Editorial:
Di tengah hiruk-pikuk politik praktis yang kerap kali hanya bergema setiap lima tahun sekali, sebuah langkah menyejukkan datang dari Gorontalo. Bukan sekadar janji, bukan pula seruan kosong. Dewan Pimpinan Wilayah Partai NasDem Provinsi Gorontalo baru saja menorehkan babak baru dalam politik pembangunan yang berpihak. Pada 12 April 2026, di Kota Sukabumi, Jawa Barat, mereka menandatangani Perjanjian Kerja Sama dengan Lembaga Wakaf Doa Bangsa (LWDB) untuk meluncurkan sebuah program visioner: “Dana Abadi Rakyat Gorontalo.”
Program ini bukanlah program musiman. Ia adalah fondasi ekonomi berkelanjutan yang dirancang untuk menopang sektor-sektor strategis,pendidikan, kesehatan, pertanian, hingga kelautan. Inilah tulang punggung ekonomi rakyat Gorontalo yang selama ini menunggu denyut nadi baru.
Menghidupkan Kembali Identitas sebagai Gerakan Ekonomi
Bagi masyarakat Gorontalo, sebutan Serambi Madinah bukanlah sekadar nostalgia sejarah. Ia adalah cita-cita luhur tentang peradaban yang berkeadilan. Sekretaris DPW NasDem Gorontalo, Ridwan Monoarfa, menyadari betul itu. “Kita ingin Serambi Madinah bukan sekadar sebutan romantisme budaya, tetapi hadir dalam bentuk sistem ekonomi yang berpihak pada rakyat,” ujarnya optimis.
Melalui dana abadi yang dikelola dengan prinsip wakaf produktif, NasDem Gorontalo hendak membangun kemandirian ekonomi. Sebuah keberanian untuk mengatakan: masyarakat tidak harus terus-menerus menggantungkan hidup pada anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) atau utang pembangunan yang membelenggu.
Lebih dari Sekadar Bantuan Sosial
Yang membuat program ini istimewa adalah fondasinya yang berbeda dari skema bantuan sosial konvensional. Jika bansos biasanya habis dalam sekali seremonial, Dana Abadi Rakyat Gorontalo justru abadi. Prinsip wakaf yang digunakan menjaga pokok dana tetap utuh, sementara hasil kelolaannya terus mengalir untuk kepentingan publik lintas generasi. Petani mendapat akses permodalan, nelayan bisa memperbaiki alat tangkap, dan UMKM mendapatkan ruang bernapas. Semua berkelanjutan. Semua tumbuh.
Ridwan menyebut ini sebagai bentuk nyata dari “Politik Pembangunan.” Sebuah konsep yang ingin menunjukkan bahwa partai politik tidak hanya hadir saat pemilu untuk memanen suara, tetapi hadir untuk menanam manfaat. “Melalui institusi sosial-ekonomi yang nyata bagi petani, nelayan, dan pelaku UMKM,” tegasnya.
Inspirasi dari Putra Daerah
Tak bisa dipungkiri, semangat program ini juga menyerap visi besar salah satu tokoh nasional asal Gorontalo, Rachmat Gobel. Sosok yang dikenal konsisten mendorong pembangunan berbasis potensi daerah dan kemandirian rakyat. Maka, langkah ini adalah keberlanjutan dari sebuah filosofi: bahwa kekuatan sejati sebuah daerah tidak terletak pada melimpahnya utang luar negeri, tetapi pada kemampuannya mengelola solidaritas warganya secara cerdas.
Ke depan, pengelolaan dana ini akan dilakukan secara profesional. Dengan standar tata kelola modern, audit berkala, dan sistem digital yang transparan, kepercayaan publik akan terjaga. Wakaf tak lagi kuno dan birokratis; ia bisa menjadi mesin kesejahteraan modern.
Optimisme dari Timur Indonesia
Dengan inisiasi ini, Gorontalo tidak hanya sedang membangun desa atau kota. Ia sedang membangun sebuah percontohan untuk kawasan timur Indonesia. Ekonomi sosial berbasis wakaf bukanlah utopia. Ia adalah kenyataan yang sedang dirintis dengan penuh optimisme.
Yang terpenting, program ini membuktikan satu hal,ketika partai politik berani keluar dari zona kekuasaan semu dan masuk ke zona pemberdayaan, maka solidaritas rakyat yang diorganisasi secara cerdas bisa menjadi motor penggerak kesejahteraan yang tangguh. Gorontalo sedang berbisik kepada Indonesia: kesejahteraan abadi tidak dimulai dari bagi-bagi amplang, tetapi dari menanam dana abadi untuk semua.
Editor: dulwahab