Oleh: dulwahab (jurnalis,Aktivis Sarekat Islam).
Ada pertanyaan fundamental tentang politik kita hari ini, apakah ia hanya sekadar perebutan kekuasaan, atau bisa menjadi jalan pengabdian? Di tengah sinisme publik terhadap kondisi politik praktis di negeri ini.
Tokoh Nasional yg juga merupakan Putra Gorontalo,Rachmat Gobel, sepertinya menawarkan jawaban dan jalan atau tafsiran alternatif tentang politik, Melalui gerak politiknya di tingkat Nasional dan Gorontalo, ia memperlihatkan bagaimana dua tradisi spiritual dan Peradaban besar dalam spiritualisme Sufi Persia dan daya juang dalam etos samurai Jepang dapat bersenyawa menjadi kekuatan transformasi sosial yang lebih nyata.
refleksi filosofis tentang bagaimana nilai-nilai luhur dari peradaban Timur dapat dihidupkan kembali dalam konteks pembangunan daerah. Rachmat Gobel, dengan latar belakang pendidikan di Jepang dan akar budaya Gorontalo yang kental dengan nilai-nilai keislaman serta Pengalaman perjalanannya di Negeri Persia, merupakan sesuatu yang unik tentang persilangan dua arus spirit tersebut.
Keikhlasan Sufi,Meleburkan Ego dalam Cinta pada Tanah Leluhur.
Dalam tradisi sufi, keikhlasan (al-ikhlas) adalah derajat tertinggi dari kesucian niat. Imam Al-Ghazali mendefinisikannya sebagai “membersihkan amal dari segala kotoran yang berkaitan dengan makhluk.” Bukan sekadar tidak mengharap pujian, tetapi juga tidak terikat pada hasil,karena hasil sejati hanyalah milik Tuhan. Jalaluddin Rumi, penyair sufi agung dari Persia, menyatakan bahwa keikhlasan adalah buah dari cinta sejati. Ketika seseorang benar-benar mencintai, ia tidak perlu memaksakan diri untuk ikhlas, keikhlasan mengalir seperti air dari mata air.
Dalam gerak politik Rachmat Gobel, kita sedang menyaksikan manifestasi dari cinta yang melahirkan keikhlasan tersebut. Sebagai putra Gorontalo , ia tidak memandang politik sebagai wahana kekuasaan semata, melainkan sebagai Wahana Pengabdian,Amanah dan Ikhtiar Pembangunan.
Semangat ini terwujud dalam Program-Program dan proyek pembangunan ekonomi kerakyatan yg lebih konkret yg telah dan sedang dirintis,dibangun oleh Rachmad Gobel di Provinsi Gorontalo. Salah satu contoh,Danau Perintis di Kabupaten Bone Bolango yang dulu sepi, gelap, dan berada di pinggir hutan ia sulap menjadi destinasi wisata dengan lampu-lampu warna-warni dan kapal Phinisi dengan biaya hingga miliaran dari kantong pribadinya. Kini, tiket masuknya menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang signifikan, dan pedagang UMKM setempat merasakan dampak ekonominya.
Di sektor ekonomi transportasi Gorontalo, melalui PT Anggrek Gorontalo Internasional Terminal (AGIT), ia meluncurkan program Internasionalisasi Transportasi Gorontalo yg membuat Mudah semua Komoditas pertanian dan barang untuk keluar masuk Gorontalo,dan Hari ini sedang dibangun Program Pertanian Penanaman Holtikultura seperti Coklat,Kopi,Kacang,Bambu dan lainnya untuk dipasok di pabrik-pabrik produsen pangan nasional dan internasional.
Ini adalah samurai modern, disiplin, strategis, dan berorientasi pada hasil yang nyata. Ia tidak sekadar berbicara tentang kemajuan, tetapi bergerak langsung ke medan,menyentuh problem riil warga Gorontalo.
Pada titik inilah keikhlasan sufi dan semangat samurai bertemu. Ikhlas tanpa daya juang akan menjadi pasif,sebuah pelarian dari realitas. Daya juang tanpa keikhlasan akan menjadi ambisi yang menghancurkan,baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Rachmat Gobel menunjukkan bahwa keduanya dapat bersenyawa, keikhlasan memberikan ketenangan batin saat hasil tidak sesuai harapan, sementara daya juang memberikan energi untuk terus bergerak tanpa henti.
Sintesis ini paling jelas terlihat dalam Visi yang ia canangkan sejak terpilih sebagai Anggota DPR RI,sebuah rencana jangka panjang untuk menjadikan Gorontalo sebagai provinsi termakmur di Indonesia,Sebuah Cita cita dan impian mulia yg harus terus didukung dan dijaga semangatnya, Visi ini berfokus pada tiga pilar,pertanian, perikanan/kelautan, pendidikan , didukung oleh pariwisata dan UMKM.
Apa yang membuat Visi ini istimewa? Ia adalah proyeksi yang melampaui kepentingan pribadi, melampaui partai, bahkan melampaui masa hidup Rachmat Gobel sendiri. Inilah puncak dari keikhlasan, bekerja untuk generasi yang bahkan belum lahir, (anak cucu).
Tahun 2026 ini Rachmat Gobel terus membawa optimisme, cahaya dan bibit-bibit kemajuan. tantangan Gorontalo hari ini tentu saja ada ,salah satunya persentase penduduk miskin yg masih banyak, beberapa pengamat mencatat itu, Namun Rachmat Gobel tidak hilang semangat dan tetap penuh optimisme, Ia terus menyerukan transformasi dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi industri, serta hilirisasi komoditas agar nilai tambah dinikmati rakyat.
Catatan Perjalanan Politik Rachmad Gobel bukanlah kisah tentang seorang pahlawan super yang sempurna. Ia adalah Realitas tentang seorang manusia biasa yang memilih untuk mengabdikan usianya bagi kampung halamannya,Tanah Leluhurnya lewat jalan Politik,Menurutnya Politik bukan sekedar Pragmatisme Kekuasaan belaka,Tapi Politik haruslah untuk Pembangunan. Inilah puncak dari keikhlasan: bekerja untuk generasi yang bahkan belum lahir.
Dan inilah pelajaran bagi kita semua. Bahwa untuk membangun negeri ini,Khususnya Gorontalo, kita tidak perlu menunggu menjadi presiden atau menteri, Kita bisa memulai dari hal-hal kecil,menyumbangkan air bersih bagi tetangga yang kesulitan, memperbaiki satu fasilitas umum yang rusak, atau sekadar memberikan perhatian pada mereka yang termarjinalkan. Yang diperlukan hanyalah dua hal,keikhlasan yang lahir dari cinta, dan daya juang yang tidak pernah padam.
Seperti kata pepatah samurai dalam Hagakure: “Jalan seorang kesatria adalah kematian.” Bukan kematian fisik, tetapi kematian bagi ego, bagi ambisi pribadi, bagi rasa lelah dan putus asa. Dan seperti kata Rumi: “Kamu terlahir dengan sayap, mengapa lebih memilih merangkak sepanjang hidup?”
Rachmat Gobel telah memilih untuk terbang dengan sayap keikhlasan dan baja semangat samurai. Di Gorontalo, ia telah menunjukkan bahwa politik dapat menjadi jalan pengabdian tertinggi untuk Pembangunan dan Kemajuan Gorontalo. Kini, giliran kita untuk melakukan hal yang sama, di medan perjuangan masing-masing.
Bersambung…