Setelah bertahun-tahun mengalami tekanan ekonomi dan diplomatik dari Barat, Iran kini dilaporkan hampir mencapai ambang kemampuan memproduksi belasan senjata nuklir. Tekanan yang berlangsung sepanjang era tiga presiden Amerika Serikat Barack Obama, Donald Trump, dan Joe Biden tidak kunjung melumpuhkan ambisi nuklir Teheran, melainkan justru memicunya melaju lebih cepat.
Berdasarkan laporan The Wall Street Journal, Iran saat ini masih menyimpan sekitar 10 ton uranium yang diperkaya. Sebagian dari material itu bahkan telah mencapai tingkat kemurnian yang nyaris setara dengan kualitas senjata nuklir. Secara kuantitatif, stok tersebut dinilai cukup untuk memproduksi hampir 11 bom nuklir.
Dalam analisis geopolitik yang dirilis World Street Journal pada Selasa (19/5/2026), disebutkan bahwa kebijakan Trump menjadi titik balik kritis. Keputusan mundur dari kesepakatan JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action) pada 2018 tanpa menyodorkan opsi konkret, ditambah dengan kegagalan pemerintahan Biden dalam menghidupkan kembali meja perundingan, telah membuat Iran saat ini menguasai stok material fisil yang cukup untuk setidaknya 11 hulu ledak nuklir.
Program nuklir Iran kini berada di fase paling genting. Setelah bertahun-tahun diplomasi mandek dan tekanan sanksi yang terus meningkat, Teheran justru memacu percepatan pengayaan uranium. Meskipun serangan militer gabungan AS dan Israel pada 2025 berhasil merusak sejumlah infrastruktur fisik, operasi itu terbukti gagal menghilangkan cadangan uranium maupun pengetahuan teknis para ilmuwan Iran—yang justru semakin memperkuat posisi tawar politik mereka.
Dalam eskalasi terbaru, Iran mengeluarkan ultimatum tegas: setiap serangan militer lanjutan dari pihak luar akan direspon dengan peningkatan pengayaan uranium hingga mencapai tingkat kemurnian 90 persen—ambang batas utama untuk produksi senjata nuklir. Secara teknis, transisi dari 60 persen ke 90 persen dinilai bukan lagi hambatan besar. Diperkirakan hanya butuh waktu empat hingga lima minggu, dengan ruang produksi yang sangat minimal sehingga hampir mustahil dideteksi melalui pengawasan satelit atau dihancurkan dengan serangan bom konvensional.
Pihak Iran mengatakan jika ada serangan baru terhadapnya,Maka Iran akan langsung Menjadikan Nuklirnya Menjadi senjata.