Oleh: dulwahab
Dalam pusaran industrialisasi dan derasnya arus globalisasi, Indonesia terus mencari formula ekonomi yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga berkeadilan. Di tengah kebisingan digital dan gempuran teknologi, muncullah sosok Rachmat Gobel, seorang pengusaha nasional, Mantan Menteri ,politisi DPR RI, dan kini Wakil Presiden Sarekat Islam,Sebuah Ormas Tua dan Besar serta Masih eksis dizaman kini.
Lebih dari sekadar pejabat publik, Gobel menghadirkan nostalgia ideologis yang segar, ia seperti reinkarnasi semangat H.O.S. Tjokroaminoto,(Haji Omar Said), sang guru bangsa,Perintis Kemerdekaan Indonesia. Gagasan-gagasan Rachmat Gobel tentang kemajuan ekonomi rakyat secara mencolok selaras dengan konsep Sosialisme Religius yang dipopulerkan Tjokroaminoto seabad lalu (1900 an),sebuah konsep yang hari ini terasa sangat relevan sebagai solusi kebangkitan ekonomi Indonesia menuju kemandirian dan kejayaan.
Sosialisme Religius Tjokroaminoto: Akar Keadilan Ekonomi Indonesia
Untuk memahami kedekatan Rachmat Gobel dengan Tjokroaminoto, kita harus menilik kembali akar pemikiran pendiri Sarekat Islam tersebut. Di awal abad ke-20, Tjokroaminoto tidak hanya mendirikan organisasi pergerakan, tetapi juga merumuskan ideologi perlawanan terhadap kolonialisme yang berbasis nilai-nilai Islam. Ia menolak kapitalisme yang dianggap sebagai biang keladi kesengsaraan rakyat dan juga mengkritik sosialisme Barat yang materialistik dan sekuler .
Tjokroaminoto melahirkan “Sosialisme Religius” (atau Socialisme Islam), yaitu sistem etis yang bertumpu pada tiga pilar utama: tauhid (keesaan Tuhan yang menolak penindasan), ukhuwah (persaudaraan universal), dan keadilan sosial .
Baginya, perjuangan ekonomi adalah ibadah. Sarekat Islam yang awalnya adalah Sarekat Dagang Islam (SDI) dibentuk untuk membebaskan pedagang pribumi dari dominasi modal asing dan kongsi dagang Kolonial peninggalan VOC . Ini bukan sekadar dagang, melainkan jihad ekonomi melawan ketidakadilan struktural.
Rachmat Gobel: Manifestasi “Tjokroaminoto Kekinian”
Tidak banyak tokoh modern yang secara sadar menghidupkan kembali nafas perjuangan Sarekat Islam. Rachmat Gobel adalah pengecualian. Lahir dari keluarga yang berakar pada organisasi bersejarah tersebut dan kini menjabat sebagai Wakil Presiden Sarekat Islam, Gobel membawa warisan genetik perjuangan itu ke dalam kebijakan dan praktik Politiknya. Ada tiga poin utama yang menunjukkan bahwa Rachmat Gobel adalah “Tjokroaminoto Baru” di Indonesia.
-Koperasi sebagai Benteng Ekonomi Kerakyatan
Tjokroaminoto percaya bahwa ekonomi rakyat harus dikelola secara kolektif, salah satunya melalui lumbung desa dan koperasi. Semangat yang sama diusung dengan lantang oleh Rachmat Gobel. Baginya, koperasi adalah benteng ekonomi nasional dan Daerah sekaligus penjaga keutuhan NKRI, terutama di desa-desa .
Di tengah gempuran liberalisasi perdagangan dan membanjirnya impor (bahkan pakaian bekas dan tekstil bermotif batik), Gobel menyerukan penguatan koperasi sebagai garda Perjuangan Ekonomi. Ia menyadari bahwa pasar domestik yang besar adalah kekuatan utama koperasi. Jika Tjokroaminoto dulu melawan rentenir Belanda, hari ini Rachmat Gobel melawan produk impor yang mematikan industri lokal dan menggerus budaya bangsa. Dukungannya terhadap program Koperasi Merah Putih adalah bukti nyata bahwa ia mewarisi semangat “Sosialisme Religius” yang inklusif dan mandiri .
