Dalam peta politik elektoral Indonesia, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang dibesut langsung oleh Jokowi sering diidentikkan dengan narasi modern, progresif, dan target pemilih anak muda urban. Namun, perjalanan partai ini untuk memperluas pengaruh hingga ke tingkat akar rumput semakin menemui tantangan kompleks. Salah satu penghalang terberat yang kini mengemuka adalah lahirnya Partai Gerakan Rakyat (PGR) yang dibina langsung oleh Anies Baswedan, mantan calon presiden 2024. Dinamika ini tidak hanya sekadar persaingan antar partai baru, tetapi lebih mencerminkan perebutan ruang politik yang lebih fundamental: perebutan legitimasi, basis emosional, dan struktur loyalitas di tingkat masyarakat yang paling dasar.
PSI, dalam upaya ekspansinya, memang telah melakukan berbagai operasi politik, termasuk merekrut sejumlah tokoh yang dikenal sebagai pendukung Anies Baswedan, seperti Ahmad Ali dan Bestari Barus dan lainnya, Langkah ini strategis dalam logika politik elektoral tradisional, yaitu mengakuisisi figur untuk menarik massa mereka.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pendekatan tersebut tidak serta-merta berhasil memindahkan loyalitas massa yang solid. Basis pemilih dan relawan Anies di akar rumput, yang terbentuk selama Pilkada DKI jakarta 2017 dan mengkristal pada Pilpres 2024, ternyata telah memiliki “penjaga” dan telah “bertuan”. Mereka bukanlah massa mengambang yang mudah dialihkan dengan keberpindahan beberapa elit. Relawan-relawan ini terikat oleh nilai, narasi perjuangan, dan ikatan emosional dengan figur Anies sendiri, yang telah dibangun melalui interaksi langsung dan frame oposisi yang kuat selama bertahun-tahun kepada Jokowi.
Fenomena PGR (Gerakan Rakyat) hadir sebagai institusionalisasi alami dari ikatan emosional dan politik ini. Partai ini bukan lahir dari vacuum, melainkan dari rahim gerakan akar rumput yang sudah hidup, tersebar, dan teruji loyalitasnya. Data politik Pilpres 2024 menjadi bukti nyata kekuatan tersebut: Anies berhasil meraih sekitar 41 juta suara (25%) pemilih dalam sebuah kontestasi yang oleh banyak pengamat dianggap sebagai pertarungan “nilai” yang relatif bersih dari intervensi politik uang dan bansos massif. Angka ini merepresentasikan sebuah blok pemilih murni (pure votes) yang besar, teredukasi secara politik, dan memiliki komitmen ideologis tertentu. Blok inilah yang menjadi lahan subur dan sekaligus benteng pertahanan bagi PGR (Partai Gerakan Rakyat). Mereka tidak hanya sekadar pemilih, tetapi juga kadernya.
Dengan demikian, PSI kini menghadapi dinding yang sangat kokoh. Tantangannya menjadi multidimensi: pertama, secara ideologis, PSI harus berhadapan dengan sebuah gerakan yang juga mengusung narasi perubahan dan anti kemapanan, namun dengan akar kultural dan agama yang lebih dalam di masyarakat basis. Kedua, secara organisasional, PSI harus bersaing dengan struktur relawan yang sudah ada, yang mungkin lebih organik dan memiliki kedalaman penetrasi di RT/RW. Ketiga, secara elektoral, sebagian dari pemilih muda potensial PSI mungkin tumpang tindih dengan pemilih Anies yang lebih termotivasi oleh isu-isu keadilan dan pemerataan, sehingga terjadi fragmentasi di dalam suara oposisi atau kelompok perubahan itu sendiri.
perkembangan PSI ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuannya membaca ulang lanskap politik akar rumput yang telah berubah. Keberhasilan PSI merekrut beberapa tokoh pendukung Anies adalah kemenangan taktis di permukaan, tetapi pertarungan yang sesungguhnya berada di level bawah: meraiuh hati dan pikiran masyarakat yang sudah terstruktur dan memiliki kesadaran politik tinggi. Persaingan dengan PGR akan menguji kedewasaan politik PSI: apakah mampu membangun narasi yang benar-benar berbeda dan menyentuh kebutuhan riil di tingkat bawah, ataukah hanya akan tetap menjadi partai dengan citra modern yang terkonsentrasi di pusat-pusat kota.
Dalam politik elektoral Indonesia yang semakin kompetitif, penguasaan akar rumput bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Dan di sanalah, PGR yang dibidani Anies, saat ini memiliki modal awal yang jauh lebih konkret. Persaingan ini akan menjadi salah satu cerita paling menarik dalam mematangkan demokrasi Indonesia menuju Pemilu 2029.