GORONTALO – Di ruang penyelesaian perkara Polda Gorontalo, Selasa (16/12/2025) lalu, tersaji sebuah adegan yang jarang terlihat dalam narasi politik lokal kita: seorang wakil rakyat, dengan bekas luka mungkin masih tersisa di ingatan, memilih untuk mengulurkan tangan, bukan mengepalkan tinju. Mikson Yapanto, anggota DPRD Provinsi Gorontalo yang juga Ketua Komisi II, secara resmi mencabut laporan polisi terhadap sejumlah penambang yang diduga menganiayanya. Keputusan itu lahir dari meja perundingan damai, mengubur sementara laporan tentang intimidasi dan penganiayaan yang sempat menggegerkan.
Namun, di balik tindakan hukum yang ditarik itu, tersimpan pertanyaan yang lebih dalam. Bukan sekadar tentang sebuah kasus pidana yang berakhir dengan islah, tetapi tentang posisi genting di mana politik, hukum, dan rasa kemanusiaan bertemu—seringkali dengan benturan yang keras.
Mikson, dalam pernyataannya, dengan gamblang menempatkan “pertimbangan kemanusiaan” sebagai tiang utama keputusannya. Ia bercerita tentang kehadiran istri dan keluarga para penambang, yang datang membawa serta anak-anak mereka. Bayangan itu, rupanya, lebih kuat daripada dendam. “Saya pernah mengalami musibah. Saya tahu bagaimana perasaan keluarga yang terdampak,” ujarnya. Di sini, persona politiknya sejenak luruh, digantikan oleh kesadaran personal sebagai manusia yang pernah merasakan derita.
Akan tetapi, Mikson cepat menegaskan batas yang tak boleh kabur. Pencabutan laporan, tegasnya, sama sekali bukan pembenaran. Ia menekankan bahwa para penambang telah mengakui kesalahan mereka melanggar hukum. Pernyataan ini penting; ini adalah penanda bahwa jalan damai yang ditempuh bukanlah bentuk kapitulasi atau pengabaian aturan. Ini adalah pengakuan bahwa di atas meja hukum yang kaku, ada ruang untuk rekonsiliasi—tanpa menghapuskan substansi kesalahan.
Komitmennya sebagai pengawas kebijakan pun ia teguhkan. Dengan nada yang tetap vokal, ia mengingatkan bahaya pertambangan liar dan janji untuk terus mengawasi. “Satu laporan atau seribu laporan tetap harus ditindaklanjuti. Ini kepentingan masyarakat,” serunya. Kalimat itu seperti penegas bahwa peristiwa ini bukan akhir dari pengawasan, melainkan mungkin justru awal dari sebuah pendekatan yang lebih kompleks: mengawasi dengan ketegasan hukum sekaligus memahami denyut nadi sosial di lapangan.
Proses ini tidak berjalan sendirian. Kehadiran Rachmat Gobel, Anggota DPR RI sekaligus Ketua DPW Partai NasDem Gorontalo, memberi dimensi lain. Dukungannya terhadap langkah Mikson bukan hanya dukungan personal, tetapi juga semacam legitimasi politik. Ketika Rachmat membela tindakan sidak Mikson yang memicu insiden sebagai “kewajiban DPRD”, dan menyebut insiden itu lebih bersifat “emosional” daripada “kriminal”, ia sedang merajut narasi. Narasi bahwa konflik ini adalah benturan di lapangan yang bisa didinginkan, bukan pertarungan hukum yang harus dimenangkan.
Apa yang sebenarnya terjadi di Gorontalo ini? Di satu sisi, kita melihat tegangan klasik antara otoritas pengawasan dan aktivitas ekonomi masyarakat (yang seringkali berada di area abu-abu hukum). Di sisi lain, kita menyaksikan sebuah resolusi konflik yang mengedepankan empati dan dialog, sesuatu yang langka di tengah budaya kita yang sering mengedepankan konfrontasi.
Kesepakatan damai ini, pada akhirnya, adalah sebuah pelajaran renungan, Ia berhasil meredakan ketegangan langsung, dan mungkin membuka pintu untuk dialog yang lebih konstruktif tentang tata kelola pertambangan. Namun, ia juga meninggalkan pekerjaan rumah yang besar. Apakah jalan kemanusiaan yang dipilih Mikson bisa menjadi preseden untuk penyelesaian konflik serupa di masa depan? Ataukah ini hanya jeda sebentar sebelum ketegangan berikutnya muncul, ketika kepentingan ekonomi dan lingkungan kembali berbenturan?
Yang jelas, di ruang Polda Gorontalo siang itu, Mikson Yapanto mengajak kita semua untuk merenung: bahwa kadang, keberanian terbesar bukan terletak pada kekuatan untuk menghukum, tetapi pada kapasitas untuk memaafkan—sambil tetap tidak melupakan tugas untuk menegakkan keadilan. Sebuah pelajaran tentang kepemimpinan dan kemanusiaan yang datang dari ruang yang paling tak terduga.