Oleh: Dulwahab Mumu Nasaru (jurnalis Sulawesi) .
Dalam peta diaspora Indonesia global, komunitas Minahasa dari provinsi Sulawesi Utara menempati posisi unik dan signifikan, khususnya di Amerika Serikat. Mereka menjadi sebagai salah satu kelompok suku dengan populasi terbesar dari Indonesia di negara tersebut. Keberadaan mereka bukan sekadar fenomena demografis, melainkan hasil dari konfigurasi kompleks faktor-faktor pendorong yang melampaui sekadar motif ekonomi.dulunya dizaman kolonial Belanda, Orang Minahasa merupakan diaspora terbesar di Belanda, sejak sekitar tahun 1900an mulai Bergeser ke Amerika Serikat.
Imigran yang berasal dari Semenanjung Minahasa meliputi berbagai kabupaten seperti Minahasa, Minahasa Selatan, Minahasa Utara, Minahasa Tenggara, serta kota Manado, Tomohon, dan Bitung ini telah membentuk jejaring perantauan yang nyata. Namun, karakter komunitas ini justru ditandai oleh rendahnya tingkat koordinasi dan kelembagaan formal, serta fenomena pelemahan penguasaan bahasa Indonesia pada generasi Z.
Kondisi paradoksal ini menjadikan mereka sebagai aset strategis yang potensial, namun belum terkelola dengan optimal oleh Pemerintah Indonesia, khususnya oleh pemerintah daerah Sulawesi Utara, untuk mendorong pengembangan ekonomi dan pemberdayaan diaspora itu sendiri.
Suku Minahasa memiliki komunitas diaspora yang cukup besar di Amerika Serikat, terutama di California dan Newyork, menjadikannya salah satu kelompok etnis Indonesia terbesar di sana, yang aktif mempertahankan budaya mereka melalui gereja (GMIM), makanan khas Minahasa, dan pertemuan komunitas,
Banyak diaspora Minahasa menetap di California, membangun gereja seperti GMIM Cabang California, tempat mereka berkumpul. Tradisi pengucapan syukur warisan leluhur yang disinkretiskan dengan Kekristenan tetap dijaga.
Keberadaan diaspora Minahasa di AS tidak dapat dipahami melalui lensa tunggal. Meskipun faktor ekonomi dan pencarian peluang kerja yang lebih baik menjadi pendorong utama, akar migrasi mereka jauh lebih dalam dan bersifat sosio-historis. Pertama, adanya kesamaan jaringan agama Kristen Protestan dengan mayoritas masyarakat Amerika memberikan rasa kedekatan kultural dan kemudahan relatif dalam integrasi awal. Kedua, karakter masyarakat Minahasa yang dikenal memiliki tradisi merantau tinggi, seringkali dimotivasi oleh keinginan untuk mengakses pusat peradaban dan pendidikan terbaik. Ketiga, tidak dapat diabaikan peran faktor diskriminasi dan ketegangan politik historis di tingkat nasional, seperti yang terkait dengan identitas keagamaan Kristen serta Animisme dan peristiwa-peristiwa Politik seperti Pemberontakan Permesta, yang mungkin turut membentuk naluri untuk mencari ruang hidup yang dianggap lebih aman dan setara.
Kombinasi faktor-faktor ini menghasilkan arus migrasi yang substansial, namun cenderung bersifat individual atau berkelompok kecil, sehingga menjelaskan mengapa komunitas ini kerap tidak terkoodinir dengan rapi.
Karakteristik komunitas yang terfragmentasi dan mengalami pergeseran identitas bahasa ini melahirkan dua implikasi sosial yang saling bertautan, potensi ekonomi yang belum tergarap dan tantangan integrasi yang multidimensional.
Di satu sisi, diaspora Minahasa di AS menyimpan potensi ekonomi yang besar, baik dalam bentuk investasi, transfer pengetahuan, pengembangan jaringan pasar untuk produk lokal di indonesia, maupun kontribusi filantropis. Namun, potensi ini sulit diakses dan disalurkan secara efektif ke daerah asal akibat tidak adanya kelembagaan komunitas yang kuat sebagai mitra yang jelas bagi pemerintah daerah. Di sisi lain, tantangan integrasi ke dalam masyarakat Amerika justru diiringi dengan pelemahan ikatan kultural dengan tanah leluhur. Ketidakfasihan berbahasa Indonesia pada banyak anggota generasi kedua dan seterusnya bukan hanya sekadar persoalan komunikasi, tetapi merupakan indikator memudarnya salah satu pilar penting penanda identitas dan akses terhadap warisan budaya Minahasa-indonesia.
Hal ini memperlebar jarak antara diaspora dengan kampung halaman, sekaligus membuat upaya re-engagement dari pemerintah menjadi lebih rumit.
Oleh karena itu, pemerintah indonesia dihadapkan pada peluang sekaligus tugas yang tidak sederhana. Komunitas diaspora Minahasa di AS adalah aset sumber daya manusia dan modal sosial yang sangat berharga, namun statusnya masih “tercecer” akibat hambatan organisasi dan dinamika identitas.
Membangun jembatan yang efektif memerlukan pendekatan yang lebih sofistikated daripada sekadar seruan nasionalisme. Diperlukan inisiatif kebijakan yang proaktif dan inklusif, seperti memfasilitasi konsolidasi kelembagaan diaspora, menyelenggarakan program homecoming yang bermakna, serta merancang platform keterlibatan yang memanfaatkan keahlian dan jaringan mereka. Tanpa upaya sistematis untuk mengatasi fragmentasi internal dan menjembatani kesenjangan budaya-bahasa, potensi besar yang dimiliki diaspora Minahasa ini akan tetap menjadi aset laten yang belum dimanfaatkan, baik untuk kemajuan Indonesia dan Provinsi Sulawesi Utara maupun untuk penguatan posisi kolektif mereka di perantauan.
Terdapat beberapa gelombang diaspora Orang Minahasa di Amerika, Orang Minahasa ber diaspora ke Amerika Serikat diperkirakan mulai pada tahun 1700-an?, lewat Pelayaran Kapal Kapal Belanda dimana ada sebagian orang Minahasa dizaman Kolonial Bekerja pada perusahaan belanda.