Editorial:
Di balik hiruk-pikuk persiapan menyambut hari Raya idul Fitri, Kementerian Perhubungan tak hanya sibuk dengan peta raksasa arus mudik di Jawa. Perhatian mereka juga tertuju pada sebuah provinsi di ujung utara Sulawesi,Gorontalo.
Pada Jumat (27/2/2026) lalu, di ruang VIP terminal lama Bandara Djalaludin yang sederhana, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi duduk bersama para pemangku kepentingan daerah. Bukan sekadar seremoni, pertemuan itu adalah bentuk atensi serius terhadap denyut mobilitas di “Bumi Serambi Madinah”.

Angkanya tidak main-main. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, sedikitnya 340 ribu jiwa diprediksi akan bergerak menuju Gorontalo untuk Mudik, merayakan Lebaran tahun ini. Sebuah jumlah yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan populasi provinsi itu sendiri. “Kita tidak bisa memandang sebelah mata,” tegas Menhub Dudy di hadapan jajaran forum koordinasi pimpinan daerah. Lebih dari sekadar angka, 340 ribu adalah kisah tentang rindu yang menempuh perjalanan panjang, tentang ekonomi yang berputar, dan tentang tantangan logistik yang harus diurai.
Gorontalo, bagi Menhub, memiliki karakteristik khusus yang tak bisa disamakan dengan daerah lain. Mobilitas penduduk tidak hanya terkonsentrasi di bandara, tetapi juga tersebar di titik-titik penyeberangan yang menjadi urat nadi penghubung antarwilayah. “Kami turun langsung untuk melihat simpul-simpul transportasi, memastikan semuanya siap,” ujarnya. Kunjungan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah pusat memahami kompleksitas geografis dan tantangan tersendiri yang dihadapi daerah kepulauan dalam mengelola gelombang mudik.
Secara nasional, grafik pemudik memang menunjukkan sedikit penurunan. Survei Kementerian Perhubungan memprediksi pergerakan nasional mencapai 143 juta orang, turun 1,75 persen dari tahun sebelumnya. Namun, Menhub Dudy mengingatkan agar kewaspadaan tidak ikut surut. “Penurunan statistik jangan membuat kita lengah. Lonjakan tak terduga seperti yang terjadi di tahun 2025 bisa saja terulang di titik-titik tertentu,” pesannya, menginstruksikan jajarannya untuk tetap siaga.
Yang menarik, pembahasan dalam rapat koordinasi itu tidak berhenti pada arus kendaraan di jalur utama. Menteri Dudy dengan cermat menyoroti fenomena lokal yang khas Gorontalo. Tradisi malam Qunut, keramaian pasar Senggol, perayaan Tumbilotohe (festival lampion tiga malam menjelang Idul Fitri), hingga tradisi Lebaran Ketupat dan gelombang kunjungan wisata, dianggap sebagai variabel penting yang bisa memengaruhi kelancaran lalu lintas.
“Kegiatan-kegiatan lokal ini harus mendapat perhatian serius. Jangan sampai perayaan yang sakral dan meriah ini justru menjadi hambatan bagi pengguna jalan atau menimbulkan titik-titik kemacetan baru,” imbuhnya. Arahan ini menunjukkan pendekatan yang holistik, di mana perencanaan transportasi tak bisa dipisahkan dari mozaik budaya dan tradisi masyarakat setempat.
Untuk mengawal semua itu, pemerintah akan mengaktifkan Posko Angkutan Lebaran terpadu mulai 13 hingga 30 Maret 2026. Posko ini bukan sekadar tempat memantau, melainkan simbol sinergi. “Harapannya, ada sinergi kuat antara pemerintah pusat dan daerah, TNI, Polri, dan seluruh pemangku kepentingan. Kelancaran arus mudik dan balik adalah tanggung jawab kita bersama,” tutur Dudy.
Embarkasi Haji Gorontalo dan PENAS 2026.
kehadiran orang nomor satu di sektor perhubungan ini disambut dengan rasa syukur oleh Gubernur Gorontalo, Dr Gusnar Ismail,Menurutnya, kunjungan ini adalah buah dari komunikasi intensif yang selama ini terbangun antara pemerintah provinsi dan pusat. “Ini bukan sekadar kunjungan kerja biasa. Ini adalah dukungan nyata dan bentuk kepercayaan kepada kami untuk memantapkan pelaksanaan angkutan lebaran. Kami merasa diperhatikan,” ujar Gusnar.
di sela-sela pembahasan mudik, Gubernur Gusnar tak menyia-nyiakan momentum. Ia menyebut kehadiran Menhub Dudy sebagai saat yang strategis untuk Meminta Atensi dan dukungan penuh atas agenda-agenda besar Gorontalo ke depan seperti penetapan Embarkasi Haji Penuh bagi Provinsi Gorontalo.
Gubernur Gusnar juga menyampaikan kembali bahwa infrastruktur pendukung tengah dikebut. “Dukungan Kementerian Perhubungan sangat kami rasakan, terutama dengan telah dilaksanakannya ground breaking perluasan apron dan pembangunan taxiway baru pada 20 Februari 2026 lalu,” ungkapnya. Proyek strategis ini menjadi fondasi utama kesiapan Bandara Djalaluddin untuk berstatus embarkasi haji penuh, yang ditargetkan paling lambat tahun 2028. Status ini akan memangkas rantai perjalanan jemaah haji Gorontalo yang selama ini harus transit di bandara lain, sebuah efisiensi yang sangat dinantikan.
Tak hanya urusan haji, momen kunjungan Menteri Perhubungan ini juga dimanfaatkan untuk menyampaikan kembali pembahasan untuk dukungan moda transportasi untuk even nasional PENAS 2026. Gorontalo tengah bersiap menjadi tuan rumah Pekan Nasional Tani dan Nelayan, (PENAS) 2026. “Kami mohon dukungan penuh untuk kelancaran transportasi udara, laut, dan darat demi suksesnya PENAS nanti,” tandas Gubernur Gusnar.
Semua proposal dan harapan yang disampaikan di ruang VIP Bandara Djalaludin itu, menurut Gubernur Gusnar, bukanlah permintaan yang mendadak. Semuanya telah melalui jalur birokrasi yang benar, saat dirinya beraudiensi dengan Menhub Dudy di Jakarta pada 3 Februari 2026 lalu. Kini, di hadapan sang menteri yang datang langsung ke daerah Gorontalo.
Di ruang VIP bandara yang sederhana itu, tergambar sebuah ikhtiar besar, memastikan bahwa perjalanan 340 ribu jiwa pulang kampung berlangsung aman dan lancar, sambil di saat yang sama, menatap cakrawala lebih jauh,menjemput mimpi menjadi pintu gerbang keberangkatan jemaah haji dan tuan rumah event Nasional petani dan nelayan nasional 2026.