadar wacana di ruang rapat.
Munculnya Jimy Tahir sebagai kuda hitam di bursa calon ketua KADIN Provinsi Gorontalo adalah momentum strategis. Di tengah kebutuhan mendesak akan akselerasi ekonomi pasca pandemi dan era persaingan global, figur dengan pengalaman perdagangan internasional seperti Jimy bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Jika ia berhasil memimpin KADIN, bukan tidak mungkin Gorontalo akan bertransformasi dari daerah tertinggal menjadi gerbang perdagangan utama di Kawasan Timur Indonesia. Volume perdagangan akan melonjak, ekonomi akan bergeliat hidup, dan kemakmuran akan terdistribusi lebih merata. Kini, semua mata tertuju pada konstituen dan pengusaha Gorontalo: apakah mereka akan memilih yang aman (status quo), atau yang mampu membawa mereka terbang lebih tinggi.