Editorial:
Dalam gemuruh politik Gorontalo setahun ini yang kerap dipenuhi narasi Black Campaign,Tutuhiya dan perpecahan, muncul suatu telaga ketenangan di Gorontalo. Di sana, sebuah hubungan antara dua tokoh penting,Rachmad Gobel, mantan menteri dan anggota DPR RI saat ini yang disegani, dan Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail.
Seringnya silaturahmi kedua tokoh Gorontalo dalam setahun ini merupakan contoh baik dan indikator positif sebagai sebuah simfoni kolaborasi untuk kemajuan Gorontalo, Silaturahmi intens ini bisa dibilang adalah merupakan simbol Apresiasi mendalam dari Rachmad Gobel terhadap kinerja dan model kepemimpinan Gubernur Gusnar ismail yang Humanis,Kolaboratif,inklusif,Tertata sistemik,visioner,intelektual,Religius dan Merakyat ,bukan sekadar pujian biasa. Ia adalah pernyataan politik yang bernuansa, sekaligus benteng yang kokoh melawan badai propaganda para buzzer yg selalu menjatuhkan Gubernur Gusnar.
Rachmad Gobel, dengan latar belakang sebagai Pengusaha internasional,profesional, birokrat, dan politisi nasional, tentu bukan figur yang mudah terkesan. Penilaiannya lahir dari observasi mendalam dan standar yang tinggi. Ketika dalam kurun satu tahun terakhir ia secara konsisten bersilaturahmi dan berdiskusi intens dengan Gubernur Gusnar, itu adalah sebuah proses verifikasi. Dialog-dialog itu pastinya bukan sekadar basa-basi protokoler, melainkan pertukaran ide, evaluasi program, dan perencanaan strategis untuk kemajuan Gorontalo.
Dari ruang-ruang diskursus inilah Rachmad Gobel kemudian sampai pada sebuah “penilaian spesial”,sebuah terminologi yang mengisyaratkan ditemukannya sesuatu yang istimewa, unik, dan efektif dalam cara Gubernur Gusnar ismail memimpin Gorontalo ditengah badai ekonomi.
Apa yang membuat apresiasi ini begitu signifikan? Jawabannya terletak pada konteks zaman. Dalam setahun belakangan, ruang media, khususnya di dunia maya gorontalo kerap diwarnai narasi negatif dan serangan sistematis yang ditujukan untuk menjatuhkan kredibilitas Gubernur Gusnar Ismail di mata, Rakyat . Propaganda yang digerakkan oleh media buzzer itu menciptakan awan gelap persepsi, berusaha memisahkan pemimpin dari rakyatnya dengan kabar dusta dan framing yang merusak. Dalam pertarungan narasi seperti ini, suara yang paling ampuh untuk melawannya bukanlah bantahan yang emosional, melainkan Kerja Nyata dan prestasi Gubernur Gusnar yang terus berlangsung,Gusnar Ismail menjawabnya dengan kerja keras di ruang sunyi.
Di sinilah apresiasi Rachmad Gobel berfungsi sebagai “counter-narrative” yang powerful. Ia adalah penilaian independen dari seorang ahli, seorang anak daerah yang memahami kompleksitas Gorontalo namun juga memiliki perspektif nasional. Dukungannya yang nyata dan berkelanjutan terhadap Gubernur Gusnar yang terwujud dalam bentuk komunikasi langsung dan kolaborasi progran,secara efektif meruntuhkan tembok-tembok propaganda gelap yang dibuat oleh orang orang jahat.
Ketika seorang Rachmad Gobel dengan kapasitas dan jaringan luasnya memilih berdiri di sisi Gubernur Gusnar, ia mengirimkan pesan yang jelas kepada publik, bahwa kinerja pemimpin mereka valid dan Bagus.
hubungan antara Rachmad Gobel dan Gubernur Gusnar Ismail ini merupakan alegori tentang kepemimpinan yang diuji. Kepemimpinan Gubernur Gusnar diuji oleh gelombang fitnah, dan ia menjawabnya dengan kerja nyata dan Prestasi Gemiang yang diakui oleh rekan sejawatnya yang kompeten dan Oleh Rakyat Gorontalo kebanyakan.
Sementara itu, kepemimpinan Rachmad Gobel diuji oleh pilihannya untuk berpihak pada kebenaran dan kemajuan daerah, ketimbang terjerat dalam permainan politik saling menjatuhkan. Apresiasi yang lahir dari dialog intens bukanlah tanda kepatuhan, melainkan pengakuan sesama patriot daerah.
Sinergi ini memberikan pelajaran berharga: dalam demokrasi yang sehat, perbedaan peran dan posisi tidak harus melahirkan permusuhan, melainkan bisa melahirkan kesatuan visi. Apresiasi yang tulus dan berbasis bukti adalah senjata paling ampuh untuk membersihkan ruang publik dari racun buzzer dan propaganda.
Untuk Gorontalo, momen ini bukan sekadar tentang dua tokoh, melainkan tentang sebuah lanskap politik yang mulai matang, di mana pembangunan didahulukan, dan pujian maupun kritik disampaikan dengan cara yang beradab serta bertanggung jawab.
Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu,Gubernur Gusnar Terus Bekerja,Makin dihajar, makin berprestasi.