Editorial:
Harapan Masyarakat Gorontalo dan sekitarnya untuk dapat memiliki Embarkasi Haji Kini Mulai Terwujud dan menjadi Nyata.
Ada semacam getar keimanan yang mengalir lembut di udara Gorontalo Jumat sore itu, 20 Februari 2026. Bukan sekadar tiupan angin biasa, melainkan hembusan harapan yang telah lama terpendam, kini mulai menampakkan wujud nyata. Peletakan batu pertama perluasan Bandara Djalaluddin oleh Gubernur Gorontalo, Dr Gusnar Ismail, bukanlah seremonial semata. Ia adalah prolog dari sebuah episode panjang kerinduan spiritual Masyarakat Gorontalo dan Sekitarnya, yaitu memiliki Embarkasi Haji Penuh.
Sejatinya, cita-cita ini telah bergelayut manis dalam mimpi masyarakat Gorontalo selama belasan tahun. Silih berganti nahkoda,tiga gubernur dan tiga penjabat gubernur datang dan pergi, namun pintu langit dari tanah kelahiran sendiri seolah masih enggan terbuka lebar. Kini, di bawah Nahkoda Dr Gusnar Ismail, ikhtiar itu menemukan titik terang. Perluasan Bandara Djalaluddin adalah ayat pertama dari sebuah kitab perjuangan yang baru saja mulai ditulis.
Di balik gemericik dana Rp 40 miliar yang diraih dari Pemerintah Pusat, terdapat rencana agung yang akan mengubah wajah penerbangan di Bumi Serambi Madinah-Gorontalo. Pekerjaan utama yang akan segera mengejawantah adalah perluasan apron dan pembangunan taxiway. Sebuah langkah teknis yang mengandung makna filosofis: memperluas tempat berpijak agar pesawat berbadan lebar, bak burung raksasa yang membawa ratusan jiwa, dapat singgah dengan selamat.
Saat menancapkan batu pertama itu, Gusnar Ismail seakan sedang menancapkan tonggak sejarah. Ia berbisik tentang memori setahun silam, saat awal dilantik. Ramadan yang lalu, di tengah kekhusyukan menahan lapar dan dahaga, ia menandatangani surat pertama yang berkaitan dengan haji. “Saya harus menandatangani surat yang pertama yang berhubungan dengan haji agar embarkasi ini bisa terwujud,” kenangnya. Sebuah keputusan yang lahir dari rahim ibadah, sebuah niat yang disucikan di bulan suci, kini mulai berbuah manis.
Memang, tak ubahnya perjalanan iman, pembangunan fisik ini pun tidak luput dari rencana dan tahapan yang terukur. Tahun 2026 fokus pada perluasan apron dan taxiway. Lalu, pada 2027, giliran runway sepanjang 2500 meter diperkuat, turning pad diperlebar, dan alat bantu pendaratan dioptimalkan. Semua bermuara pada satu target: tahun 2028, Bandara Djalaluddin akan resmi berdenyut sebagai embarkasi haji penuh, menyambut para tamu Allah yang akan berlayar menuju Tanah Suci.
Gubernur Gorontalo, Dr Gusnar Ismail pun dengan arif menjawab keraguan yang mungkin timbul. Ada yang bertanya, apakah bandara ini tidak akan sepi bak masjid di hari biasa karena hanya beroperasi saat musim haji? Dengan penuh keyakinan seorang dai yang memahami umatnya, ia menjawab bahwa pintu rezeki dan pintu ampunan seringkali berjalan beriringan. Jika embarkasi haji terwujud, maka ia akan menjadi pintu gerbang umrah. Data menunjukkan, pada tahun 2024 saja, sekitar 3.000 hingga 4.000 masyarakat Gorontalo terbang ke Tanah Suci untuk umrah, namun harus transit di Makassar atau Jakarta. Kehadiran embarkasi ini akan memendekkan jarak, meringankan beban, dan yang terpenting, menggerakkan roda ekonomi umat. “Saya yakin dan percaya, ini akan jadi embarkasi umrah. Orang berumrah dari sini akan meningkat, dan itu akan menggerakkan perekonomian kita,” ujarnya, merajut asa antara ibadah dan kesejahteraan.
Usai peletakan batu pertama, suasana sakral itu tidak lantas usai. Acara berlanjut dalam kehangatan buka puasa bersama dan diakhiri dengan tarawih berjamaah. Di sana, duduk bersama para pejabat Forkopimda, Sekdaprov, dan jajaran pengelola bandara. Sebuah pemandangan indah yang merekatkan erat simpul antara pemimpin dan rakyat, antara urusan dunia dan akhirat.
Di tanah yang terbentang di Bandara Djalaluddin itu, bukan hanya aspal dan beton yang akan terhampar. Insya Allah, di sanalah kelak akan berjejer ribuan jamaah yang hatinya bergetar menanti panggilan-Mu. Dari Gorontalo, akan berkumandang talbiah menggema, mengawali perjalanan suci menyambut Baitullah. Sebuah cita-cita yang dulunya hanya terukir dalam doa, kini mulai tertulis nyata di lembaran sejarah. Semoga Allah mudahkan segala urusan ini. Aamiin.