Editorial:
Peradaban manusia sedang berdiri di sebuah titik balik yang dramatis, di mana mesin tidak lagi sekadar alat, tetapi mitra berpikir. Kecerdasan Buatan (AI) telah menghentak kesadaran kita bukan sebagai teknologi masa depan, melainkan sebagai realitas zaman sekarang—sebuah kemajuan yang menawarkan dua pilihan tegas: beradaptasi dan melesat, atau menolak dan tergilas. Gelombang perubahan ini tidak hanya menyapu pusat-pusat metropolitan; ia merambah setiap sudut negeri, termasuk bumi serambi Madinah di utara Sulawesi, Provinsi Gorontalo. Bagi Gorontalo, momen ini bukan sekadar tantangan, tetapi peluang emas untuk melakukan lompatan katak (leapfrog), meninggalkan berbagai keterbatasan infrastruktur konvensional dan langsung mendarat di gelanggang kemajuan yang setara. Sudah saatnya provinsi yang menjunjung tinggi “Adati Hula-Hula’a To Sara’, Sara’ Hula-Hula’a To Kuru’ani” ini merangkul AI, bukan sebagai tamu asing, tetapi sebagai bagian dari denyut nadi kehidupannya.
Banyak daerah yang menganggap AI sebagai ranah elite, jauh dari realitas sehari-hari. Namun, justru di sinilah letak kekeliruan paradigma. AI bagi Gorontalo adalah katalis untuk menyelesaikan masalah-masalah klasik dengan solusi modern. Sektor pertanian dan perikanan yang menjadi urat nadi ekonomi lokal bisa mendapatkan suntikan kecerdasan baru. Bayangkan drone dengan visi komputer yang memantau kesehatan tanaman jagung atau padi di luasannya, memberikan peringatan dini tentang serangan hama atau kekurangan unsur hara. AI dapat menganalisis data cuaca, suhu air, dan pola migrasi ikan untuk membantu nelayan menentukan lokasi melaut yang optimal, mengurangi risiko dan meningkatkan tangkapan. Dengan demikian, AI bukan menggantikan kearifan lokal petani dan nelayan Gorontalo, melainkan memperkuatnya dengan data dan prediksi yang akurat, mengubah kerja keras menjadi kerja cerdas.
Lebih jauh, dalam sektor pendidikan dan pelayanan publik, AI adalah jembatan untuk pemerataan dan peningkatan kualitas. Ketimpangan akses terhadap guru berkualitas atau informasi kesehatan dapat dipersempit dengan kehadiran platform edukasi berbasis AI yang dapat beradaptasi dengan kecepatan belajar setiap anak di pelosok Limboto atau Tilamuta. Chatbot layanan publik berbahasa Gorontalo atau Indonesia dapat membantu warga mengurus dokumen administratif 24 jam, mengurangi biaya dan waktu perjalanan. AI juga bisa menjadi penjaga warisan budaya; dengan kemampuan pemrosesan bahasa alami, AI dapat membantu mendokumentasikan, mentranskripsi, dan bahkan mengajarkan aksara serta sastra lisan Gorontalo kepada generasi muda, melestarikan identitas di tengah arus globalisasi.
Namun, lompatan ini memerlukan pijakan yang kokoh. Provinsi Gorontalo tidak bisa sekadar menjadi konsumen pasif teknologi. Beberapa langkah strategis harus segera diinisiasi. Pertama, membangun infrastruktur digital dasar—jaringan internet berkecepatan tinggi dan stabil yang menjangkau seluruh wilayah—adalah prasyarat mutlak. AI hidup dari data, dan data mengalir lewat konektivitas. Kedua, investasi terbesar harus ditujukan pada manusia, bukan hanya pada perangkat keras. Program literasi digital dan pelatihan keterampilan AI dasar bagi pelajar, guru, petani, pelaku UMKM, dan ASN harus menjadi prioritas. Tujuannya adalah menciptakan mindset adaptif dan membangun talenta lokal yang mampu menjadi driver transformasi. Ketiga, Pemerintah Daerah perlu menjadi contoh dengan menerapkan smart governance, menggunakan AI untuk analisis data perencanaan pembangunan, pemantauan proyek, dan pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence-based policy).
Memang, kekhawatiran akan hilangnya lapangan kerja atau terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan selalu menyertai inovasi besar. Namun, sejarah membuktikan bahwa setiap revolusi teknologi menciptakan lebih banyak lapangan kerja baru daripada yang hilang—dengan syarat ada kesiapan untuk bertransisi. Adaptasi adalah kuncinya. Pemuda Gorontalo yang mahir teknologi tidak harus pergi ke kota besar; mereka bisa menjadi data analyst untuk perkebunan kelapa, drone operator untuk sektor pertanian, atau developer aplikasi lokal yang memecahkan masalah komunitasnya. AI harus dilihat sebagai amplifier potensi lokal, alat untuk memperbesar dampak dari kerja, kreativitas, dan semangat kewirausahaan masyarakat Gorontalo.
Pada akhirnya, menerima AI bukan berarti menanggalkan identitas. Justru sebaliknya. Semangat “Hulontalo” yang berarti “daratan yang terdiam” tidak lagi relevan dalam konteks pasif. Dengan AI, daratan ini bisa “berbicara” dan “bertindak” dengan data. “Dila To Bongo, Hulontalo” bukan lagi sekadar simbol, tetapi cerminan dari masyarakat yang cerdas dan terinformasi. Masa depan bukanlah takdir yang ditunggu, melainkan pilihan yang direncanakan. Gorontalo berada di persimpangan jalan: tetap berjalan dengan kecepatan zaman lampau, atau memacu lari dengan kecepatan cahaya data bersama AI. Pilihan untuk hidup bersama AI hari ini adalah pilihan untuk memastikan bahwa Gorontalo tidak menjadi penonton di pinggir sejarah, melainkan menjadi pelaku utama yang ikut menulis babak baru kemajuan, dengan kecerdasan buatannya, namun dengan kearifan budayanya yang tak tergantikan. Lompatan itu harus dimulai sekarang.