-Industrialisasi Berkeadilan yang Memanusiakan
Salah satu kutipan Tjokroaminoto yang paling terkenal adalah tentang “setinggi-tinggi ilmu” yang harus digunakan untuk kemanusiaan. Rachmat Gobel menerjemahkan ini ke dalam konsep “Industrialisasi Berkeadilan.” Sebagai Chairman Gobel Group yang bekerja sama dengan raksasa elektronik dunia (Panasonic), ia menyadari keniscayaan teknologi seperti Kecerdasan Buatan (AI) dan otomatisasi.
Namun, Gobel memberikan peringatan keras kepada bangsa ini, “Teknologi itu harus kita manfaatkan untuk keselamatan dan efisiensi, tapi jangan sampai menghilangkan kesempatan kerja-Kerja Rajyat” . Di perusahaannya, ia secara sadar tidak mengotomatisasi semua proses produksi demi menjaga keseimbangan antara modernisasi dan penciptaan lapangan kerja . Di sinilah letak religius dalam pemikirannya, manusia tidak boleh dikorbankan demi keuntungan modal. Ini adalah wujud nyata dari keadilan sosial yang dulu diperjuangkan Tjokroaminoto.
-Diversifikasi Pertanian dan Transformasi Desa
Tjokroaminoto dulu berjuang melalui Sarekat Islam untuk mengangkat martabat petani yang terjerat ijon (sistem hutang panen). Rachmat Gobel melanjutkan perjuangan itu dengan pendekatan modern. Ia secara konsisten mendorong diversifikasi pertanian agar petani tidak jatuh miskin akibat ketergantungan pada satu komoditas dan Tengkulak Korporasi.
Lebih dari itu, ia mempraktikkan langsung transformasi desa. Di daerah pemilihannya, Gorontalo, ia mengubah desa-desa miskin menjadi kawasan agrowisata . Langkah ini tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga membangun harga diri masyarakat. Ini adalah esensi “Sosialisme Religius”: pembangunan bukan sekadar infrastruktur fisik, tetapi transformasi kehidupan manusia menuju kemakmuran yang diridhai Tuhan.
Konsep yang Sangat Relevan untuk Indonesia Hari Ini
Mengapa gagasan Tjokroaminoto dan praktik Rachmat Gobel begitu relevan? Karena Indonesia saat ini sakit oleh ketimpangan. Oligarki ekonomi menguasai sumber daya, sementara rakyat kecil hanya mendapat remah-remah. Kapitalisme yang berjalan liar di Indonesia telah melahirkan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.
Sosialisme Religius hadir sebagai antitesis. Ia menawarkan jalan tengah yang khas Indonesia, bukan komunisme ateis yang memusuhi agama, bukan kapitalisme sekuler yang rakus, melainkan ekonomi kerakyatan yang bertuhan. Konsep ini mengajarkan bahwa keselamatan bangsa tidak hanya diukur dari tingkat pertumbuhan PDB, tetapi dari seberapa rendah angka kemiskinan dan seberapa tinggi rasa keadilan di tengah masyarakat.
Rachmat Gobel, dengan mengaktifkan kembali koperasi, menyeimbangkan teknologi dengan lapangan kerja, serta mengangkat petani melalui agrowisata, telah membuktikan bahwa konsep itu bukan utopia. Ia adalah bukti hidup bahwa bisnis bisa beretika dan politik bisa berpihak pada rakyat kecil.
Rachmat Gobel bukan sekadar politisi atau pengusaha biasa. Ia adalah penyambung estafet peradaban. Ketika banyak anak muda mulai lupa pada Tjokroaminoto, Gobel hadir mengingatkan bahwa semangat Sarekat Islam masih berdenyut. Dengan berpegang pada gagasan industrialisasi berkeadilan dan koperasi sebagai soko guru, ia telah menghidupkan kembali ruh Sosialisme Religius di abad 21.
Jika Tjokroaminoto adalah sang arsitek yang merancang fondasi kemerdekaan ekonomi, maka Rachmat Gobel adalah kontraktor yang berusaha membangun gedung kejayaan di atas fondasi tersebut. Sudah saatnya Indonesia kembali kepada akarnya, mengangkat ekonomi rakyat melalui koperasi, menjaga kemanusiaan di tengah gempuran mesin, dan menjadikan agama sebagai sumber keadilan, bukan hanya seremoni. Inilah jalan menuju Indonesia yang benar-benar maju, berdikari, dan berjaya.