Di balik hiruk-pikuk kendaraan bermotor di jalanan Gorontalo, ada denyut nadi ekonomi yang tak pernah berhenti berdetak. Mereka adalah para pengemudi bentor—sosok-sosok yang setiap hari mengantar penumpang, menembus panas dan hujan, demi secercah rupiah. Namun, Selasa (24/2/2026) malam, mereka tak berada di jalanan. Mereka duduk di Hulondhalo Ballroom, menjadi bagian dari refleksi satu tahun kepemimpinan Gubernur Gusnar Ismail dan Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie.
Raut bahagia terpancar jelas dari wajah puluhan pengemudi yang tergabung dalam Ikatan Pengemudi Bentor (IPB). Bukan sekadar undangan biasa, momen buka puasa bersama ini menjadi ruang dialog yang langka: pemerintah duduk satu meja dengan masyarakat kecil, mendengar langsung apa yang selama ini hanya berupa keluhan di pinggir jalan.
Salah satu yang paling vokal menyuarakan rasa syukur adalah Yasin Abdullah, pria 43 tahun yang menjabat sebagai Ketua Asosiasi Persatuan Ikatan Pengemudi Bentor (IPB) Provinsi Gorontalo. Meski baru setahun memimpin organisasi untuk periode lima tahun ke depan, Yasin sudah merasakan perubahan nyata dalam kebijakan yang menyentuh anggotanya.
“Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Gubernur karena selama ini telah mengikutsertakan lagi kami dalam kegiatan semacam ini. Pencapaian Pak Gubernur begitu banyak prestasi, jadi itu merupakan salah satu kebanggaan bagi kami, khususnya Abang Bentor,” ujarnya dengan mata berbinar.
Bagi Yasin dan rekan-rekannya, undangan ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah pengakuan bahwa keberadaan mereka—yang seringkali luput dari statistik—dianggap penting dalam peta pembangunan daerah.
Ia menyoroti dua agenda besar yang dinilai akan berdampak langsung pada kantong para pengemudi: rencana pembangunan embarkasi haji dan pelaksanaan Pekan Nasional (Penas) pada Juni-Juli mendatang. Dua event ini, menurut Yasin, akan menggerakkan ekonomi kerakyatan, termasuk meningkatkan jumlah penumpang bentor.
“Harapan ke depannya, kiranya pemerintah selalu memberi perhatian terhadap kami, seperti pembagian sembako dan pengadaan SIM. Itu harapan kami agar hal ini jangan cuma sampai di sini, kiranya berkelanjutan terus,” imbuhnya.
Program SIM gratis menjadi salah satu bukti nyata yang paling diapresiasi. Sekitar 150 pengemudi bentor telah menerima fasilitas tersebut. Sebuah langkah kecil yang berdampak besar: dari sekadar legalitas berkendara, hingga rasa aman saat melintas di jalan raya tanpa bayang-bayang razia.
Malam itu, di tengah doa bersama dan suapan pertama buka puasa, ada pesan yang mengemuka: bahwa pembangunan bukan hanya soal infrastruktur megah atau angka-angka makro. Tapi juga tentang bagaimana seorang pengemudi bentor bisa tersenyum karena merasa didengar dan diperhatikan.
Refleksi satu tahun kepemimpinan Gusnar-Idah mungkin akan diisi dengan berbagai data dan statistik. Namun bagi Yasin dan kawan-kawannya, ukuran keberhasilan sederhana: apakah mereka masih diundang, apakah program berkelanjutan, dan apakah SIM gratis tetap ada.
Di Hulondhalo Ballroom malam itu, bentor bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah simbol bahwa pembangunan yang merata dimulai dari ruang dialog yang setara—di mana suara dari jalanan didengar hingga ke meja kekuasaan.